PBNU Gelar Rapat Gabungan, Reposisi Kepengurusan dan Bentuk Panitia Munas-Harlah 100 Tahun
JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) baru saja menggelar rapat gabungan yang signifikan, mempertemukan perwakilan dari unsur Syuriyah dan Tanfidziyah. Rapat ini dipimpin langsung oleh Pejabat (Pj) Ketua Umum PBNU, Zulfa Mustofa, dan dihadiri oleh Rais Aam serta jajaran pengurus lainnya. Pertemuan ini menandai langkah awal PBNU di bawah kepemimpinan baru setelah ditetapkannya Pj Ketua Umum.
“Hari ini kami telah melaksanakan rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah untuk pertama kalinya setelah ditetapkan Pj Ketua Umum, Kiai Zulfa Mustofa,” ujar Ketua PBNU, Imron Rosyadi, yang akrab disapa Gus Im, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di kantor PBNU, Jakarta, pada hari Sabtu.
Reposisi Kepengurusan Menjadi Agenda Utama
Wakil Ketua Umum PBNU, Mohammad Mukri, menjelaskan bahwa salah satu agenda terpenting dalam rapat gabungan tersebut adalah melakukan reposisi kepengurusan. Langkah ini diambil menyusul adanya Rapat Pleno yang telah dilaksanakan sebelumnya.
“Intinya adalah melakukan reposisi, ya, reposisi kepengurusan setelah kemarin kami ada Rapat Pleno,” terang Mukri.
Muhammad Nuh Ditunjuk Sebagai Katib Aam PBNU
Perubahan paling krusial yang disepakati dalam rapat gabungan kali ini adalah penunjukan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhammad Nuh, sebagai Katib Aam PBNU. Posisi ini dianggap sangat strategis dalam roda organisasi.
“Adanya reposisi Katib Aam. Ya, jadi Katib Aam PBNU sejak hari ini tadi ditetapkan adalah Bapak Profesor Muhammad Nuh,” tegas Mukri, mengumumkan penunjukan tersebut.
Pembentukan Panitia Munas dan Peringatan Harlah ke-100 PBNU
Selain perombakan struktur kepengurusan, rapat gabungan PBNU juga menghasilkan keputusan penting lainnya, yaitu pembentukan panitia untuk dua agenda besar: Musyawarah Nasional (Munas) dan perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-100 PBNU.
Menurut Mukri, pelaksanaan Munas akan menjadi forum krusial untuk membahas berbagai hal strategis, termasuk penyelenggaraan Muktamar PBNU. Muktamar inilah yang nantinya akan menentukan Ketua Umum (Ketum) definitif PBNU.
“Munas akan fokus nanti di antaranya menyelenggarakan Muktamar, ya. Masalah tempatnya, waktu persisnya belum ditentukan,” jelas Mukri mengenai fokus utama Munas mendatang.
Rapat gabungan ini menunjukkan dinamika internal PBNU yang terus bergerak maju, mempersiapkan organisasi untuk menghadapi tantangan di masa depan serta merayakan tonggak sejarah pentingnya. Penunjukan Muhammad Nuh sebagai Katib Aam diharapkan dapat membawa angin segar dan kontribusi signifikan bagi PBNU, sementara pembentukan panitia Munas dan Harlah ke-100 menjadi bukti kesiapan PBNU dalam merencanakan agenda besar dan memastikan keberlangsungan kepemimpinan organisasi.

















