Berita PilihanDaerahKepriNatuna

Natuna dan Ancaman Tenggelam, Bukan Karena Laut, Tapi Karena Anggaran

×

Natuna dan Ancaman Tenggelam, Bukan Karena Laut, Tapi Karena Anggaran

Sebarkan artikel ini
Gamber merupakan ilustrasi dari berita (Foto: Alreinamedia.com)

Alreinamedia.com-Natuna,Pemerintah pusat tampaknya mulai lelah menjadi “mesin ATM” bagi daerah. Tahun 2026, kepastian penurunan transfer ke daerah akan bergulir. Angka Rp919,9 triliun pada 2025 dipangkas menjadi Rp650 triliun di RAPBN 2026. Rasionalisasi, kata Kementerian Keuangan, adalah untuk efisiensi anggaran akan lebih banyak disalurkan melalui kementerian/lembaga agar “lebih tepat sasaran”.

Di atas kertas, alasan itu terdengar masuk akal. Tetapi bagi daerah yang selama ini hidup dari kucuran pusat, pemangkasan itu ibarat tiba-tiba diminta berenang tanpa pernah belajar mengapung dan di antara mereka, Kabupaten Natuna tampaknya menjadi salah satu yang paling merasakan hempasan ombak ini.

Selama bertahun-tahun, roda pembangunan Natuna digerakkan oleh dana transfer pusat. Mandiri secara fiskal? Kata itu barangkali lebih cocok untuk baliho visi-misi ketimbang laporan realisasi APBD. Penerimaan Asli Daerah (PAD) masih minim, sementara potensi kelautan, pariwisata, hingga energi kerap berhenti di meja seminar. Akibatnya, Natuna ibarat kapal yang hanya bisa berlayar bila Jakarta terus-menerus mengisi bahan bakarnya.

Baca Juga :  Jhon Hardi Sampaikan Jawaban Pandangan Umum Terkait 4 Ranperda Kabupaten Asahan

Ironis, karena Natuna sering dielu-elukan sebagai “beranda depan” NKRI. Namun, sebuah beranda pun bisa lapuk jika tidak dirawat dengan baik. Apalagi jika yang merawat lebih sibuk menunggu kiriman cat dari pusat, ketimbang mencari kuas dan catnya sendiri.

Kini, dengan keran transfer pusat yang mulai menyempit, Pemda Natuna dihadapkan pada pilihan sulit, tetap nyaman bergantung pada pusat dengan risiko kelabakan di 2026, atau mulai mengasah kemampuan finansial daerah dengan serius. Daerah lain sudah berlari dengan strategi kreatif menggali PAD, sementara Natuna masih tampak sibuk melatih langkah pertama.

Kalau dibiarkan, Natuna bisa tenggelam bukan karena naiknya permukaan laut, melainkan karena tidak mampu mengapung di tengah perubahan kebijakan fiskal nasional dan tenggelam di sini bukan sekadar istilah bisa berarti pembangunan terbengkalai, peluang terlewat, bahkan citra sebagai “beranda NKRI” yang kian usang.

Baca Juga :  Peduli Warga Natuna, Danlanud RSA Berikan Bantuan Sembako di Sekitar Daerah Latihan

Pada akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah pusat tega mengurangi anggaran, melainkan apakah Natuna benar-benar siap hidup tanpa kantong pusat? Karena waktu akan tetap berjalan, dan 2026 sudah di depan mata.