KUPANG – Stunting menjadi persoalan yang belum tuntas terselesaikan. Target 14 Persen secara nasional pada tahun 2024 menghadapi beragam tantangan.
“Konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), prevalensi stunting menurun pada angka 15,2 persen paska operasi timbang Agustus 2023, dengan jumlah 63.804 balita stunting” Hal ini dikatakan Dr.Ade Elsa Sumitro Putri dalam paparan stunting kepada remaja PAR (Pelayanan Anak dan Remaja) GMIT Maranatha Oebufu, pada Minggu 26/11/23 bertempat di Gereja Maranatha Oebufu, Kota Kupang, Prov.NTT.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Lembaga Demokrasi Sosial (Demsos) untuk memperkuat Pelibatan remaja sebagai salah satu kelompok sasaran penanganan stunting di Kota Kupang.
Diskusi stunting ini melibatkan 100 remaja putri dan putra dari anak-anak PPA (Pusat Pelatihan Anak).
Dr.Elsa menjelaskan bahwa Penguatan keterlibatan masyarakat dalam Penanganan stunting menjadi krusial sebab kelompok sasaran seperti remaja Putri, calon pengantin dan pasangan usia subur berkontribusi dalam penurunan stunting.
Bagaimana tidak, para remaja putri masih banyak yang abai terhadap kondisi kesehatan, baik kesehatan re produksi dan juga kondisi tubuh yang rentan anemia dan atau Kurang Energi Kronik (KEK).
“Anemia pada remaja Putri menempati urutan tinggi dan dianggap masalah sepele oleh masyarakat. Padahal anemia mampu menurunkan resiko stunting bagi bayi di kemudian hari,” ungkap Dr Elsa.
“Dampak lain yang keliatan adalah mudah letih dan lesu, kesehatan terganggu, tidak berkonsentrasi belajar dan sebagainya” tambahnya.
Aulora Agrava Modok, Direktur Lembaga Demsos, pada kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa, prevalensi stunting di Kota Kupang dan di seluruh wilayah NTT mesti diturunkan secara signifikan karena ini menyangkut urusan masa depan generasi unggul Indonesia.
Dengan program yang fokus menyasar kelompok remaja, maka salah satu mata rantai persoalan stunting terpecahkan sebab remaja putri, termasuk keluarga dan masyarakat belum paham dampak minimnya kesadaran tentang stunting, termasuk mendorong perubahan perilaku masyarakat atas kesadaran pemenuhan nutrisi bagi remaja, ibu hamil, ibu menyusui dan balita.
“Soal nutrisi dan hak untuk memperoleh makanan berkualitas sejak dalam kandungan seringkali diabaikan oleh semua pihak. Padahal 1000 hari pertama kehidupan adalah to nggak kualitas hidup anak” kata Aulora.
“Sebab itu remaja putri wajib menyadari bahwa suatu saat ia akan menyumbang kehidupan berkualitas bagi generasi bangsa, sehingga setiap remaja putri patut mendapatkan asupan terbaik karena rentan anemia. Hal ini berlanjut ketika menjadi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui” jelasnya.
Ia pun menambahkan proses tersebut selayaknya terjamin sehingga melahirkan generasi sehat, cerdas dan unggul dan bebas stunting.
Anak-anak sangat antusias dengan kegiatan tersebut, bahkan banyak yang masih belum mengerti tentang Stunting sehingga mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang di jawab dengan luas oleh Dr.Elsa.
Demsos adalah lembaga yang melaksanakan program stunting di Kota Kupang dan seluruh wilayah di NTT. Harapannya, remaja putri, keluarga dan masyarakat semakin sadar terhadap dampak stunting bagi masa depan generasi Indonesia.
“Dengan tagline NTT bebas stunting, Demsos yakin konvergensi yang dilakukan mampu menurunkan prevalensi stunting hingga mencapai Target daerah yakni 12-10 persen tahun 2024,” tutup Aulora. (Marcho)

















