Kekecewaan Nurul Akmal: Atlet Berprestasi Hanya Diangkat PPPK Paruh Waktu
Prestasi gemilang di kancah nasional maupun internasional rupanya belum cukup untuk menjamin masa depan yang sepenuhnya aman bagi Nurul Akmal, atlet angkat besi kebanggaan Indonesia. Ia baru-baru ini mengungkapkan kekecewaannya setelah hanya diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu oleh Pemerintah Aceh. Meskipun bersyukur atas penerimaan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya, status paruh waktu tersebut meninggalkan rasa sesal mendalam bagi Nurul, mengingat segudang medali yang telah ia persembahkan untuk bangsa.
Nurul Akmal merupakan salah satu dari 5.486 tenaga kontrak (honorer) Pemerintah Aceh yang menerima SK pengangkatan PPPK. Namun, di balik momen penerimaan SK yang seharusnya membahagiakan, terselip rasa kecewa yang tak terbendung. Melalui akun Instagram pribadinya, @Nurulakmal_12, ia menyuarakan isi hatinya.
“Tetap bersyukur walaupun P3K PW (Paruh Waktu),” tulis Nurul. Ia kemudian merinci prestasinya yang luar biasa, seperti dua kali tampil di Olimpiade, dua kali mengikuti SEA Games, dua kali berlaga di Asian Games, serta tiga kali meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON). “Yang tau-tau udah paham lah. Tapi ini lah hasilnya,” tambahnya, menyertakan tagar kepada beberapa tokoh publik.
Harapan Menjadi ASN Pupus?
Sejatinya, Nurul Akmal telah lama berjuang dan berharap untuk diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Keinginan ini bukan tanpa alasan. Menjadi ASN dianggap sebagai jaminan masa depan yang lebih stabil dan terjamin, terutama bagi seorang atlet yang rentan mengalami cedera dan memiliki rentang karier yang terbatas.
Kepada media, Nurul menyatakan bahwa keinginannya untuk menjadi ASN selalu ada, namun keputusannya kembali berada di tangan Pemerintah Aceh. Ia mengaku sudah beberapa kali menyuarakan aspirasinya, namun belum mendapatkan hasil yang memuaskan. “Cuma kecewa saja, kok begini ya. Mempertanyakan sudah sering tapi kayak enggak ada jalan, padahal untuk saya sendiri gitu bukan banyak orang,” ungkapnya dengan nada getir.
Ia merasa perjuangannya selama ini, yang telah mengharumkan nama Indonesia, belum mendapatkan apresiasi yang layak dalam bentuk status kepegawaian yang lebih pasti.
Respons Warganet: Simpati dan Dukungan
Unggahan Nurul Akmal di Instagram sontak menuai perhatian dan simpati dari jutaan warganet. Banyak dari mereka yang merasa prihatin dengan nasib atlet berprestasi seperti Nurul. Komentar-komentar yang membanjiri unggahannya menunjukkan dukungan penuh dan harapan agar Nurul mendapatkan perlakuan yang lebih adil.
Beberapa komentar menyoroti ketidaksesuaian antara prestasi yang diraih dengan status kepegawaian yang didapatkan. Warganet berpendapat bahwa Nurul seharusnya mendapatkan status ASN, mengingat kontribusinya yang besar bagi bangsa.
- “Kak Nurul nih harusnya jadi PNS, karena Kakak uda banyak bikin Indonesia bangga.”
- “Bonus PON sama dg setahun gaji PNS.”
- “Masa cuma PPPK paruh waktu pak @prabowo @kemenpora @erickthohir.”
- “Mbaa you deserve better kalo ada rezeki kerja di luar ganti kewanegaraan trs kerja jadi atlet lagi sampe di gajih sesuai sampe pensiun nge atlet, andai seindah ini dunia.”
- “Ini seharusnya PNS bkn p3k. Apa lagi paruh waktu.”
Namun, di tengah gelombang simpati, muncul pula diskusi yang lebih mendalam mengenai relevansi pengangkatan atlet berprestasi menjadi ASN. Beberapa warganet berargumen bahwa menjadi ASN belum tentu relevan dengan profesi atlet, dan bahwa apresiasi yang lebih tepat mungkin adalah melalui jalur lain yang mendukung karier mereka di dunia olahraga, seperti menjadi pelatih, pengurus, atau mendapatkan fasilitas pendukung lainnya.
“PNS itu harus sesuai dengan skill dan kemampuan agar birokrasi tidak rusak ketika pelayanan masyarakat, kalau semua atlet berprestasi harus jadi PNS..apakah relevan dengan kerjanya nanti..? Gak maksud menyudutkan yaa tapi lebih baiknyaa atlet berprestasi seharusnya diberikan apresiasi lebih oleh pemerintah untuk melatih, mengurus olahraga daerah, begitu…jangan tanya kenapa olahraga Indonesia anjlok, karena mental atlet kita berjuangnya bukan mengharumkan nama negara tapi mengejar level PNS,” tulis salah seorang warganet.
Perasaan Ketidakadilan dan Ketakutan Akan Masa Depan
Prosesi penyerahan SK PPPK paruh waktu bagi Nurul Akmal berlangsung di bawah guyuran hujan deras di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, pada Kamis, 29 Januari 2026. SK tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.
Meskipun menerima SK tersebut, Nurul merasa perlakuan yang diterimanya tidak adil. Ia tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, tetapi juga mempersembahkan medali emas cabang olahraga angkat besi untuk Provinsi Aceh pada Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Kayak enggak adil saja sih, kek enggak bisa terima gitu. Cuma mau gimana lagi, takutnya nanti enggak dapat apa-apa kalau banyak kali protes dan menuntut. Banyak yang enggak terima sama PPPK paruh waktu, apalagi diri saya sendiri. Entah lah, mau pasrah tapi saya juga mikir masa tua saya bagaimana nanti begitu,” tuturnya dengan lirih.
Jauh sebelum menerima SK tersebut, Nurul Akmal telah berupaya dan sangat berharap Pemerintah Aceh dapat memperjuangkan dirinya ke pemerintah pusat agar diangkat menjadi ASN. Ia mempertanyakan mengapa perjuangan dan rekomendasi untuk dirinya, yang telah membawa nama baik Aceh, tidak diupayakan lebih keras ke kementerian terkait.
“Kenapa enggak diperjuangkan ke pusat sana, kementerian begitu, rekomendasi untuk saya yang betul-betul bawa nama Aceh. Cuma bisa belajar menerima semuanya, dari pada enggak dapat apa-apa nantinya walaupun PPPK paruh waktu,” pungkasnya. Kasus Nurul Akmal ini setidaknya membuka mata banyak pihak terhadap pentingnya apresiasi yang lebih layak bagi para atlet berprestasi di Indonesia, yang telah memberikan segalanya demi kedaulatan dan kebanggaan bangsa.

















