Nasional

Proyek BRT Bandung: Kualitas Fisik Harus Memadai

×

Proyek BRT Bandung: Kualitas Fisik Harus Memadai

Sebarkan artikel ini

DPRD Kota Bandung Minta Sinergi dalam Pengelolaan Proyek BRT

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung menyerukan keterlibatan aktif pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam memastikan proyek Bus Rapid Transit (BRT) dikerjakan secara optimal. Sebagai proyek strategis nasional, kualitas pembangunan transportasi massal ini tidak boleh diabaikan agar tidak hanya menjadi infrastruktur yang “asal jadi”.

Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Uung Tanuwidjaja, menegaskan bahwa koordinasi intensif antara Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Perhubungan harus segera dilakukan. Ia menyatakan bahwa besarnya anggaran yang dialokasikan untuk proyek ini harus sebanding dengan kualitas fisik yang dihasilkan.

“Jangan sampai ada pembangunan fisik, tapi hasilnya jelek. Kan anggarannya bintang lima, jangan sampai hasilnya kaki lima,” tegasnya.

Desakan ini muncul setelah Wali Kota Bandung sempat membekukan sementara izin pembangunan proyek BRT. Keputusan tersebut diambil setelah ditemukan beberapa masalah terkait kualitas pengerjaan infrastruktur yang dinilai tidak memenuhi standar.

Baca Juga :  Polri Pastikan Senjata yang Digunakan Pelaku Teror Mabes Polri Jenis Airgun

Uung mengingatkan agar proyek ini mendapatkan perhatian serius guna menghindari pengalaman buruk seperti keterlambatan pembangunan Flyover Nurtanio. Menurutnya, pembangunan BRT harus mencerminkan standar kelas nasional yang mumpuni.

“Anggaran di kementerian cukup besar, jadi hasilnya harus bintang lima,” ujarnya.

Pentingnya Sosialisasi kepada Masyarakat

Selain aspek fisik, Uung juga menyoroti pentingnya sosialisasi kepada masyarakat luas. Ia menilai pemahaman warga terkait tujuan dan manfaat kehadiran BRT masih minim, sehingga perlu adanya edukasi yang masif sebelum operasional resmi dimulai.

“Sosialisasi harus terus dilakukan sampai BRT ini diluncurkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia memperingatkan Pemerintah Kota Bandung untuk mengantisipasi dampak sistemik dari pembangunan terhadap arus lalu lintas dan kondisi sosial. Salah satu titik krusial yang disorot adalah Jalan Sudirman. Uung menilai ruas jalan tersebut saat ini sudah menyempit akibat perluasan trotoar, sehingga kehadiran jalur khusus BRT berisiko memicu kemacetan parah.

Baca Juga :  KPK Cegah Potensi Kerugian Keuangan Negara dalam Penyediaan Air Bersih di Jakarta

Tantangan di Kawasan Andir dan Ciroyom

Persoalan lain yang membayangi adalah keberadaan pasar tumpah di kawasan Andir dan Ciroyom. Mengingat BRT dijadwalkan mulai beroperasi pukul 06.00 WIB, potensi gesekan dengan aktivitas pasar tradisional menjadi tantangan tersendiri.

“Dikhawatirkan akan menimbulkan dampak sosial. Karena itu sosialisasi dan antisipasi harus dilakukan,” jelasnya.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat duduk bersama untuk mengkaji berbagai hambatan teknis maupun sosial di lapangan. Pembangunan diharapkan tidak hanya fokus pada pencapaian fisik semata, tetapi juga mempertimbangkan dinamika ekonomi masyarakat sekitar.

“Kalau BRT berjalan lancar, itu bagus bagi Kota Bandung karena punya transportasi yang mumpuni, tepat waktu, dengan trayek yang teratur,” pungkasnya.