Berita

KNKT: ELT ATR Hilang Kontak Akibat Tabrak Lereng

×

KNKT: ELT ATR Hilang Kontak Akibat Tabrak Lereng

Sebarkan artikel ini

Misteri Hilangnya Pesawat ATR 42-500: ELT Rusak Akibat Benturan Lereng Gunung

Sebuah pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengidentifikasi bahwa salah satu komponen krusial dalam proses pencarian, yaitu Emergency Locator Transmitter (ELT), mengalami kerusakan. Kerusakan ini diduga kuat disebabkan oleh benturan keras pesawat dengan lereng gunung saat insiden terjadi.

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengonfirmasi temuan ini. “ELT rusak akibat pesawat menabrak lereng,” ujarnya saat dihubungi. Akibat kerusakan tersebut, ELT pada pesawat nahas ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga tidak dapat memancarkan sinyal darurat yang sangat vital untuk pelacakan.

ELT, atau alat pemancar sinyal darurat, merupakan perangkat standar yang wajib terpasang pada setiap pesawat. Fungsinya adalah sebagai penentu lokasi pesawat, terutama dalam situasi darurat. Perangkat ini biasanya dipasang di bagian belakang pesawat dan dirancang untuk aktif secara otomatis ketika terjadi benturan keras, atau dapat diaktifkan secara manual melalui sakelar jarak jauh yang terhubung dengan panel kontrol di kokpit. Ketika kecelakaan terjadi, ELT akan mengirimkan sinyal marabahaya pada frekuensi tertentu untuk memudahkan tim penyelamat menemukan lokasi pesawat.

Baca Juga :  Negara Baru Lolos Piala Dunia, Dua dari Asia

Meskipun demikian, Soerjanto menekankan bahwa penyebab utama hilangnya kontak pesawat ATR ini masih dalam penyelidikan. “Penyebabnya belum, masih terlalu dini,” tegasnya, mengindikasikan bahwa investigasi masih berada pada tahap awal.

Upaya Pencarian yang Terkendala Cuaca

Sementara itu, Badan SAR Nasional (Basarnas) terus berupaya keras melakukan pencarian terhadap pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak. Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii, menyatakan bahwa pencarian melalui udara kembali dilanjutkan pada hari Sabtu, 17 Januari 2026. Keputusan ini diambil setelah pencarian pada hari sebelumnya tidak dapat dilakukan secara maksimal akibat kondisi cuaca yang buruk di sekitar area pencarian di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

“Setelah terbang di sana, memang karena kondisi cuaca yang in-out nabrak awan keluar awan, sehingga pencarian dari udara belum maksimal dan akan dilanjutkan besok pagi,” jelas Syafii dalam sebuah kesempatan. Ia menambahkan bahwa pencarian udara di malam hari juga cenderung tidak efektif, sehingga fokus diarahkan pada siang hari.

Baca Juga :  Miliki Komite Disabilitas, Stafsus Presiden Angkie Yudistia Apresiasi Pemprov Bali

Di samping upaya pencarian udara, tim SAR bersama dengan masyarakat setempat juga terus melakukan pencarian melalui jalur darat. Sinergi antara tim penyelamat profesional dan partisipasi aktif masyarakat menjadi salah satu kunci dalam upaya menemukan pesawat dan para penumpangnya.

Kronologi Hilangnya Kontak Pesawat

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat melintasi wilayah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Januari 2026. Pesawat ini lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dengan tujuan akhir Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Berdasarkan jadwal penerbangan yang telah ditetapkan, pesawat tersebut seharusnya mendarat di Makassar sekitar pukul 12.20 WITA. Namun, hingga melewati batas waktu pendaratan yang seharusnya, pesawat belum juga tiba di tujuan. Keberadaannya tidak dapat dipastikan, yang kemudian memicu laporan hilangnya kontak dan dimulainya operasi pencarian besar-besaran.

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya sistem komunikasi dan pelacakan penerbangan yang andal, serta perlunya investigasi mendalam untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Fokus utama saat ini adalah menemukan pesawat dan memastikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam insiden ini.