Pergeseran Peran Leo Lelis: Solusi Darurat atau Sinyal Perubahan Strategi?
Dalam sebuah momen krusial yang menuntut gol penyeimbang, pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, mengambil keputusan yang tak biasa dengan mendorong Leo Lelis, bek tangguh asal Brasil, ke lini depan sebagai striker. Langkah ini diambil pada menit ke-85 saat Persebaya tertinggal 1-2 dari Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bung Tomo. Keputusan ini sontak mencuri perhatian, mengingat Lelis selama ini dikenal sebagai palang pintu pertahanan yang solid di sisi kiri.
Keputusan eksperimental ini muncul ketika Persebaya Surabaya sangat membutuhkan tambahan daya dobrak untuk menyamakan kedudukan. Tavares, pelatih asal Portugal, terpaksa mengambil risiko demi menjaga asa timnya. Namun, strategi tersebut sayangnya belum membuahkan hasil manis. Persebaya harus menelan kekalahan pahit 1-2, yang sekaligus mengakhiri rekor 13 pertandingan tanpa kekalahan yang telah mereka jaga dengan susah payah.
Kekalahan di pekan ke-21 Liga Super 2025/26 ini terasa semakin menyakitkan karena terjadi di hadapan ribuan pendukung setia mereka. Stadion Gelora Bung Tomo, yang biasanya bergemuruh dengan sorak-sorai, kali ini menjadi saksi bisu terhentinya laju impresif “Green Force”. Gol semata wayang tuan rumah dicetak oleh Mihailo Perovic pada menit ke-64. Meski terus menekan setelahnya, upaya penyamaan kedudukan tidak berhasil hingga peluit panjang dibunyikan.
Selepas pertandingan, Bernardo Tavares menunjukkan sikap sportif dengan memberikan apresiasi kepada tim lawan. “Selamat kepada Bhayangkara atas hasil ini. Mereka tidak memiliki banyak peluang, tetapi mampu memaksimalkan momen yang ada. Kami sedikit lengah pada situasi krusial dan itu menjadi pembeda,” ujar Tavares. Ia menambahkan bahwa anak asuhnya telah menunjukkan karakter kuat, terutama setelah jeda turun minum. “Para pemain sudah berjuang maksimal dan menunjukkan karakter. Dalam sepakbola, situasi seperti ini harus diterima dengan lapang dada,” jelasnya.
Fokus tim kini langsung dialihkan ke pertandingan berikutnya melawan Persijap Jepara. “Kami harus segera bangkit, melupakan hasil ini, dan mengalihkan fokus untuk meraih kemenangan pada pertandingan berikutnya,” tegas Tavares.
Analisis Mendalam Peran Leo Lelis: Dari Bek Kokoh Menjadi Opsi Serangan
Di tengah evaluasi tim, peran baru Leo Lelis sebagai striker dadakan menjadi topik yang menarik untuk dibahas lebih dalam. Apakah eksperimen ini hanya solusi darurat ataukah sebuah sinyal perubahan peran yang lebih permanen di masa depan?
Secara statistik, kontribusi Leo Lelis musim ini memang lebih banyak tercurah di sektor pertahanan. Dari 15 pertandingan yang telah dimainkannya, ia menjadi starter dalam 11 laga dengan rata-rata bermain 66 menit per pertandingan, total mengumpulkan 983 menit. Dalam aspek penyerangan, catatan golnya terbilang minimal untuk ukuran seorang bek modern. Ia berhasil mengoleksi dua gol, dengan frekuensi satu gol setiap 492 menit atau rata-rata 0,1 gol per pertandingan.
Rata-rata tembakannya hanya 0,5 per laga, dengan 0,2 tembakan yang mengarah tepat sasaran. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perannya sebagai striker murni tentu masih memerlukan adaptasi yang signifikan jika memang ingin dimaksimalkan.
Dalam hal distribusi bola, akurasi operannya mencapai 85 persen dengan rata-rata 21,2 operan per pertandingan. Ia juga mencatatkan 2,7 bola panjang akurat dengan persentase 52 persen, serta umpan silang akurat 0,1 dengan efektivitas 100 persen. Meskipun belum mencatatkan assist, Leo Lelis tetap memberikan kontribusi melalui build-up serangan dari lini belakang. Rata-rata key pass sebesar 0,07 per laga menunjukkan bahwa ia lebih fokus pada menjaga keseimbangan tim daripada menusuk langsung ke area pertahanan lawan.
Dominasi di Sektor Pertahanan
Sektor pertahanan justru menjadi panggung utama bagi Leo Lelis sepanjang musim ini. Ia mencatat empat clean sheet, 6,9 pemulihan bola per laga, dan 3,3 sapuan bola. Angka-angka ini memperlihatkan peran vitalnya dalam menjaga area kotak penalti timnya.
Duel udara juga menjadi salah satu keunggulannya, dengan rata-rata kemenangan duel udara 1,9 per pertandingan atau 54 persen. Secara keseluruhan, ia memenangi rata-rata 4,1 duel per laga dengan persentase kemenangan 46 persen. Heat map aktivitasnya sangat dominan di sisi kiri area pertahanan, terutama di sekitar kotak penalti sendiri. Data ini menegaskan identitas aslinya sebagai bek yang disiplin dalam menjaga wilayahnya.
Catatan Evaluasi dan Potensi di Masa Depan
Namun, ada catatan evaluasi yang tidak bisa diabaikan, yaitu delapan kesalahan yang berujung pada tembakan lawan. Angka ini tergolong tinggi dan menjadi pekerjaan rumah bagi tim pelatih. Catatan lain menunjukkan bahwa ia jarang melakukan dribel sukses dengan persentase nol persen. Rata-rata pelanggaran yang dibuatnya hanya 0,3 per laga, dan ia lebih sering dilanggar ketimbang melakukan pelanggaran.
Dalam urusan disiplin, ia mengoleksi satu kartu kuning dan satu kartu merah langsung musim ini. Statistik ini menunjukkan bahwa agresivitasnya dalam bermain tetap terkontrol meskipun bermain keras di lini belakang.
Melihat profilnya yang kuat di pertahanan, keputusan untuk menjadikannya striker dadakan jelas lebih didorong oleh kebutuhan situasional daripada sebuah perubahan peran permanen. Dengan postur tubuh dan kemampuan duel udara yang cukup baik, ia berpotensi menjadi target man alternatif saat situasi pertandingan benar-benar mendesak.
Eksperimen ini membuka ruang diskusi menarik mengenai fleksibilitas pemain dalam skema permainan yang diterapkan oleh Bernardo Tavares. Leo Lelis mungkin bukan striker alami, namun keberanian pelatih untuk menggeser posisinya menunjukkan upaya mencari solusi cepat di tengah tekanan pertandingan. Kini, publik menantikan apakah peran baru Leo Lelis ini akan kembali muncul pada laga-laga berikutnya. Jika momentumnya tepat, bukan tidak mungkin bek kiri ini akan kembali menjadi kartu kejutan bagi Persebaya Surabaya.



















