Human Interest

Perpustakaan 24 Jam Mahasiswa Ambon: Antitesa di Pojok Kos

×

Perpustakaan 24 Jam Mahasiswa Ambon: Antitesa di Pojok Kos

Sebarkan artikel ini

Perpustakaan 24 Jam di Gang Sempit: Gerakan Melawan Kesenjangan Akses Pengetahuan

Di tengah hiruk pikuk Kota Ambon, sebuah inisiatif unik hadir di sebuah gang sempit di kawasan Perumnas Tihu, Poka. Bukan sebuah toko megah atau kafe trendi, melainkan sebuah lapak sederhana berukuran satu meter persegi dengan dominasi warna hijau menyala. Di atasnya, tumpukan buku tersusun rapi, menjadi penanda sebuah ruang yang lebih dari sekadar tempat membaca biasa. Inilah Perpustakaan Menaina, sebuah perpustakaan 24 jam yang didirikan oleh Dinda Hijrah di teras kos-kosannya.

Perpustakaan ini bukan sekadar tempat untuk mencari referensi tugas kuliah semata. Sejak siang hingga larut malam, bahkan menjelang subuh, pengunjung silih berganti memadati teras kos tersebut. Mahasiswa, warga, bahkan para akademisi terlihat asyik tenggelam dalam dunia literasi, ditemani secangkir kopi “kejujuran” yang disediakan. Kebiasaan membaca dan berdiskusi menjadi pemandangan lumrah di ruang publik yang tak terduga ini.

Gerakan Melawan Kesenjangan Distribusi Pengetahuan

Perpustakaan Menaina, yang secara resmi dibuka pada 21 Desember 2025, lahir dari sebuah kesadaran mendalam akan ketimpangan akses terhadap pengetahuan di wilayah Indonesia Timur. Dinda Hijrah, seorang alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Ambon, melihat fenomena ini sebagai sebuah bentuk perlawanan.

“Kami hadirkan Perpus Menaina sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem distribusi pengetahuan yang timpang yang kami rasakan di wilayah Indonesia Timur,” ungkap Dinda dengan penuh semangat.

Koleksi buku di Perpustakaan Menaina cukup beragam, namun buku-buku yang berkaitan dengan hukum dan perempuan mendominasi. Pemilihan tema ini selaras dengan makna nama “Menaina” itu sendiri. Dalam bahasa Seram, “Mena” berarti di depan, sementara “Ina” berarti ibu atau perempuan. Dengan demikian, Menaina bukan hanya sekadar ruang baca, melainkan sebuah simbol gerakan yang mengedepankan peran perempuan dan kemajuan pengetahuan.

Protes Terhadap Mahal dan Terbatasnya Akses Buku

Dinda menegaskan bahwa kehadiran Perpustakaan Menaina merupakan bentuk protes nyata terhadap dua persoalan krusial yang dihadapi masyarakat di Maluku: mahalnya harga buku dan terbatasnya jam operasional perpustakaan umum.

Baca Juga :  Ayu Rayana: Asa Sederhana Raih Sarjana di Unesa

“Selama ini saya selalu mengkritik pemerintah, aspirasi saya ada dua. Pertama, pemerintah harus membuat kebijakan subsidi harga pengiriman buku ke wilayah Indonesia timur agar menekan ongkir buku yang tinggi, sehingga buku-buku bisa dibeli oleh kami,” tegasnya.

Mahalnya ongkos kirim buku ke Indonesia Timur menjadikan harga buku di wilayah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan di Pulau Jawa. Hal ini secara tidak langsung menciptakan jurang pemisah dalam akses pengetahuan.

“Harga buku bisa sesuai dengan kantong pelajar dan mahasiswa, bisa dijangkau oleh rakyat yang ekonominya rendah. Karena jika buku mahal maka ilmu akan jadi barang mewah, maka pengetahuan hanya akan menjadi privilege,” ujar Dinda, menyoroti dampak negatif dari mahalnya buku terhadap pemerataan akses ilmu pengetahuan.

Baginya, kesetaraan yang sesungguhnya tidak hanya mencakup kebutuhan dasar, tetapi juga akses yang sama terhadap buku-buku berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Antusiasme pengunjung yang tak pernah putus, bahkan hingga larut malam, membuktikan bahwa bukan kemalasan membaca yang menjadi akar persoalan literasi rendah, melainkan ketidakadilan dalam sistem distribusi pengetahuan.

Inisiatif Mandiri: “Rakyat Cerdaskan Rakyat”

Keterbatasan jam operasional perpustakaan kampus, yang umumnya hanya buka pada jam kerja, serta minimnya layanan perpustakaan daring, semakin memperkuat tekad Dinda untuk menciptakan solusi. Berbekal lebih dari 300 judul buku koleksi pribadinya, ia membangun Perpustakaan Menaina sebagai ruang baca yang terbuka 24 jam untuk umum.

Tagline Perpustakaan Menaina, “Rakyat Cerdaskan Rakyat,” menjadi cerminan filosofi di baliknya. Dinda percaya bahwa kecerdasan tidak datang dari pemberian kekuasaan, melainkan dari kesadaran dan inisiatif diri masyarakat itu sendiri.

“Jadi kami menginisiasi sendiri, kami menciptakan ruang dan membuka akses seluas-luasnya kepada buku maka proses pendidikan terus berjalan, jadi pendidikan tidak hanya terbatas di lembaga formal,” jelas Dinda, yang saat ini sedang menempuh studi double degree pada Fakultas Hukum.

Baca Juga :  Davina Karamoy & Dito Ariotedjo: Isu Perselingkuhan Gemparkan Medsos

Perpustakaan ini tidak hanya menyediakan buku-buku akademik yang biasa diakses oleh mahasiswa dan profesor, tetapi juga menjadikannya dapat diakses oleh masyarakat luas secara gratis. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat saling mencerdaskan, sejalan dengan amanat konstitusi.

Saat ini, buku-buku di Perpustakaan Menaina belum dapat dipinjam untuk dibawa pulang karena keterbatasan jumlah eksemplar per judul. Namun, Dinda dan tim relawannya, termasuk Sukma Patty, terus berupaya mengembangkan perpustakaan ini.

Kopi Kejujuran dan Nuansa Inklusif

Salah satu keunikan lain dari Perpustakaan Menaina adalah penyediaan “kopi kejujuran”. Pengunjung dapat menyeduh kopi sendiri dengan fasilitas yang disediakan, seperti air panas, kopi bubuk saset, sendok, dan gelas. Menariknya, tidak ada patokan harga untuk secangkir kopi. Pengunjung dipersilakan untuk memberikan kontribusi seikhlasnya ke dalam kotak yang tersedia.

Haspa, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan, mengaku sering mengunjungi Perpustakaan Menaina usai kuliah. Baginya, tempat ini menjadi alternatif yang berkualitas untuk mencari referensi, terutama ketika perpustakaan kampus memiliki keterbatasan waktu operasional.

“Baru pulang kuliah, kami baca untuk referensi. Sebab, di Perpustakaan tidak ada dan terbatas waktu,” ujarnya.

Buku-buku populer seperti “Madilog” karya Tan Malaka dan novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” karya Brian Khrisna menjadi beberapa pilihan bacaan favorit pengunjung. Kehadiran Menaina di dekat kos-kosan menjadi sarana nongkrong baru yang sarat makna, membuka cakrawala berpikir melalui asupan bacaan yang berkualitas.

Meskipun dikelola secara mandiri dan swadaya, Perpustakaan Menaina terus berkembang. Dinda dan timnya bertekad untuk menambah jumlah dan keragaman koleksi buku. Salah satu buku yang menarik perhatian adalah “Confessions of an Economic Hit Man” karya John Perkins, yang membongkar sisi gelap politik dan ekonomi global serta dampaknya terhadap negara-negara berkembang. Inisiatif seperti Perpustakaan Menaina menjadi bukti nyata bahwa semangat literasi dapat tumbuh subur bahkan di tengah keterbatasan, asalkan ada kemauan dan niat tulus untuk berbagi pengetahuan.