Tahun 2025 menandai periode yang penuh kontradiksi dalam upaya global menghadapi krisis iklim. Di satu sisi, emisi gas rumah kaca global terus menunjukkan tren peningkatan, dan banyak negara masih jauh dari target penurunan emisi yang ambisius, mengancam upaya pencegahan pemanasan global yang lebih parah. Kebijakan sejumlah pemimpin dunia, termasuk penarikan diri dari agenda iklim dan penolakan terhadap transisi energi bersih, semakin memperjelas stagnasi dalam tataran kebijakan.
Namun, di balik tantangan kebijakan dan tekanan politik tersebut, tahun 2025 juga mencatat sejumlah kemajuan monumental yang memberikan secercah harapan dalam upaya dekarbonisasi global. Secara struktural, dunia bergerak lebih cepat menuju ekonomi rendah karbon dibandingkan satu dekade lalu. Investasi global pada sektor energi bersih, mulai dari energi surya, angin, teknologi baterai, hingga penguatan jaringan listrik, diproyeksikan akan mencapai rekor baru senilai US$2,2 triliun. Arus modal yang besar ini mencerminkan perubahan fundamental yang sedang terjadi dalam sistem energi global, meskipun belum sepenuhnya memadai untuk menahan laju pemanasan global.
Kemajuan Struktural Menuju Ekonomi Rendah Karbon
Meskipun belum cukup untuk mengamankan planet ini dari dampak terburuk perubahan iklim, kemajuan yang dicapai pada tahun 2025 patut diapresiasi. Dibandingkan dengan arah yang dituju sepuluh tahun lalu, perkembangan saat ini merupakan lompatan signifikan. Tahun ini juga menjadi tonggak penting ketika kapasitas pembangkit energi terbarukan mencapai rekor baru, harga baterai menjadi semakin terjangkau, dan upaya perlindungan terhadap laut lepas memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) telah mempercepat laju riset iklim dan meningkatkan akurasi prakiraan cuaca. Di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata, masyarakat dan perekonomian global kini memiliki lebih banyak instrumen untuk memitigasi risiko yang muncul.
Berikut adalah rangkuman kemajuan signifikan dalam aspek iklim yang tercatat pada tahun 2025:
Booming Investasi Energi Bersih
Investasi global pada teknologi bersih kini jauh melampaui pendanaan yang dialokasikan untuk industri berbasis bahan bakar fosil. Rasio investasi menunjukkan bahwa untuk setiap dolar yang dialokasikan untuk proyek energi fosil, sekitar dua dolar mengalir ke sektor energi bersih. Di negara-negara penghasil emisi terbesar di dunia, seperti China, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan India, rasio ini bahkan mencapai US$2,6.
Pada paruh pertama tahun 2025, aliran dana ke sektor energi terbarukan kembali mencetak rekor, meningkat 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai US$386 miliar, menurut perhitungan BloombergNEF. Pertumbuhan kapasitas energi surya dan angin bahkan mampu memenuhi seluruh tambahan kebutuhan listrik global pada tiga kuartal pertama tahun 2025.
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kapasitas energi terbarukan telah tumbuh rata-rata hampir 30%. Laju pertumbuhan ini menempatkan dunia pada jalur yang relatif dekat untuk melipatgandakan kapasitas energi bersih pada tahun 2030.
China menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ini, berkontribusi sekitar dua pertiga dari total penambahan kapasitas energi surya dan angin global sepanjang tahun 2025. Perkembangan signifikan juga terlihat di sejumlah negara di Asia, Eropa, dan Amerika Selatan, menunjukkan tren global yang positif.
Peran AI dalam Mempercepat Transisi Iklim
Lonjakan kebutuhan listrik yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) secara paradoks turut menghidupkan kembali minat investasi pada teknologi hijau. Sepanjang tiga kuartal pertama tahun 2025, investasi global untuk teknologi bersih, yang didominasi oleh reaktor nuklir generasi baru, energi terbarukan, dan solusi pendukung pusat data, telah melampaui total investasi sepanjang tahun 2024. Angka ini menandai kenaikan tahunan pertama sejak puncaknya pada tahun 2022.
Antusiasme pasar ini juga mendorong peningkatan investasi pada infrastruktur jaringan listrik, yang merupakan tulang punggung transisi energi global. Selain itu, AI memainkan peran krusial dalam menghadirkan solusi iklim baru, mulai dari optimalisasi rute kendaraan listrik otonom, perlindungan infrastruktur vital dari cuaca ekstrem, hingga pemantauan keanekaragaman hayati dan peningkatan akurasi prakiraan cuaca.
Penurunan Harga Baterai Mendorong Elektrifikasi
Salah satu hambatan utama dalam elektrifikasi, yaitu harga baterai yang mahal, terus mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2025, harga baterai per kilowatt-jam (kWh) turun sebesar 8%, mencapai rekor terendah di US$108, dan diproyeksikan akan terus menurun pada tahun 2026. Penurunan ini didorong oleh peningkatan efisiensi manufaktur, penggunaan formulasi kimia yang lebih murah, serta kelebihan kapasitas produksi global.
Turunnya harga baterai secara langsung memperbaiki keekonomian berbagai produk, mulai dari kendaraan listrik hingga sistem penyimpanan energi skala besar. Penyimpanan energi dianggap sebagai kunci untuk menampung listrik yang dihasilkan dari pembangkit surya dan angin, lalu menyalurkannya kembali saat beban puncak terjadi, sehingga meningkatkan stabilitas pasokan energi.
Kemajuan dalam Kerja Sama dan Kerangka Hukum Global
Di tengah mundurnya kebijakan iklim di beberapa negara, komunitas global tetap mencatat kemajuan penting dalam aspek kerja sama dan kerangka hukum. Perjanjian perlindungan laut lepas akhirnya memperoleh ratifikasi yang cukup, dan akan mulai berlaku pada awal tahun 2026. Keberadaan perjanjian ini akan membuka jalan bagi perlindungan sekitar 60% wilayah laut dunia yang berada di luar yurisdiksi negara mana pun.
Selain itu, Mahkamah Internasional mengeluarkan putusan penasihat yang menegaskan bahwa negara dapat dianggap melanggar hukum internasional jika tidak berupaya menahan pemanasan global pada ambang batas 1,5 derajat Celsius. Putusan ini dinilai berpotensi memperkuat tekanan terhadap pemerintah di seluruh dunia untuk meningkatkan aksi iklim mereka.
Penguatan Adaptasi Perubahan Iklim
Pendanaan untuk adaptasi terhadap perubahan iklim juga menunjukkan tren yang meningkat. Komitmen pendanaan baru diarahkan untuk memperkuat ketahanan petani, infrastruktur, dan komunitas yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Instrumen keuangan inovatif seperti obligasi bencana (catastrophe bonds) mulai dimanfaatkan tidak hanya untuk menutup kerugian yang timbul akibat bencana, tetapi juga untuk mendanai upaya pencegahan dan adaptasi terhadap cuaca ekstrem.
Secara keseluruhan, meskipun tahun 2025 menegaskan bahwa dunia masih jauh dari jalur yang aman untuk mencegah krisis iklim yang parah, tahun ini juga memperlihatkan fondasi yang semakin kuat untuk transisi energi dan adaptasi. Tantangan terbesar kini adalah memastikan bahwa laju kemajuan ini mampu mengejar urgensi krisis iklim yang terus membesar dan semakin mendesak.

















