Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji ulang klasifikasi bank berdasarkan modal inti, dengan fokus pada penghapusan atau konsolidasi kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1. Langkah ini diambil demi memperkuat industri perbankan nasional dan memastikan lembaga keuangan mampu menopang perekonomian Indonesia yang terus berkembang.
Urgensi Bank Skala Besar untuk Perekonomian Indonesia
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa salah satu pertimbangan utama di balik rencana ini adalah kebutuhan fundamental perekonomian Indonesia yang membutuhkan bank-bank berskala besar. Struktur ekonomi Indonesia yang dinamis dan terus tumbuh menuntut dukungan dari lembaga perbankan yang memiliki skala usaha yang kuat.
Ukuran bank, menurut Dian, menjadi faktor krusial. Bank dengan modal dan aset yang besar cenderung lebih stabil, lebih efisien, dan memiliki kapasitas yang lebih memadai untuk mendukung berbagai aktivitas ekonomi. “Ya sebetulnya banyak pertimbangan yang kita lakukan dari teman-teman OJK, (untuk) teman-teman KBMI 1 itu. Pertama memang ekonomi kita membutuhkan bank-bank yang besar, karena bank itu terus terang saja ukuran itu adalah menentukan segalanya,” ujar Dian usai Peluncuran Buku Khutbah Syariah Muamalah PPDP di Jakarta Selatan, Senin (15/12/2025).
Saat ini, OJK mengklasifikasikan bank ke dalam empat kelompok berdasarkan nilai modal inti:
* KBMI 1: Modal inti maksimal Rp 6 triliun.
* KBMI 2: Modal inti di atas Rp 6 triliun hingga Rp 14 triliun.
* KBMI 3: Modal inti di atas Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun.
* KBMI 4: Modal inti di atas Rp 70 triliun.
Dengan kebijakan baru ini, OJK berencana menyederhanakan klasifikasi menjadi tiga kelompok, dengan menghapus kategori KBMI 1. Bank-bank yang saat ini berada di KBMI 1 akan didorong untuk melakukan konsolidasi agar naik ke kelompok modal inti yang lebih tinggi. Pengecualian diberikan kepada Bank Pembangunan Daerah (BPD), yang akan mendapatkan kebijakan tersendiri untuk peningkatan permodalannya.
Efisiensi dan Daya Saing Melalui Konsolidasi
Dian merinci lebih lanjut bahwa bank dengan skala besar umumnya menunjukkan tingkat efisiensi yang lebih baik. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mereka untuk menekan biaya operasional, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, dan mengadopsi teknologi secara lebih luas. Efisiensi ini pada akhirnya memperkuat kemampuan bank dalam menjalankan fungsi intermediasi, terutama dalam penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
“Size does matter, itu akan membuat efisiensi dan lain sebagainya. Kemudian juga akan mendorong, tentu saja kredit dan lain sebagainya itu dilakukan. Dan kami juga sebetulnya sudah melakukan semacam analisis cukup mendalam bahwa memang usaha-usaha yang sifatnya mungkin perlu intensif secara penggunaan IT itu akan membutuhkan dana besar,” papar Dian.
Dorongan OJK agar bank-bank, khususnya di kelompok KBMI 1, melakukan merger atau penggabungan usaha tidak didasarkan pada satu alasan tunggal. Kebijakan ini secara strategis diarahkan untuk memperkuat peran perbankan dalam menopang perekonomian nasional. Tujuannya adalah memperbesar skala usaha sehingga bank memiliki struktur permodalan dan kapasitas operasional yang lebih kokoh. Melalui merger, bank dapat menyatukan sumber daya, memperkuat modal, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
“Nah sehingga mereka itu kita dorong juga untuk melakukan merger dengan alasan itu salah satunya. Tapi juga alasan lainnya tentu saja adalah bagaimana tadi yang saya bilang, kita bisa memfasilitasikan kekuatan bank-bank itu kemudian untuk bisa memiliki, kalau saya sering menyebutnya sebagai daya tendangnya terhadap ekonomi yang kita,” jelas Dian.
Analisis Mendalam dan Langkah Preventif
Analisis OJK terhadap bank-bank KBMI 1 dilakukan secara komprehensif, tidak hanya terpaku pada satu indikator. Kinerja keuangan masing-masing bank juga dicermati secara detail. Bahkan, ketika kinerja keuangan dinilai tidak bermasalah atau cenderung stagnan, kondisi tersebut tetap dianggap sebagai sinyal perlunya langkah strategis. OJK memandang kinerja yang stagnan dapat menandakan keterbatasan ruang tumbuh yang berpotensi menghambat kontribusi bank terhadap perekonomian di masa depan. Oleh karena itu, konsolidasi dipandang sebagai langkah preventif dan proaktif untuk memperkuat struktur industri perbankan secara keseluruhan.
Upaya mendorong konsolidasi bank ini dinilai sebagai langkah yang sangat logis, mengingat besarnya skala ekonomi Indonesia. Pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, memiliki ekspektasi tinggi terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 8 persen. Target ambisius ini akan sulit tercapai tanpa dorongan penyaluran kredit dalam jumlah besar dari sektor perbankan. Hingga kini, perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada perbankan sebagai penggerak utamanya, sehingga kekuatan dan kapasitas bank menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ini sebetulnya upaya yang logis saja teman-teman sekalian karena ekonomi kita kan ekonomi besar ya. Harapan pemerintah, juga Presiden, misalnya harapan pertumbuhan ekonomi kita 8 persen, ya gimana caranya, itu bisa dicapai kalau tanpa pendorongan kredit yang sangat besar dari kita, khususnya kan kita ini masih bank driver ekonominya, ekonomi kita itu masih didorong oleh kekuatan super bank,” ujar Dian.
Tantangan dan Langkah ke Depan
Tantangan terbesar yang dihadapi OJK adalah bagaimana memajukan bank-bank KBMI agar mampu memainkan peran krusial tersebut secara optimal. Konsolidasi dipandang sebagai tahap awal yang sangat penting untuk memperkuat fondasi perbankan sebelum melangkah ke tahap selanjutnya.
OJK mencatat bahwa masing-masing bank KBMI 1 telah mulai melakukan kajian internal untuk menentukan arah strategis mereka ke depan. Kajian ini mencakup identifikasi mitra strategis, opsi penambahan modal, serta rencana konsolidasi dengan bank lain yang dinilai memiliki potensi sinergi yang kuat.
“Nah ini yang jadi tantangan kita, bagaimana memajukan ini bank-bank KBMI ini, sebelumnya mengkonsolidasikan ini. Nah ini yang kita harapkan dan saya sudah mendengar bahwa mereka itu sekarang sudah melakukan pekerjaan internal ya di masing-masing bank KBMI 1,” ungkap Dian.
“Untuk melihat partner mana, dan apa yang akan dilakukan, apakah menambah modal, apakah kemudian melakukan konsolidasi, konsolidasi dengan siapa, nanti sedang nyari-nyari, mana nih yang kira-kira bisa ada sinergi gitu ya, antara KBMI 1 itu. Nah kita harapkan itu akan terus terjadi, dan nanti kita lihat bagaimana pertumbuhan selanjutnya,” lanjutnya.

















