Politik

Maduro tumbang, Trump kini bidik Iran: Teheran akan dihantam serangan keras jika bunuhi demonstran

×

Maduro tumbang, Trump kini bidik Iran: Teheran akan dihantam serangan keras jika bunuhi demonstran

Sebarkan artikel ini

Maduro Tumbang, Trump Kini Bidik Iran: Teheran Akan Dihantam Serangan Keras Jika Bunuhi Demonstran

Ringkasan Berita:

  • Gelombang demonstrasi di Iran dibarengi meningkatnya kekerasan dan korban jiwa,setidaknya 20 orang tewas—termasuk warga sipil dan personel keamanan—dan hampir 1.000 penangkapan di setidaknya 78 kota.
  • Demonstran protes atas inflasi yang melonjak (tercatat sebesar 42,2 persen pada Desember 2025) dan anjloknya nilai rial telah memasuki minggu kedua.
  • AS mau ikut campur dengan mengancam akan menyerang Teheran jika korban jiwa para demonstrasn terus bertambah.

 

 

– Amerika Serikat (AS) lewat Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman ke Iran, Minggu (4/1/2026).

Kali ini, Trump memperingatkan kalau negara Persia itu akan “dihantam sangat keras” oleh Amerika Serikat jika Iran membunuhi warga Iran, para demonstran yang memprotes buruknya situasi hidup di negara tersebut.

Gelombang demonstrasi di Iran ini telah memasuki minggu kedua.

“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat balasan yang sangat keras dari Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

Baca Juga :  Kemenhan Gelar Pertemuan Perencanaan Awal untuk Latihan Gabungan ADMM-Plus

Ancaman Trump ini dia lontarkan setelah menangkap dan menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, atas tuduhan narkoterorisme, Sabtu (3/1/2026).

Penangkapan Maduro ini dieksekusi setelah Trump selama berbulan-bulan mengeluarkan ancaman ke Venezuela. 

Gelombang Demonstrasi di Iran

Bentrokan mematikan baru antara demonstran dan pasukan keamanan meletus di Iran, menurut kelompok hak asasi manusia dan media lokal pada Minggu,

Bentrokan baru ini terjadi ketika demonstrasi yang pertama kali dipicu oleh kemarahan atas meningkatnya biaya hidup memasuki minggu kedua.

Sedikitnya 12 orang, termasuk anggota pasukan keamanan, telah tewas sejak protes dimulai dengan pemogokan para pemilik toko di Teheran pada 28 Desember, menurut perhitungan berdasarkan laporan resmi.

Semalam, protes yang menampilkan slogan-slogan yang mengkritik otoritas ulama Republik Islam dilaporkan terjadi di Teheran, Shiraz di selatan, dan di daerah-daerah di Iran barat tempat gerakan tersebut terkonsentrasi, menurut lembaga pemantau Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS.

Demonstrasi ini merupakan yang paling signifikan di Iran sejak gerakan tahun 2022-2023 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dalam tahanan, yang ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat bagi perempuan di Iran.

Baca Juga :  Apriasi Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatera

Aksi protes terbaru terkonsentrasi di beberapa bagian barat yang memiliki populasi besar minoritas Kurdi dan Lor, dan belum mencapai skala gerakan tahun 2022-2023, apalagi demonstrasi jalanan massal yang terjadi setelah pemilihan presiden tahun 2009 yang penuh kontroversi.

Namun, hal ini menghadirkan tantangan baru bagi pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei — 86 tahun, dan berkuasa sejak 1989 — yang terjadi setelah perang 12 hari dengan ‘Israel’ pada bulan Juni yang menyebabkan kerusakan infrastruktur nuklir dan tewasnya anggota kunci elit keamanan.

Dengan pemerintah yang berada di bawah tekanan untuk menunjukkan respons terhadap kesulitan ekonomi, juru bicara Fatemeh Mohajerani mengatakan kepada televisi pemerintah pada hari Minggu bahwa warga akan menerima tunjangan bulanan setara dengan 7 dolar AS atau setara Rp 117 ribu selama empat bulan ke depan.

Aksi protes telah terjadi di 23 dari 31 provinsi Iran dan memengaruhi, dalam berbagai tingkatan, setidaknya 40 kota yang berbeda, sebagian besar kota kecil dan menengah, menurut perhitungan berdasarkan pengumuman resmi dan laporan media.

   

(oln/rntv/*)