Jose Mourinho memberikan pengakuan atas kualitas Lamine Yamal namun menegaskan Real Madrid tak akan mengubah identitas permainan mereka menjelang El Clasico di Spotify Camp Nou, yang digelar Minggu malam. Pertemuan yang kerap dinilai sebagai salah satu pertandingan terbesar di sepak bola ini menjadi ujian penting bagi Los Blancos yang saat ini tertinggal enam poin dari Barcelona setelah sembilan giornata La Liga.
Posisi klasemen membuat tekanan bertambah, tetapi Mourinho menyatakan hasil laga-laga terakhir tak otomatis memengaruhi duel klasik ini. Madrid datang ke Camp Nou dengan modal kemenangan 4-1 atas RB Leipzig di Liga Champions, sedangkan Barcelona baru saja menelan kekalahan 4-2 dari Paris Saint-Germain — kekalahan pertama mereka di musim ini. Mengenai relevansi performa sebelumnya, Mourinho menekankan, “El Clasico tidak peduli apa yang telah Anda lakukan sebelumnya, itu tidak berpengaruh. Ini benar-benar berbeda.”
Salah satu fokus utama pembicaraan adalah peran Lamine Yamal sebagai ancaman bagi pertahanan Madrid. Winger muda Barcelona tersebut dipuji oleh Mourinho atas kemampuan menggiring dan menciptakan peluang yang konsisten merepotkan lawan. Meski demikian, pelatih asal Portugal itu menolak menyiapkan skema khusus yang sampai mengubah karakter permainan timnya; pilihan taktik akan tetap selaras dengan identitas Real Madrid menurutnya, bukan sebuah reorganisasi semata untuk mematikan satu pemain lawan.
Selain soal taktik dan pemain lawan, Mourinho juga menyinggung kontroversi tentang bocornya nama wasit sebelum laga. Ia menyebut kebingungan yang muncul setelah beberapa nama bergantian mengemuka dalam pemberitaan, sementara informasi internal klub tampak belum memberikan kejelasan. Mourinho menyampaikan keheranannya terhadap situasi itu dan mengkritik pelanggaran aturan yang menurutnya masih belum jelas dalam penanganan isu tersebut.
Ketika disinggung apakah hasil El Clasico akan menentukan peluang Madrid dalam perburuan gelar musim ini, sang pelatih menjawab dengan tegas bahwa satu pertandingan bukan penentu akhir. Dalam nada percaya diri, ia menyatakan, “Tidak, Real Madrid dengan Mourinho memenangkan gelar.” Pernyataan itu menegaskan keyakinannya bahwa meski laga besar berpengaruh secara psikologis, gelar diputuskan oleh konsistensi sepanjang musim, bukan satu duel klasik saja.
Mourinho juga mengakui realitas bahwa proyek di Madrid masih dalam tahap pembentukan. Ia mengingatkan bahwa skuad baru bekerja bersama sekitar tiga bulan sejak pramusim, dengan kedatangan pemain yang bergelombang serta jeda internasional yang membuat proses adaptasi belum sempurna. Di sisi lain, ia memberi pengakuan bahwa Barcelona layak mendapat pujian pada saat-saat tertentu karena penampilan mereka yang impresif, namun membandingkan tim yang sudah lama dibangun dengan proyek Madrid saat ini menurutnya tidak adil.
















