Alreinamedia.comSebulan setelah musibah kebakaran yang menimpa rumah mereka, pasangan Anisa Rahma dan Anandito Dwis masih berupaya bangkit dan memulihkan kondisi tempat tinggalnya.
Proses renovasi pun belum berjalan sepenuhnya karena membutuhkan biaya yang cukup besar.
Saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, baru-baru ini, Anandito mengungkapkan bahwa perbaikan rumah dilakukan sedikit demi sedikit dengan memprioritaskan area yang bisa segera digunakan kembali.
“Untuk keadaan rumah memang masih belum banyak kami lakukan. Proyeknya masih memerlukan biaya yang cukup besar. Jadi kami bertahap, memaksimalkan ruangan-ruangan yang bisa diperbaiki dan bisa ditempati,” kata Anandito kepada awak media.
Kebakaran yang terjadi pada akhir April 2026 itu diketahui menyebabkan kerusakan cukup parah di sebagian besar area utama rumah mereka.
Anisa Rahma memperkirakan sekitar 80 persen bangunan terdampak, termasuk berbagai perabotan rumah tangga yang tak bisa diselamatkan.
“Kurang lebih 80 persen lah (yang terbakar). Ruang tengah, ruang utama, ruang kumpul, ruang makan,” ujar Anisa.
“Kasur pun juga semua sudah habis kecuali sisa masih ada dua,” katanya menyambung.
Anandito juga mengungkapkan bahwa dari tujuh kamar mandi yang ada di rumah tersebut, kini hanya satu yang masih dapat digunakan.
Sembari menunggu proses renovasi berjalan, mereka memilih tinggal sementara di rumah ibu Anandito bersama anggota keluarga lainnya.
“Sekarang kami masih tinggal di rumahnya Mama Dito dulu, sampai rumah yang kebakaran ini mulai bisa ditempati. Sedikit-sedikit kita renovasi,” tutur Anisa.
Mengenai awal mula kebakaran, Anisa menjelaskan bahwa api berasal dari lilin yang digunakan untuk mengusir lalat.
Saat itu, sang ibu menyalakan lilin di meja makan, namun tanpa disadari tertidur ketika lilin masih menyala.
“Awalnya itu dari lilin. Mama pasang lilin untuk usir lalat. Mungkin karena capek, akhirnya ketiduran dan lupa kalau lilin masih nyala,” imbuh mantan personel Cherrybelle ini.
Api baru diketahui sekitar pukul 02.30 WIB ketika seluruh penghuni rumah sedang terlelap. Saat itu, kondisi api disebut sudah membesar dan sulit dikendalikan.
“Pas Mama buka pintu, api sudah besar banget. Sudah sampai ke atap, hordeng, meja makan. Seluruh ruang makan sudah penuh api,” ucap Anandito.
Menurut Anandito, bantuan warga sekitar serta petugas pemadam kebakaran menjadi faktor penting yang mencegah api merembet lebih luas.
Dalam situasi panik tersebut, keluarga bahkan tak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena lebih fokus memastikan seluruh penghuni rumah berhasil dievakuasi dengan selamat.
Di tengah proses pemulihan, Anisa dan Anandito bersyukur karena kondisi psikologis kedua anak mereka terbilang baik.
Anak-anak yang masih berusia sekitar 3,5 tahun disebut tidak menyaksikan secara langsung kobaran api saat peristiwa itu terjadi.
“Kalau dibilang trauma, mungkin belum ya. Mereka masih kecil banget. Kalau ditanya sedih enggak kebakaran, jawabnya enggak, cuma ada air mata aja,” kata Anisa.
Meski demikian, Anandito mengaku dirinya masih kerap teringat pada momen ketika api melalap rumah mereka.
Apalagi, musibah tersebut datang beriringan dengan ujian lain yang harus dihadapi keluarga, termasuk kepergian sang nenek dua minggu setelah kebakaran.
“Dalam dua bulan ini banyak banget ujian. Setelah kebakaran, dua minggu kemudian nenek meninggal. Jadi memang bulan-bulan yang kami rasa lagi penuh dengan duka,” ujar Anandito.
Walau menghadapi masa-masa yang tidak mudah, pasangan ini memilih untuk tetap tegar dan saling menguatkan demi keluarga mereka.
“Insya Allah kita bisa ngelewatin semuanya dengan saling menyemangati, berdoa, dan demi anak-anak juga. Semoga semuanya bisa kembali dalam kondisi normal lagi,” imbuh Anisa.
(Alreinamedia.com/Ika Bramasti).
Baca artikel terhangat Alreinamedia.comlainnya di Google News
Ikuti dan Bergabung di Saluran Threads Alreinamedia.com

















