Alreinamedia.com – Minum air berlebihan dalam waktu singkat dapat membuat kadar garam dalam darah terlalu rendah dan memicu keadaan darurat medis. Kondisi yang disebut overhidrasi ini dapat dikenali melalui perubahan frekuensi dan warna urine, rasa ingin minum terus-menerus, hingga kram otot.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan masyarakat tidak mengonsumsi lebih dari 48 ons atau sekitar enam cangkir air per jam. Batas tersebut juga perlu diperhatikan saat seseorang meminum cairan lain, termasuk minuman olahraga, sebab asupan cairan berlebih dapat mengganggu keseimbangan garam dalam darah.
Frekuensi buang air kecil bisa menjadi salah satu petunjuk. Seseorang yang minum dalam jumlah cukup umumnya buang air kecil enam hingga delapan kali sehari, sedangkan frekuensi lebih dari 10 kali dapat menjadi tanda bahwa tubuh menerima terlalu banyak cairan.
Warna urine juga dapat memberi petunjuk. Urine bening bisa menandakan tubuh sedang mengeluarkan air, sementara warna kuning terang disebut sebagai warna yang ideal oleh Mind Body Green. Jika urine tampak bening, sumber menyarankan untuk mengurangi minum dan menunggu sampai rasa haus muncul kembali.
Rasa haus biasanya menjadi sinyal tubuh membutuhkan cairan. WebMD menjelaskan bahwa tubuh menggunakan rasa haus untuk memberi tanda ketika seseorang perlu minum, sehingga keinginan mengonsumsi air terus-menerus meski tidak merasa haus dapat mengindikasikan asupan yang berlebihan. Minum ketika tubuh tidak membutuhkannya juga dapat membuat seseorang merasa lemas.
Kelebihan cairan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit, termasuk kadar sodium. Dampaknya dapat berupa kram, kelemahan, hingga kejang otot. Jika mengalami gejala tersebut, sumber menyebutkan konsumsi makanan atau minuman yang mengandung elektrolit maupun suplemen elektrolit sebagai pilihan.
Cleveland Clinic juga mencatat perubahan suasana hati, kebingungan, mudah marah, pusing, serta pembengkakan pada tangan, kaki, dan perut sebagai tanda lain yang dapat menyertai overhidrasi. Gejala-gejala itu tidak berdiri sendiri sebagai kepastian diagnosis, tetapi dapat menjadi pengingat untuk memperhatikan jumlah cairan yang diminum dan sinyal tubuh.
















