kejahatan

Peran 5 Pemalak Bunuh Sopir Truk Lampung di Simpang Macan Lindungan

×

Peran 5 Pemalak Bunuh Sopir Truk Lampung di Simpang Macan Lindungan

Sebarkan artikel ini

Rekonstruksi Kasus Pemalakan yang Menewaskan Sopir Truk di Palembang

Polisi akhirnya menggelar rekonstruksi kasus pemalakan yang menewaskan Al Kodirin (44), seorang sopir truk asal Lampung, di Simpang Macan Lindungan Palembang, Senin (24/11/2024) sekitar pukul 19.00 WIB. Dalam rekonstruksi ini, terungkap fakta baru bahwa para pelaku yang beraksi pada saat kejadian terdiri dari lima orang, termasuk Rico Saputra dan MA yang telah ditangkap oleh polisi. Sementara tiga orang lainnya, yaitu YF, DD, dan RF, masih dalam daftar pencarian orang (DPO).

Rekonstruksi dilakukan oleh dua tersangka, yaitu Rico Saputra dan MA, serta saksi dan tiga DPO, yaitu YF, DD, dan RF, yang diperankan oleh anggota kepolisian. Acara tersebut digelar di halaman depan Polrestabes Palembang, Senin (1/12/2025) sore.

Adegan Rekonstruksi

Adegan pertama dimulai dengan tersangka MA dan Rico Saputra bersama YF (DPO), DD (DPO), dan RF (DPO) berkumpul di lampu merah simpang Macan Lindungan Palembang. Selanjutnya, adegan kedua menunjukkan bahwa ketika mobil korban berhenti karena lampu merah menyala, YF, DD, dan RF mendekati mobil dari arah sopir, sedangkan MA berpencar ke bagian depan mobil korban.

Pada adegan ketiga, YF meminta uang kepada korban untuk membeli minum. Korban memberikan uang senilai Rp 2.000, namun YF, DD, dan RF meminta tambahan, sehingga terjadi cekcok antara korban dan ketiganya.

Adegan keempat menunjukkan bahwa setelah menerima uang dari korban, MA langsung mendekati mobil dari arah kiri atau bagian kiri mobil, sambil melihat saksi Husaini. Di adegan kelima, melihat saksi Husaini lengah, MA memasukkan tangannya ke dashboard mobil dan ingin mengambil sesuatu, tetapi ditegur oleh korban dan MA menarik tangannya kembali.

Baca Juga :  Sopir Jakbar Gasak Rp 600 Juta, Kabur Judi Online ke Lampung

Pada adegan keenam, YF mengambil kartu tol milik korban, yang membuat korban turun dari mobil dan membawa besi stainless untuk mengejar YF, disaksikan oleh saksi Husaini. Adegan ketujuh menunjukkan bahwa Riko Saputra mengambil bambu yang ada di pinggir jalan dan langsung mengejar korban dengan memukulnya sekali menggunakan bambu tersebut.

Di adegan kedelapan, saksi Husaini turun dari mobil dan mencoba menenangkan situasi serta berbicara kepada anak M Alfiansyah bersama YF, DD, dan RF untuk mengembalikan kartu tol tersebut. Pada adegan kesembilan, saksi Husaini melihat DD sudah membawa pisau di tangan kanannya.

Adegan kesepuluh menunjukkan bahwa korban langsung memukul DD hingga tersungkur. Melihat hal tersebut, anak MA langsung mengambil antena yang ada di pinggir jalan. Lalu, pada adegan kesebelas, DD mengambil bambu milik Riko Saputra dan melemparkannya ke arah korban, kemudian mengejar korban dan terlibat perkelahian.

Pada adegan keduabelas, para tersangka langsung melarikan diri, sementara saksi Husaini Sanjaya melihat korban sudah tergeletak di bawah pintu mobil truk bagian kanan, disaksikan Indra sambil berlari melihat Riko Saputra. Terakhir, adegan ketigabelas menunjukkan bahwa para tersangka berjalan ke arah Musi 2 dengan menumpang mobil warga yang lewat.

Dalam perjalanan tersebut, DD bercerita bahwa dirinya yang menusuk korban menggunakan pisau dan Yusuf juga bercerita bahwa dia yang mengambil kartu tol milik korban.

Penjelasan dari Kepolisian

Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, AKBP Andrie Setiawan, melalui Kanit Pidum Iptu Dewo Deddi Ananda membenarkan adanya rekonstruksi yang digelar. “Benar hari ini kita menggelar rekonstruksi pemalakan yang terjadi di Simpang Macan Lindungan yang menewaskan korban Al Kodirin. Rekonstruksi digelar sebanyak 13 adegan, peran tersangka diperagakan 2 tersangka, sedangkan 3 DPO dan saksi diperankan oleh anggota Satreskrim,” jelasnya.

Baca Juga :  6 Ledakan Petasan Maut Tewaskan Seorang Anak, Puluhan Terluka

Ditambahkan Dewo, rekonstruksi ini dilakukan untuk membuat terang peristiwa yang terjadi. “Ya, untuk membuat terang peristiwa terjadi. Dan untuk tahap selanjutnya yang akan diserahkan ke kejaksaan,” tutupnya.

Permintaan Keluarga agar Pelaku Ditangkap

Samsudin, kakak kandung Al Kodirin (44), sopir asal Lampung Tengah yang tewas ditikam di Palembang, mengaku tidak ikhlas dengan kepergian adiknya tersebut. Kendati demikian, Samsudin tetap mengikhlaskan kepergian sang adik begitu tragis.

“Ibarat nasi sudah menjadi bubur, mau gimana lagi. Yang penting kita ikhlas untuk kepergian almarhum Kodir. Mudah-mudahan pelakunya cepat ketangkap dan ditahan,” katanya, Rabu (26/11/2025).

Dalam ceritanya, Samsudin mengetahui kematian adiknya dari rekannya yang baru pulang dari Palembang, sekitar 30 menit setelah kejadian. Saat hendak salat Isya ke masjid, ia diberi tahu bahwa keadaan korban dibegal dan saat itu kondisi sedang kritis.

Samsudin pun langsung tak berdaya mendengar kabar yang menimpa adiknya yang saat itu sedang mengantar buah menuju Jambi. “Setelah mendengar kabar itu saya sudah lemah, tidak bisa menanggapi apa-apa lagi. Setelah dipastikan meninggal, jenazah kembali ke rumah, Selasa (25/11/2025) jam 6 pagi, dan langsung dilaksanakan pemakaman,” kata dia.

Samsudin menceritakan, kejadian pembegalan baru pertama kali dialami Kodir selama lebih dari 25 tahun menjalani pekerjaan sebagai sopir. Dia mengatakan, Kodir sejak masih lajang menjadi sopir. Ia sering mengantarkan barang ke sejumlah wilayah, bahkan hingga ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurutnya, Kodir memang kerap dipalak di jalan.

“Kalau pemalakan-pemalakan minta uang di jalan raya sangat sering dialami. Tapi yang sampai menganiaya sopir hingga meninggal dunia baru kali ini terjadi,” ungkapnya.