Opini

Perang Bahasa: Langit vs. Akar

×

Perang Bahasa: Langit vs. Akar

Sebarkan artikel ini

Pergeseran Paradigma: Dari Kedalaman Intelektual ke Kemudahan Akses di Era Digital


Sebuah pandangan menarik dari seorang akademisi terkemuka, Bagus Muljadi, baru-baru ini memicu perdebatan sengit. Ia berpendapat bahwa mentalitas kolonial masih tertanam kuat dalam masyarakat Indonesia, tercermin dari kecenderungan menyederhanakan narasi dan bahasa, terutama ketika dianggap berasal dari kalangan “pribumi”. Pandangan ini, yang disampaikan dengan gaya yang menonjolkan intelektualitas, justru menuai kritik balik. Banyak yang menilai cara penyampaiannya gagal, bahkan terkesan berpihak pada citra keintelektualan semata.

Menurut pandangan tersebut, pribumi secara inheren memiliki watak berpikir dan berbahasa sederhana, sementara pejabat kolonial, yang berorientasi pada budaya Barat, memiliki pemikiran kompleks, empiris, dan berpegang teguh pada ilmu pengetahuan. Namun, kritik muncul bahwa pandangan semacam ini justru berisiko menormalisasi kedangkalan epistemik dalam proses kognisi.

Sering kali, kita berlindung di balik kutipan terkenal Albert Einstein yang menyatakan bahwa seseorang baru benar-benar memahami sesuatu jika mampu menjelaskannya dengan sederhana.

Atau, pepatah “ilmu padi” yang mengajarkan bahwa semakin berisi semakin merunduk, menyiratkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, ia akan semakin rendah hati dan bijaksana. Awalnya, proposisi-proposisi ini diterima sebagai kebenaran pragmatis. Namun, di era post-truth, makna tersebut telah bergeser dan dipelintir, seolah menjadi parasit yang merusak substansi aslinya.

Sentimen negatif terhadap intelektualitas ini ternyata cukup umum di sekitar kita. Seseorang yang berdedikasi dan ambisius dalam ranah intelektual sering kali mendapat label negatif. Penting untuk dipahami bahwa sentimen ini bukan ditujukan pada orangnya, jabatannya, atau status sosialnya, melainkan pada gaya tutur, perilaku, dan corak formal yang dianggap sebagai bentuk arogansi, peninggian martabat, atau elitisme.


Tanpa disadari, dialektika percakapan sehari-hari kita telah diracuni oleh budaya komoditas. Dalam budaya ini, pembeli adalah raja, dan raja harus dilayani secepat dan semudah mungkin. Bahkan, ketika penulis merasa kesulitan merangkai kata dan menyesuaikan kosakata yang tersimpan di benak, muncul aura intimidasi dari lawan bicara, memaksa untuk mempertimbangkan kembali pilihan kata: apakah rangkaian kata ini atau ungkapan kalimat itu akan lebih mudah dipahami lawan bicara, agar tidak terkesan hampa.

Baca Juga :  Jadi Pemimpin Jangan Serakah, Kepentingan Rakyat Paling Utama

Daniel Kahneman dalam penelitiannya menegaskan bahwa otak manusia secara alami cenderung menghindari beban kerja mental yang berat. Oleh karena itu, kita lebih mudah menerima informasi yang terasa familiar dan sederhana sebagai kebenaran. Ironisnya, di era post-truth, alih-alih kebenaran dikemas dalam substansi otentik, orisinal, dan epistemik tanpa bias, justru substansi tersebut harus direkonstruksi, dibingkai ulang, dan dibungkus dengan pemaparan yang sederhana, fleksibel, dan praktis, tanpa mempertimbangkan konsekuensi terhadap distorsi makna.

Fenomena ini sayangnya belum mendapat perhatian serius, padahal implikasinya bisa fatal: deligitimasi nilai-nilai rasional dan epistemik sebagai fondasi ilmu pengetahuan. Psikolog pendidikan, Carol Dweck, menjelaskan bahwa situasi yang dianggap menantang dapat menjadi ancaman bagi mereka yang teguh pada pola pikir mapan, sehingga menghambat pertumbuhan kecerdasan jangka panjang.

Situasi ini diperparah oleh ekosistem digital yang mendewakan durasi pendek dan visualisasi menarik, di mana kedalaman substansi sering dikorbankan demi engagement dan retensi penonton. Platform seperti TikTok atau YouTube Shorts secara struktural mendesain pola komunikasi yang membatasi kemampuan kita untuk berdialektika dengan gagasan abstrak yang memerlukan penalaran panjang.


Meskipun masih banyak konten kreator yang mengemas informasi secara aktual dan lengkap, jumlahnya tidak sebanyak mereka yang menawarkan pemahaman dengan gaya face-to-face, menggunakan gestur tubuh dan analogi penyederhanaan yang sering disebut “bahasa bayi”. Akibatnya, spektrum wacana menjadi keruh, dan isu-isu ilmiah menjadi objek kritik dangkal karena ego yang menghendaki kemudahan dalam dialog.

Fenomena ini dimanfaatkan oleh para populis untuk mengendalikan narasi demi mengejar angka penonton. Hal ini menciptakan ilusi kompetensi, di mana seseorang merasa memahami geopolitik atau mekanika kuantum hanya dari video singkat, tanpa pernah menyentuh literatur primer.

Baca Juga :  Ringkasan Spoiler dan Link Baca Manga One Piece Chapter 1163 dalam Bahasa Indonesia: Janji

Tentu saja, tidak dapat diabaikan bahwa penyederhanaan bahasa memang diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, terutama bagi masyarakat dengan akses pendidikan terbatas.

Namun, terdapat garis pemisah yang jelas antara membuat sesuatu menjadi aksesibel dan melakukan penyederhanaan berlebihan yang mendistorsi esensi kebenaran materi hingga kehilangan maknanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi pergeseran paradigma kritis yang dipelopori oleh tokoh publik figur. Ferry Irwandi, bersama komunitas Madilog, berhasil menjangkau audiens yang luas, sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh banyak akademisi. Dengan jutaan pengikut, banyak dari mereka menyukai model penyampaian “bahasa bayi” yang konsisten ia terapkan.

Meskipun demikian, Ferry Irwandi tampaknya memahami batas-batas penyederhanaan tanpa mempersempit ruang logika yang otentik, ilmiah, dan konkret. Hal ini memungkinkan terbentuknya wacana ilmiah populer, di mana setiap orang merasa bebas berargumen tanpa adanya gatekeeping bahasa.


Namun, perlu disadari bahwa setiap aksi memiliki konsekuensi. Kita perlu mengenal istilah Pseudo-Intelektualisme, sebuah fenomena di mana seseorang berusaha terlihat pintar tanpa landasan intelektual yang kuat. Ini bisa menjadi racun yang lebih mematikan karena berada dalam ranah abu-abu. Lev Vygotsky, melalui konsep Zone of Proximal Development, mengajarkan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika individu didorong sedikit di luar zona nyaman dengan bantuan mentor, bukan dengan menurunkan standar materi hingga titik terendah demi kenyamanan siswa.

Menyamaratakan standar komunikasi publik ke level terendah dengan dalih pemerataan dan inklusivitas justru merupakan bentuk penghinaan terselubung terhadap potensi kecerdasan masyarakat. Mentalitas ini hanya dapat diberantas melalui kesadaran kolektif yang muncul dalam situasi kritis. Bagaimanapun, akar dari kebiasaan mengonsumsi informasi instan adalah ketersediaan dan hilangnya urgensi kesadaran akan hal ini.