Dampak Banjir Bandang: Infrastruktur Aceh Tengah Rusak Parah, Lebih Buruk dari Tsunami
Aceh Tenggara – Bencana banjir dan banjir bandang yang melanda wilayah tengah Aceh pada Kamis, 27 November 2025, meninggalkan luka mendalam. Kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan dilaporkan jauh lebih parah dibandingkan dengan dampak bencana tsunami yang pernah terjadi pada tahun 2024. Pernyataan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, SPd, MSP, setelah melakukan peninjauan langsung ke lokasi-lokasi terdampak.
Murthalamuddin menjelaskan bahwa ia beserta rombongan telah melakukan serangkaian kunjungan ke berbagai daerah yang dilanda bencana. Tujuannya adalah untuk memantau kondisi terkini dan memastikan kelangsungan proses belajar mengajar bagi para siswa.
Perjalanan Meninjau Langsung Kerusakan
Rangkaian kunjungan dimulai pada Rabu, 27 Januari 2026, dengan menyambangi Kabupaten Aceh Utara. Keesokan harinya, Kamis, 28 Januari 2026, rombongan menjemput Menteri Pendidikan di Bandara Malikussaleh, Aceh Utara. Di wilayah ini, mereka juga menyempatkan diri untuk berkeliling dan meninjau sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terdampak.
Setelah dari Aceh Utara, rombongan melanjutkan perjalanan ke Takengon dan menginap di sana. Selama berada di Takengon, kunjungan dilanjutkan ke beberapa sekolah di wilayah Takengon dan Bener Meriah, didampingi langsung oleh Menteri Pendidikan.
Pada Kamis sore, 29 Januari 2026, Murthalamuddin melanjutkan perjalanan darat menuju Kabupaten Gayo Lues. Jumat, 30 Januari 2026, ia menghabiskan waktunya mengunjungi daerah-daerah yang terisolir, salah satunya adalah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Pining.
“Di sana, sekolah terendam material dan sebuah kampung terisolir. Ada juga kampung yang hilang, jalan-jalan utama yang putus, dan jembatan yang ambruk, seperti kerusakan jalan di kawasan Ise-ise,” ungkap Murthalamuddin, menggambarkan skala keparahan kerusakan.
Kondisi Jalan yang Memprihatinkan
Perjalanan menuju lokasi-lokasi terdampak dipenuhi dengan tantangan. Kondisi jalan yang rusak parah membuat mobilitas menjadi sangat sulit dan melelahkan. Murthalamuddin menceritakan pengalamannya saat melakukan perjalanan menggunakan mobil pickup double cabin.
Perjalanan dari Kabupaten Gayo Lues menuju Kabupaten Aceh Tenggara pada Jumat sore, 30 Januari 2026, memakan waktu yang sangat lama. Akibat banyaknya ruas jalan nasional yang rusak, termasuk di kawasan Ketambe, perjalanan yang seharusnya singkat berubah menjadi sangat memakan waktu. Rombongan baru tiba di Aceh Tenggara pada Sabtu, 31 Januari 2026, sekitar pukul 21.00 WIB.
Rehabilitasi yang Membutuhkan Waktu dan Tenaga Ekstra
Murthalamuddin menegaskan kembali bahwa tingkat kerusakan infrastruktur di wilayah Tengah Gayo ini sungguh memprihatinkan, bahkan melampaui apa yang dialami saat bencana tsunami. Kondisi jalan yang hancur, jembatan yang putus, dan fasilitas umum lainnya yang rusak berat menunjukkan betapa parahnya dampak banjir bandang kali ini.
“Kerusakan infrastruktur di wilayah Tengah Gayo ini lebih parah dari bencana tsunami. Kerusakan ini tidaklah mudah untuk dilakukan rehabilitasi karena cukup parah,” tegasnya.
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan akan memakan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat segera mengambil langkah-langkah strategis untuk memulihkan kondisi infrastruktur agar kehidupan masyarakat dapat kembali normal dan aktivitas ekonomi dapat berjalan kembali.
Daftar Kerusakan Infrastruktur Utama:
- Jalan: Banyak ruas jalan nasional dan lokal yang mengalami kerusakan parah, putus, atau tertimbun material longsor.
- Jembatan: Sejumlah jembatan, baik yang besar maupun kecil, dilaporkan ambruk atau rusak berat, menghambat akses antar wilayah.
- Pemukiman Penduduk: Rumah-rumah penduduk banyak yang terendam banjir, rusak, atau bahkan hanyut terbawa arus.
- Fasilitas Umum: Sekolah, fasilitas kesehatan, dan sarana publik lainnya juga mengalami kerusakan signifikan.
Peninjauan yang dilakukan oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh ini memberikan gambaran yang jelas mengenai skala bencana dan tantangan besar yang dihadapi dalam upaya pemulihan. Fokus utama saat ini adalah bagaimana mengatasi dampak langsung terhadap masyarakat dan merencanakan langkah-langkah pemulihan infrastruktur secara jangka panjang.















