Kritik Terhadap Tayangan Trans7 yang Dianggap Merendahkan Kiai dan Pesantren
Ketua Umum Himpunan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Tsani (HIKAM) Garut mengecam tayangan di stasiun televisi Trans7 yang dinilai menyinggung dan merendahkan kehormatan Kiai serta lembaga pesantren. Peristiwa ini terjadi pada 10 Oktober 2025, dan termasuk menyentuh sosok KH. Anwar Mansur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Menurut Ketua Umum HIKAM, tayangan tersebut telah melukai hati santri, alumni, dan masyarakat pesantren di seluruh Indonesia. Ia menyampaikan rasa sedih atas tayangan yang dianggap tidak beretika. “Sedih sekali melihat tayangan yang tidak beretika seperti itu. Sudah saatnya santri dan pesantren menyatakan sikap, menunjukkan kebesaran serta keberpihakannya terhadap nilai-nilai keulamaan dan kebangsaan. Karena dari pesantrenlah bangsa ini berdiri,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia menegaskan bahwa pondok pesantren dan para kiai bukanlah sosok yang muncul belakangan, melainkan bagian dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan serta penjaga keutuhan NKRI. “Sebelum Republik ini berdiri, pesantren dan kiai sudah ada. Mereka adalah tonggak utama perjuangan melawan penjajahan. Maka ketika kehormatan mereka dihina, itu bukan sekadar persoalan biasa — tapi penghinaan terhadap sejarah bangsa,” tambahnya.
Pernyataan HIKAM ini sejalan dengan gelombang reaksi keras dari berbagai kalangan santri dan organisasi keislaman yang menilai tayangan Trans7 tidak beretika, tidak berimbang, serta mencederai marwah pesantren dan ulama. “Tayangan mereka mungkin hanya beberapa detik, tapi luka moral yang ditimbulkan bisa abadi. Nama besar pesantren yang telah ratusan tahun berdiri dan marwah kiai sepuh diinjak oleh sensasi murahan. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.
HIKAM menyerukan kepada seluruh santri, alumni, dan masyarakat luas untuk bersatu menjaga martabat pesantren dan kehormatan para kiai. “Kiai mungkin memaafkan, tapi santri tidak akan tinggal diam. Kami menuntut pertanggungjawaban dan mendesak agar Trans7 — atau siapa pun yang terlibat — menerima sanksi sesuai etika penyiaran dan hukum yang berlaku,” pungkasnya.
Seruan moral pun digaungkan oleh HIKAM melalui tagar:
SantriBersatu
LawanPelecehanUlama
BoikotTrans7
JagaMarwahPesantren

















