Berita

Penebangan Kebun Teh di Bandung: Peringatan Bencana, Ahli ITB Sebut Hujan Ekstrem dan Infiltrasi Rendah

×

Penebangan Kebun Teh di Bandung: Peringatan Bencana, Ahli ITB Sebut Hujan Ekstrem dan Infiltrasi Rendah

Sebarkan artikel ini

Bencana Banjir di Sumatera Jadi Peringatan bagi Bandung Raya

Bencana banjir yang menewaskan lebih dari 400 orang di Sumatera menjadi alarm penting bagi wilayah lain, termasuk Bandung Raya, Jawa Barat. Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi tidak hanya terjadi di satu daerah, tetapi bisa menyebar dan memengaruhi berbagai kawasan dengan risiko serupa.

Banjir di Kota Badung disebabkan oleh beberapa faktor kompleks, termasuk curah hujan tinggi dan sistem drainase yang tidak memadai. Selain itu, penggundulan kebun teh juga berpotensi memicu banjir besar karena mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan. Hal ini menunjukkan bahwa alih fungsi lahan dapat meningkatkan risiko banjir secara signifikan.

Faktor Penyebab Banjir di Bandung

Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Heri Andreas, S.T., M.T., menjelaskan bahwa untuk memahami banjir secara utuh, perlu melihat sejumlah parameter secara bersamaan. Parameter pertama adalah presipitasi atau curah hujan yang bisa bervariasi dari rendah hingga ekstrem.

“Curah hujan itu ditumpahkan ke bumi, lalu oleh permukaan bumi air tersebut ada yang diserap dan ada yang dialirkan, yang diserap disebut infiltrasi, sedangkan yang dialirkan disebut run off,” jelas Heri saat dihubungi.

Besarnya air yang mampu diinfiltrasikan ke tanah sangat bergantung pada kondisi tata guna lahan. Pada kawasan hijau seperti hutan atau hutan lindung, hingga 80 persen air hujan masih dapat diserap, dan hanya sekitar 20 persen yang menjadi limpasan permukaan. Namun, kondisi itu berbanding terbalik ketika terjadi alih fungsi lahan.

Baca Juga :  Mengapa Keracunan Sama dengan Kejang? Ini Penjelasannya!

“Kalau kawasan hijau dialihfungsikan menjadi lahan terbangun, infiltrasinya bisa tinggal 20 persen saja, sementara run off-nya melonjak hingga 80 persen. Ini jelas masalah, karena yang kita harapkan justru sebaliknya,” ujarnya.

Run off yang semakin besar tersebut kemudian akan dibebankan pada sistem lain, seperti daya tampung sungai, danau, situ, maupun drainase kota. Apabila daya tampung ini tidak memadai, maka banjir menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Jenis-Jenis Banjir Berdasarkan Sumbernya

Berdasarkan sumbernya, banjir terbagi ke dalam beberapa jenis, seperti banjir fluvial yang berasal dari luapan sungai dan banjir pluvial yang disebabkan meluapnya sistem drainase. “Di Bandung itu terjadi dua-duanya. Sungai meluap dan drainase juga meluap,” ujarnya.

Ia mencontohkan kawasan Pasteur yang sering terendam akibat sungai yang tidak mampu menampung debit air, serta sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak pernah banjir namun kini kerap tergenang karena penyempitan drainase dan sungai.

Pentingnya Simulasi dan Data dalam Mitigasi Banjir

Menanggapi langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah daerah untuk mengendalikan alih fungsi lahan, Heri menekankan pentingnya pemahaman mekanisme banjir secara ilmiah dan berbasis data. “Seharusnya kita mulai dari simulasi kejadian banjir. Kita simulasikan presipitasi sekian, daya tampung berapa, infiltrasinya berapa, run off-nya berapa. Dari situ baru tahu problem utamanya di mana,” jelasnya.

Baca Juga :  DAMRI Buka Rute Pelabuhan Belawan ke Kota-Kota, Cek Jadwal dan Tarif Lengkap

Namun, ia menilai selama ini langkah mitigasi masih dilakukan tanpa basis data dan simulasi yang kuat. “Kita belum sampai ke tahap evidence-based solution. Masih hipotesis dan dugaan-dugaan, sehingga mitigasinya terkesan coba-coba,” kata Heri.

Ia pun mengingatkan konsekuensi jangka panjang jika alih fungsi kebun teh dan hutan terus dibiarkan tanpa pengawasan ketat, terlebih di tengah ancaman perubahan iklim yang membuat pola hujan semakin ekstrem. “Bayangkan kalau curah hujan makin ekstrem, tapi infiltrasinya justru makin berkurang dan daya tampung tidak dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.

Penghilangan Situ dan Danau Menambah Risiko Banjir

Heri menyoroti banyaknya situ dan danau di Jawa Barat yang kini lenyap akibat berubah menjadi kawasan perumahan dan industri. “Padahal situ dan danau itu fungsinya untuk daya tampung air. Kalau hilang, otomatis daya tampung mengecil,” katanya.

Selain itu, persoalan bantaran dan sempadan sungai yang semakin terdesak bangunan juga menjadi masalah serius yang memperparah potensi banjir. “Kompleksitasnya memang banyak. Tapi sekali lagi, semuanya harus dimulai dari simulasi dan perencanaan berbasis performa desain. Kalau tidak, kita akan terus berada di fase mitigasi coba-coba,” ucapnya.