Kemenpora Buka Peluang Atlet Tampil Mandiri di SEA Games 2025
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memberikan kesempatan bagi atlet yang ingin tampil secara mandiri dalam ajang SEA Games 2025 di Thailand. Syarat utama untuk bisa mengikuti kompetisi ini adalah memiliki potensi meraih medali. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono.
Menurut Surono, prinsip utama pengiriman atlet ke SEA Games 2025 adalah berdasarkan prestasi. “Kuncinya, kami mengirim atlet terbaik yang punya peluang meraih medali,” ujarnya saat berbicara di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa, 21 Oktober 2025.
Surono menjelaskan bahwa Kemenpora telah menjalankan pelatihan nasional (pelatnas) untuk 48 cabang olahraga. Beberapa dari cabang tersebut akan mengirimkan atlet secara mandiri, seperti cabang kriket. “Misalnya kriket, mengirim atlet putra dan putri. Tapi yang putra dibiayai mandiri,” jelasnya.
Selain kriket, pelatnas juga dilakukan untuk cabang baseball dan softball. Menurut Surono, beberapa pengurus cabang olahraga berencana menambah jumlah atlet putri dengan pembiayaan mandiri. Namun, keputusan akhir tetap harus melalui koordinasi antara federasi dan Kemenpora. “Kalau punya peluang meraih medali, ya tetap kami berangkatkan. Tapi kalau tidak, kecil kemungkinan diberangkatkan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa atlet yang berangkat secara mandiri dan berhasil meraih medali tidak akan menerima bonus dari pemerintah karena tidak diatur dalam mekanisme keuangan negara. “Khusus yang mandiri, mohon maaf, kemungkinan tidak mendapat bonus. Namun bisa dipertimbangkan masuk pelatnas untuk SEA Games berikutnya,” katanya.
Persiapan dan Regulasi yang Jelas
Sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyatakan bahwa pihaknya mempersilakan federasi olahraga yang ingin mengirim atlet secara mandiri ke SEA Games dengan biaya sendiri. “Sudah saya sampaikan, kalau ada PB yang ingin mengirim atlet secara mandiri, silakan. Tinggal kita sepakati mekanismenya,” ujar Erick di Jakarta.
Erick menjelaskan bahwa kesepakatan ini penting agar tidak menimbulkan anggapan pemerintah abai terhadap atlet berprestasi. Menurutnya, pemberian bonus bagi atlet mandiri belum diatur dalam regulasi, tetapi hasil positif mereka bisa menjadi pertimbangan untuk membuat program jangka panjang.
Peluang Masuk Desain Besar Olahraga Nasional (DBON)
Erick menambahkan bahwa federasi yang mengirim atlet mandiri dan menorehkan prestasi di SEA Games akan berpeluang masuk dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), yaitu daftar cabang olahraga prioritas pembinaan jangka panjang.
Saat ini, cabang prioritas dalam DBON meliputi bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, panahan, menembak, wushu, karate, taekwondo, balap sepeda, renang, atletik, senam artistik, pencak silat, dan dayung. Namun, daftar ini bersifat dinamis dengan adanya sistem promosi dan degradasi. “Ini yang harus kita selaraskan,” ucap Erick.
Strategi Pembinaan Olahraga yang Berkelanjutan
Dengan adanya kebijakan ini, Kemenpora dan federasi olahraga berupaya memastikan bahwa semua atlet yang bertanding di SEA Games 2025 memiliki peluang maksimal untuk meraih medali. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia di tingkat regional dan internasional.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah dan lembaga olahraga bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada prestasi. Dengan demikian, atlet yang memiliki potensi besar dapat berkembang tanpa terbatasi oleh batasan finansial atau administratif.

















