Cristian Chivu membela Inter Milan, menegaskan bahwa klub raksasa Serie A tersebut tengah menjalani musim yang gemilang, terlepas dari berbagai label dan kritik yang dialamatkan kepada mereka. Menurut Chivu, Inter Milan selalu berada di bawah sorotan tajam sejak awal musim, namun mereka tetap mampu bersaing di papan atas.
Saat ini, Inter Milan menduduki posisi ketiga di klasemen Serie A, hanya terpaut satu poin dari dua pemimpin klasemen bersama, yaitu AC Milan dan Napoli. Di kancah Liga Champions, mereka berada di peringkat keenam. Meskipun demikian, tim yang dibela Chivu baru saja mengalami kekalahan di Eropa pada pertengahan pekan. Mereka takluk 1-0 dari Liverpool di kandang sendiri, San Siro, meskipun mendominasi sebagian besar jalannya pertandingan.
Chivu mengakui bahwa timnya telah menghadapi berbagai penilaian negatif, bahkan ada yang menyebut mereka telah gagal dan “habis”. Namun, ia menekankan bahwa fakta bahwa Inter masih berada di puncak persaingan adalah pencapaian yang tidak boleh diremehkan, terutama jika mengingat prediksi yang beredar di awal musim.
Perjalanan Musim yang Penuh Dinamika
“Kami memulai musim di bawah pengawasan ketat,” ujar Chivu kepada para jurnalis menjelang pertandingan melawan Genoa. “Orang-orang mengatakan kami gagal, dan kami sudah tamat. Tapi kami masih berada di puncak dan itu tidak boleh dianggap remeh, mengingat apa yang dikatakan selama musim panas.”
Chivu menambahkan bahwa timnya masih memiliki ruang untuk perbaikan, namun ia menegaskan bahwa Inter tidak pernah ingin kehilangan identitas, semangat, dan keinginan mereka untuk mendominasi baik di Serie A maupun di Eropa. Ia yakin bahwa timnya berada di jalur yang benar.
Menanggapi potensi pandangan bahwa Inter seharusnya bermain lebih defensif dan mengincar hasil imbang, Chivu menolak keras. “Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa kita seharusnya lebih negatif dan defensif, mengincar hasil imbang, tetapi saya tidak ingin kita kehilangan identitas kita,” tegasnya.
Dia berpendapat bahwa terlepas dari opini publik, Inter Milan sedang menjalani musim yang hebat. Meskipun mengakui adanya pasang surut, Chivu menyatakan bahwa timnya ingin menghilangkan momen-momen sulit tersebut dan tetap yakin dengan kerja keras mereka.
Chivu merinci lebih lanjut, “Kami berusaha belajar dari kesalahan, tetapi tidak boleh kehilangan kepercayaan diri bahwa kami menjalani musim yang hebat. Tidak termasuk Piala Dunia Antarklub, kami telah memainkan 21 pertandingan di mana, paling banyak, kami melakukan kesalahan di dua babak, tetapi tidak pernah satu pertandingan penuh.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Chivu melihat kesalahan yang terjadi sebagai anomali dalam sebuah pertandingan, bukan sebagai indikasi kegagalan fundamental.
Ia juga menyoroti perbedaan antara realitas di lapangan dengan narasi yang coba dibangun oleh pihak luar. “Skuad ini ingin mendominasi dan realita di lapangan berbeda dengan narasi yang ingin dilukiskan orang tentang kami,” katanya.
Pengalaman dan Perspektif Chivu
Dengan pengalamannya yang panjang di Inter Milan, baik sebagai pemain maupun dalam kapasitas lain, Chivu memiliki pandangan yang berbeda mengenai ekspektasi dan realitas. “Saya sudah berada di Inter dalam satu atau lain cara selama 20 tahun, jadi ekspektasi berbeda dengan kenyataan. Saya tidak menilai proses pertumbuhan berdasarkan satu kemenangan atau satu kekalahan. Saya tidak suka label, dan terlalu banyak label yang diberikan kepada Inter,” jelasnya.
Pandangan Chivu ini mencerminkan kedalaman pemahamannya tentang dinamika klub besar yang selalu berada di bawah tekanan untuk meraih hasil maksimal di setiap kompetisi. Ia lebih fokus pada proses jangka panjang dan pertumbuhan tim daripada reaktif terhadap hasil pertandingan tunggal.
Pertemuan dengan Daniele De Rossi
Menjelang pertandingan melawan Genoa, Chivu akan berhadapan dengan wajah yang familiar. Ia akan bertemu dengan mantan rekan setimnya di AS Roma, Daniele De Rossi. De Rossi, yang bermain bersama Chivu di Roma antara tahun 2003 dan 2007, kini mengambil alih posisi pelatih Genoa menggantikan Patrick Vieira.
Di bawah kepelatihan De Rossi, Genoa menunjukkan peningkatan signifikan. Mereka belum terkalahkan dalam empat pertandingan Serie A terakhir, berhasil membawa Genoa naik ke peringkat 15 klasemen. Chivu mengakui performa impresif tim asuhan De Rossi.
Waspada Terhadap Ancaman Genoa
Chivu sangat mewaspadai ancaman yang akan dihadirkan oleh Genoa. Ia mengingatkan bahwa tiga pertemuan terakhir antara kedua tim berakhir dengan hasil imbang, yang menandakan betapa ketatnya persaingan di antara mereka.
“Kita harus sempurna, terutama dalam hal sikap melawan tim yang menunjukkan antusiasme besar di bawah pelatih baru,” tambah Chivu. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan fokus penuh.
“Pertandingan ini tidak pernah mudah bagi Inter, jadi kami harus memberikan yang terbaik,” pungkasnya, menunjukkan bahwa ia memandang Genoa sebagai lawan yang tangguh dan membutuhkan performa terbaik dari Inter.
Apresiasi untuk De Rossi
Chivu juga menyampaikan apresiasinya terhadap Daniele De Rossi, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemain di masa lalu. “Saya menjalani empat tahun yang luar biasa di Roma, De Rossi adalah kapten tanpa ban kapten, karena Francesco Totti masih ada di sana saat itu. Saya selalu mengagumi kecerdasannya, dia adalah pria yang tulus dan sangat loyal,” kenang Chivu. Hubungan baik ini mungkin menambah dimensi tersendiri pada pertandingan mendatang.

















