Berita

PHRI Bali: Wisata Bali Pulih Jelang Nataru

×

PHRI Bali: Wisata Bali Pulih Jelang Nataru

Sebarkan artikel ini

Pariwisata Bali di Akhir Tahun 2025: Angka Kunjungan Membaik, Tantangan Domestik Tetap Ada

Denpasar, Bali – Di tengah berbagai spekulasi mengenai tingkat kunjungan wisatawan, para pelaku industri perhotelan dan restoran di Bali dengan tegas membantah anggapan bahwa Pulau Dewata sepi pengunjung selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menyatakan bahwa kondisi pariwisata Bali justru menunjukkan tren yang sangat positif, terutama berkat lonjakan kedatangan wisatawan mancanegara.

Menurut Rai Suryawijaya, sepanjang tahun 2025, Bali diproyeksikan akan menyambut kedatangan sekitar 7 juta wisatawan asing. Angka ini tidak hanya melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 6,5 juta wisatawan, tetapi juga menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 700 ribu dibandingkan dengan realisasi tahun 2024 yang tercatat di kisaran 6,3 juta kunjungan. “Tahun 2025 ini justru ada peningkatan kedatangan wisatawan mancanegara, dari tahun 2024. Untuk internasional turisnya jadi 7 juta,” ungkap Rai dalam sebuah pernyataan.

Tren Positif Wisatawan Asing, Penurunan Wisatawan Domestik

Meskipun optimisme menyelimuti sektor wisatawan asing, Rai Suryawijaya mengakui adanya penurunan tipis pada kunjungan wisatawan domestik. Diperkirakan, jumlah wisatawan domestik mengalami penurunan sekitar 10 persen dari target 10 juta orang pada tahun 2025. Penurunan ini, menurut Rai, dipengaruhi oleh beberapa faktor utama.

Baca Juga :  OJK Issues New Regulation on Crowdfunding Services Providers

Salah satu faktor krusial adalah pilihan masyarakat Indonesia yang kini semakin beragam dalam menentukan destinasi liburan. Banyak warga yang memilih untuk berlibur ke luar negeri, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. “Karena harga tiket pesawatnya, kalau ke Bali tiketnya harus promo,” jelas Rai, menyoroti aspek biaya transportasi udara sebagai penentu utama.

Selain itu, kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian juga turut memberikan dampak. Sebagian masyarakat dengan kondisi ekonomi yang lebih terbatas memilih untuk merayakan momen liburan di kota masing-masing demi menghemat pengeluaran besar yang diperlukan untuk perjalanan jauh.

Momen Nataru Mulai Menggeliat

Menyikapi periode Nataru yang krusial, Rai Suryawijaya menegaskan bahwa situasi pariwisata Bali mulai menunjukkan perbaikan signifikan sejak tanggal 20 Desember 2025. Ia mengamati bahwa banyak properti hotel yang masih mencatatkan tingkat okupansi sekitar 60 persen.

“Bali tidak sepi, situasi mulai 20 Desember ke atas ini mulai bagus, kalau ada properti yang okupansinya masih 60 persen, satu dua properti mungkin harus terus dievaluasi ya, bisa jadi kualitasnya menurun, atau service-nya kurang maksimal,” jelasnya.

Baca Juga :  Kalender 2026: Daftar long weekend di setiap bulannya

Rai juga menambahkan bahwa tingkat keterisian hotel saat ini juga turut mendapat tekanan akibat bertambahnya pasokan akomodasi di Bali. Dalam beberapa waktu terakhir, geliat pembangunan vila dan hotel baru semakin marak, termasuk penambahan jumlah kamar pada hotel-hotel yang sudah ada.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh PHRI Bali, proyeksi jumlah wisatawan yang akan mengunjungi Bali sepanjang tahun 2025 adalah sebanyak 15,99 juta orang. Angka ini diprediksi mengalami penurunan tipis sebesar 2,8 persen dibandingkan dengan jumlah wisatawan pada tahun 2024 yang mencapai 16,46 juta orang.

Sementara itu, data sementara dari PT Angkasa Pura untuk periode 1-23 Desember 2025 menunjukkan bahwa Bali telah dikunjungi oleh 839.155 wisatawan. Angka ini tercatat mengalami penurunan sebesar 43,8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024, di mana Bali menerima kedatangan 1,49 juta wisatawan.

Meskipun terdapat tantangan dalam menarik wisatawan domestik, data kunjungan wisatawan asing yang terus meningkat memberikan sinyal positif bagi pemulihan dan pertumbuhan sektor pariwisata Bali. Fokus pada peningkatan kualitas layanan, promosi yang lebih menarik, dan diversifikasi produk wisata diharapkan dapat terus mendorong Bali sebagai destinasi unggulan di kancah global.