Laura Moane Hadapi Tantangan Berbahasa Sunda di Film ‘Sunda Emperor’
Selebgram dan aktris muda berbakat, Laura Moane, kini tengah menjalani peran yang cukup menantang dalam film terbaru garapan sutradara Angling Sagaran berjudul ‘Sunda Emperor’. Dalam proyek film ini, Laura ditugaskan untuk menghidupkan karakter bernama Neng Eti, sebuah peran yang mengharuskannya fasih berbahasa Sunda. Hal ini menjadi sebuah tantangan unik mengingat latar belakang Laura yang tidak sepenuhnya berasal dari tanah Sunda.
“Memerankan Neng Eti menjadi tantangan tersendiri, terutama karena film ini menggunakan 100 persen bahasa Sunda,” ujar Laura Moane pada hari Jumat, 30 Januari 2026. Ia menambahkan bahwa penguasaan dialog dalam bahasa Sunda menjadi kunci utama agar karakternya terasa hidup dan natural di mata penonton.
Untuk mengatasi kendala bahasa, Laura Moane telah mendedikasikan waktunya untuk mendalami bahasa Sunda sejak awal proses reading naskah. Ia berusaha keras agar setiap dialog yang diucapkannya terdengar luwes dan tidak kaku. “Dari awal reading hingga saat syuting, saya banyak belajar bahasa Sunda,” jelas wanita berusia 19 tahun yang lahir di Semarang, Jawa Tengah ini. Ia tidak hanya fokus pada pengucapan, tetapi juga mendalami dialek dan arti setiap kata agar dapat menyampaikan emosi karakter dengan tepat.
Film ‘Sunda Emperor’ sendiri bergenre drama komedi petualangan. Selain Laura Moane, film ini juga akan menampilkan kolaborasi akting dengan sejumlah nama lain, termasuk Bilal Fadh dan Maghara Adipura. Kehadiran mereka diharapkan dapat menambah warna dan dinamika dalam cerita.
Tidak hanya itu, film ini juga menggandeng beberapa kreator konten populer asal Sunda yang dikenal luas di kalangan anak muda. Nama-nama seperti Vansa Be, Itings Meledax, dan Yujeng Hensem turut ambil bagian dalam proyek ini, yang berpotensi menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan, khususnya penggemar konten digital.
Angling Sagaran, yang tidak hanya berperan sebagai sutradara tetapi juga produser dan penulis naskah, menjelaskan bahwa inti cerita ‘Sunda Emperor’ berkisar pada seorang pemuda yang oportunis. Kehidupannya berubah drastis ketika ia mengetahui bahwa dirinya memiliki garis keturunan dari seorang Raja Sunda. Cerita ini akan mengeksplorasi perjalanan sang tokoh dalam menerima dan memahami warisan leluhurnya.
Melalui ‘Sunda Emperor’, Angling Sagaran memiliki misi untuk membuktikan bahwa film yang menggunakan bahasa daerah dapat dikemas dengan gaya modern dan tetap relevan bagi generasi muda. Ia ingin mematahkan pandangan bahwa film berbahasa daerah hanya menarik bagi kalangan tertentu. Dengan sentuhan komedi dan petualangan, film ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Salah satu daya tarik visual utama dari film ini adalah penggambaran keindahan panorama alam Sukabumi. Lokasi syuting yang dipilih secara cermat akan menampilkan pesona alam Jawa Barat yang memukau, mulai dari pegunungan, hutan, hingga pedesaan yang asri. Keindahan alam ini tidak hanya menjadi latar belakang cerita, tetapi juga diharapkan dapat menjadi elemen penting yang menambah nilai artistik film.
Film ‘Sunda Emperor’ dijadwalkan untuk tayang di seluruh bioskop di Indonesia pada tahun 2026. Dengan kombinasi cerita yang menarik, akting yang kuat, humor segar, dan visual yang memanjakan mata, film ini berpotensi menjadi salah satu tontonan yang ditunggu-tunggu di tahun mendatang. Upaya Laura Moane dalam menguasai bahasa Sunda dan keterlibatan kreator konten lokal diharapkan dapat memberikan nuansa otentik dan segar yang membedakan film ini dari produksi lainnya. Film ini menjadi bukti nyata bahwa kekayaan budaya Indonesia, termasuk bahasa daerah, memiliki potensi besar untuk diangkat ke layar lebar dengan cara yang inovatif dan menarik.















