Pertamina Six Hours Endurance: Era Baru Balap Ketahanan di Sirkuit Mandalika
Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, mencatat sejarah baru di dunia otomotif Indonesia dengan digelarnya ajang balap ketahanan bertajuk Pertamina Six Hours Endurance pada 1 Februari 2026. Acara ini menandai penyelenggaraan balap mobil dengan durasi enam jam pertama di sirkuit kebanggaan NTB tersebut, sekaligus menghidupkan kembali tradisi endurance race di tanah air.
Ajang perdana ini berhasil menarik perhatian 29 pembalap yang terbagi dalam beberapa tim. Konsep balap ketahanan ini berbeda dari balapan sprint pada umumnya. Setiap mobil tidak dikemudikan oleh satu pembalap saja, melainkan melibatkan dua hingga tiga pembalap yang akan bergantian mengemudikan kendaraan selama enam jam penuh. Peran krusial pembalap kedua dan ketiga adalah menjaga ritme balap, melakukan strategi pergantian ban, serta mengisi bahan bakar di area pit stop.
Strategi dan Adaptasi Tim di Lintasan Mandalika
Menurut Vice President Business Development MGPA, Rully Habibie, penyelenggaraan ini merupakan babak baru bagi dunia otomotif di Nusa Tenggara Barat dan momen penting untuk membangkitkan kembali ajang endurance race di Indonesia. “Ini adalah event balap endurance enam jam pertama yang digelar di Mandalika. Sebelumnya memang sudah ada di Indonesia, terutama di Sirkuit Sentul,” ujar Rully.
Ia menambahkan bahwa para tim peserta saat ini tengah beradaptasi dengan ritme balap yang unik ini. “Walaupun enam jam, satu mobil bisa diisi dua atau tiga pembalap. Ada waktu untuk pergantian pembalap, ganti ban, dan strategi lainnya,” jelasnya.
Kendaraan yang dilombakan terbagi dalam dua kategori utama, yaitu kelas 1.200 cc dan kelas 1.500 cc. Menariknya, seluruh persiapan kendaraan dan tim pendukung dilakukan secara mandiri oleh masing-masing tim. Keberagaman peserta juga menjadi salah satu daya tarik utama. Mayoritas pembalap berasal dari Indonesia, namun beberapa tim memilih untuk menggandeng mitra atau pembalap kedua dari kancah internasional, mencakup pembalap dari Asia hingga Eropa. “Pesertanya mayoritas orang Indonesia, tapi ada juga yang membawa partner dari Asia, bahkan Eropa,” ungkap Rully.
Pada hari pertama penyelenggaraan, para peserta dimanfaatkan sesi latihan untuk melakukan trial and error. Fokus utama dalam sesi ini adalah menyempurnakan waktu pergantian pembalap serta menguji berbagai teknik pit stop yang efisien. Hal ini penting untuk memaksimalkan performa tim dan strategi balap dalam menghadapi durasi yang panjang.
Kondisi Lintasan dan Harapan Masa Depan
Menanggapi potensi kendala di lintasan, pihak penyelenggara menyatakan bahwa sejauh ini tidak ada keluhan berarti yang disampaikan oleh para pembalap. “Sejauh ini tidak ada keluhan secara umum, hanya penyesuaian waktu dan ritme balap saja,” kata Rully. Hal ini menunjukkan kesiapan Sirkuit Mandalika sebagai venue balap internasional yang mampu mengakomodasi berbagai jenis ajang balap.
Penyelenggaraan Pertamina Six Hours Endurance ini berawal dari keinginan kuat para mitra penyelenggara untuk menghidupkan kembali tradisi balap ketahanan di Indonesia. Dengan berbagai kondisi sirkuit lain yang mungkin belum sepenuhnya siap untuk menggelar ajang serupa, Mandalika tampil sebagai lokasi yang istimewa untuk memulai kembali momentum ini.
Pihak penyelenggara memiliki harapan besar agar kesuksesan ajang perdana ini dapat menjadi batu loncatan untuk menarik lebih banyak partisipan di masa mendatang. “Harapan kita ke depan, kita bisa lebih meningkatkan untuk kegiatan endurance yang lainnya,” pungkas Rully. Keberhasilan ini diharapkan dapat memicu perkembangan lebih lanjut dalam dunia balap ketahanan di Indonesia, membuka peluang bagi lebih banyak pembalap dan tim untuk berpartisipasi dalam kompetisi yang menuntut stamina, strategi, dan kerja sama tim yang solid.

















