Aktual

Adik Keisya Levronka Jatuh dari Lantai 6: Untar Tawarkan Bantuan, Ibu Tolak Mentah-mentah

×

Adik Keisya Levronka Jatuh dari Lantai 6: Untar Tawarkan Bantuan, Ibu Tolak Mentah-mentah

Sebarkan artikel ini

Tragedi Adik Keisya Levronka: Jatuh dari Lantai 6, Kelumpuhan, dan Perjuangan Mencari Keadilan

Sebuah peristiwa tragis yang dialami oleh Lexi Valleno Havlenda, adik kandung dari penyanyi Keisya Levronka, akhirnya terkuak ke publik setelah dua tahun lamanya. Lexi mengalami kelumpuhan akibat insiden jatuh dari ketinggian enam lantai di lingkungan Universitas Tarumanegara (Untar). Sang ibunda, Levi Leonita Davies, memutuskan untuk menyuarakan kasus ini melalui media sosial setelah merasa pihak kampus bungkam dan tidak menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan persoalan.

Selama hampir dua tahun, keluarga Keisya Levronka memilih jalur kekeluargaan dan menahan diri untuk tidak mengungkap kejadian yang memilukan ini ke ruang publik. Namun, kesabaran itu akhirnya teruji. Ibu Levi memutuskan untuk membuka suara karena tidak adanya kejelasan maupun tanggung jawab yang memadai dari pihak kampus maupun organisasi mahasiswa yang terlibat. Keputusan ini diambil setelah berbagai upaya komunikasi tertutup tidak membuahkan hasil.

“Sepertinya memang harus melalui sosial media ya untuk berkomunikasi dengan kalian,” ujar Levi Leonita dalam sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya. “Mengingat sudah dua tahun berlalu begitu saja tanpa penyelesaian pasti dan kesulitan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait.”

Levi menjelaskan bahwa selama dua tahun terakhir, keluarganya telah berupaya keras untuk menyelesaikan masalah ini secara damai dan menghindari sorotan publik. Namun, upaya tersebut sia-sia. Komunikasi dasar pun terasa sangat sulit. “2 tahun bersabar mengupayakan penyelesaian secara kekeluargaan, menahan untuk tidak speak up. Jangankan jalan keluar dan penyelesaian, sekedar komunikasi saja sulit sekali. Saya hanya ibu yang mengupayakan keadilan untuk anak saya. Kalau menurut kalian pihak kampus dan organisasi komunikasi bukan lagi melalui telepon, chat atau surat maka ini adalah jalan saya untuk berkomunikasi di media sosial,” tulisnya, mengungkapkan kekecewaannya.

Pertemuan dengan Pihak Kampus dan Penolakan Tawaran

Di tengah perjuangan menuntut pertanggungjawaban, keluarga Keisya Levronka terus mengambil langkah-langkah konkret. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, Keisya Levronka terlihat mendampingi ibunya dalam sebuah pertemuan penting dengan pihak kampus Universitas Tarumanegara (Untar). Kehadiran Keisya tak sendirian, ia juga didukung oleh kekasihnya, Nyoman Paul.

Baca Juga :  Jakarta Terancam Hujan Badai Hari Ini

Melalui foto yang diunggah oleh Levi, Keisya dan Paul tampak berada di ruang tunggu sebuah kantor di lingkungan kampus, menunjukkan dukungan penuh keluarga dalam pencarian kejelasan atas insiden yang menimpa Lexi. “Team support ini ikut pertemuan hari ini,” tulis Levi sebagai keterangan foto tersebut.

Setelah kasus ini menjadi viral, ibu Keisya menyampaikan bahwa keluarga telah melakukan pertemuan dengan pihak kampus. Melalui fitur cerita di akun media sosialnya, Levi melaporkan adanya respon baik dari pihak kampus. Namun, keluarga Keisya belum dapat menerima tawaran yang diajukan oleh pihak kampus, baik yang bersifat material maupun imaterial, karena dirasa belum sebanding dengan kerugian yang telah dikeluarkan.

“Alhamdulillah pertemuan hari ini berjalan lancar. Sudah ada respon baik dan terima kasih itikad baiknya meski apa yang ditawarkan masih sangat jauh dari perhitungan material dan imaterial yang sudah dikeluarkan. Dan kami belum bisa menerima penawaran tersebut. Semoga pertemuan selanjutnya sudah ada titik temu. Terima kasih doa dan supportnya ya gaes,” tulisnya.

Kronologi Insiden Mengerikan

Menurut penuturan Levi, peristiwa nahas yang merenggut kesehatan putranya terjadi pada bulan April 2023. Saat itu, Lexi Valleno Havlenda tengah mengikuti kegiatan latihan caving atau susur gua yang diselenggarakan oleh organisasi Mahasiswa Hukum Pecinta Alam (Mapala) di area kampus.

Kecelakaan terjadi ketika pengait pengaman yang digunakan oleh Lexi terlepas secara tiba-tiba. “Singkat cerita pada hari itu juga ananda terjatuh dari lantai enam gedung kampus dikarenakan pengaitnya terlepas,” ungkap Levi dengan nada pilu.

Baca Juga :  Bantuan Wabup Pasangkayu untuk Warga Dusun Hikmah Pasca Puting Beliung

Levi juga menyoroti proses penanganan awal pasca-insiden yang dinilai tidak sesuai dengan prosedur medis darurat. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap penanganan yang diberikan kepada Lexi. “Bayangkan anak saya yang jatuh dari lantai enam gedung kampus dibopong lalu didudukkan di kursi roda dan didorong ke kendaraan (taksi online) dan ditidurkan lagi di taksi online,” tulisnya. Ia mempertanyakan mengapa ambulans tidak segera dipanggil, padahal waktu tunggu untuk ambulans dinilai tidak jauh berbeda dengan menggunakan taksi online.

Kondisi Lexi yang Mengkhawatirkan dan Perawatan Intensif

Akibat insiden tragis tersebut, Lexi mengalami cedera berat yang berdampak panjang pada kehidupannya. Kondisi medis putranya diungkapkan oleh sang ibu melalui Instagram Story pada Sabtu, 31 Januari 2026, yang merinci cedera serius yang dialami Lexi dan perawatan intensif yang masih harus dijalani.

Beberapa cedera serius yang dialami Lexi meliputi:

  • Tulang Ekor Remuk: Tulang ekornya mengalami keretakan parah hingga memerlukan pemasangan pen untuk stabilisasi.
  • Trauma Ginjal: Ginjalnya mengalami pergeseran dan sempat tidak berfungsi normal akibat benturan keras.
  • Paru-paru dan Hati: Terdapat cairan darah pada paru-parunya dan luka sobekan pada organ hatinya.

Levi juga mengungkapkan kesulitan yang harus dihadapi Lexi sehari-hari. “Selama satu tahun harus memakai kateter ke mana-mana. Selama satu tahun pula aktivitas Lexi harus menggunakan kursi roda, bertahap pakai tongkat,” ungkap Levi. “Sampai sekarang harus menggunakan kasur dekubitus untuk kenyamanan tulang ekornya,” tambahnya, menunjukkan perjuangan panjang yang masih harus dilalui putranya.

Kisah Lexi Valleno Havlenda ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan, penanganan yang tepat dalam situasi darurat, serta tanggung jawab institusi pendidikan terhadap mahasiswanya. Keluarga Keisya Levronka terus berjuang untuk mendapatkan keadilan dan penyelesaian yang layak atas tragedi yang menimpa adik mereka.