Ekonomi

MBG Serap 1,4 Juta Pekerja: Klaim Bappenas

×

MBG Serap 1,4 Juta Pekerja: Klaim Bappenas

Sebarkan artikel ini

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar pemenuhan gizi bagi jutaan rakyat Indonesia, tetapi juga terbukti menjadi motor penggerak ekonomi yang signifikan. Hingga awal tahun 2026, program ambisius ini telah berhasil membuka kran lapangan kerja baru, menyerap setidaknya 1,4 juta tenaga kerja di seluruh penjuru negeri.

Klaim ini disampaikan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. Ia menjelaskan bahwa angka penyerapan tenaga kerja yang masif ini tidak lepas dari pesatnya perkembangan unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau yang akrab disapa dapur MBG. Hingga kini, tercatat sebanyak 22.091 unit SPPG telah beroperasi secara aktif di berbagai wilayah Indonesia.

“Kehadiran SPPG tersebut berhasil menyerap sekitar 1,4 juta tenaga kerja,” ujar Rachmat dalam sebuah keterangan tertulis di Jakarta. Ia menekankan bahwa program MBG memiliki dampak ganda yang luar biasa.

Lebih dari Sekadar Pemberian Makanan

Rachmat memberikan analogi yang menarik untuk menggambarkan esensi program MBG. Ia membandingkannya dengan memberikan “kail” daripada sekadar “ikan”. Ini berarti, program pemerintah ini tidak hanya berhenti pada penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga secara aktif menciptakan peluang ekonomi dan memberdayakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja baru. Lebih jauh lagi, MBG turut memperkuat dan merangsang pertumbuhan rantai pasok lokal.

Baca Juga :  Pendaftaran Calon Direksi-Dewas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan Dibuka

Mendorong Produktivitas Sektor Pertanian dan Perikanan

Dampak positif MBG juga terasa hingga ke sektor hulu. Program ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan produktivitas berbagai sektor pertanian, termasuk padi, sayuran, dan buah-buahan. Tidak hanya itu, sektor peternakan seperti ayam, sapi, kambing, dan domba, serta ekosistem perikanan lokal yang menjadi sumber bahan baku utama program ini, turut merasakan manfaatnya. Kebutuhan bahan baku yang besar dari program MBG secara otomatis mendorong para petani, peternak, dan nelayan untuk meningkatkan hasil produksi mereka.

Konsep Infrastruktur Sosial yang Luas

Menariknya, Rachmat juga mengajak publik untuk memperluas pemahaman tentang konsep infrastruktur. Menurutnya, pembangunan tidak melulu identik dengan infrastruktur fisik semata. Ia menekankan pentingnya mengakui dan membangun “infrastruktur sosial” yang sama vitalnya. Program MBG, dengan segala jaringannya yang meliputi dapur-dapur Gizi hingga para pemasoknya, dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk infrastruktur sosial yang krusial bagi kesejahteraan masyarakat.

Jangkauan Luas dan Dampak Ekonomi yang Terukur

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), juga telah menggarisbawahi keberhasilan program MBG dalam hal jangkauan penerima manfaat. Hingga penghujung Januari 2026, program ini diklaim telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat.

Baca Juga :  Pertemuan dengan Orang Tua Siswa yang Anaknya Ditampar Guru di Subang, Dedi Mulyadi: Tidak Ada Rasa Benci

“SPPG sudah 22.091 [unit]. Penerima manfaat sudah lebih dari 60 juta, lebih sedikit, jadi sudah tembus angka 60 juta,” ungkap Zulhas dalam sebuah rapat koordinasi terbatas di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta.

Selain jangkauan yang luas, Zulhas juga merinci dampak signifikan program MBG terhadap penyerapan tenaga kerja. Ia menyebutkan beberapa poin penting:

  • Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK): Sebanyak 32.000 PPPK telah diproses pengangkatannya, yang sebagian besar terlibat dalam operasional dan manajemen program MBG.
  • Tenaga Kerja Langsung SPPG: Keterlibatan langsung tenaga kerja dalam operasional 22.091 unit SPPG mencapai angka yang sangat besar, yaitu 924.424 orang. Mereka adalah tulang punggung dari dapur-dapur gizi ini.
  • Pemasok MBG: Program ini juga membuka peluang bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai pemasok bahan baku. Tercatat ada 68.551 pemasok yang terlibat, didominasi oleh UMKM, yang menunjukkan bagaimana MBG turut menggerakkan roda perekonomian akar rumput.

Dengan demikian, program Makan Bergizi Gratis ini tidak hanya menjadi solusi cerdas untuk mengatasi masalah gizi, tetapi juga terbukti menjadi instrumen ampuh dalam menciptakan lapangan kerja, memberdayakan UMKM, dan merangsang pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor secara berkelanjutan.