Human Interest

Psikolog Ungkap Trauma Anak Korban Asusila Ayah di Raja Ampat

×

Psikolog Ungkap Trauma Anak Korban Asusila Ayah di Raja Ampat

Sebarkan artikel ini

Kasus Dugaan Inses di Raja Ampat: Jeritan Hati Seorang Putri yang Terbongkar Lewat Media Sosial

Sebuah kabar mengejutkan datang dari Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, di mana dugaan kasus asusila yang dilakukan oleh seorang pejabat eselon Pemerintah Kabupaten Raja Ampat berinisial FW (58) terhadap putri kandungnya sendiri, VN (35), telah menggemparkan dunia maya. Peristiwa pilu ini terungkap melalui siaran langsung di akun media sosial Facebook milik korban, yang secara gamblang menceritakan nestapa yang telah dialaminya sejak usia dini.

Kehidupan VN dipenuhi dengan ancaman, penindasan, dan penderitaan yang tak terperikan. Meskipun berbagai upaya telah ditempuh untuk menghentikan perbuatan bejat tersebut, korban merasa tak berdaya dan tak mampu berbuat banyak. Puncak dari segala kepedihan ini akhirnya mendorongnya untuk memberanikan diri membuka luka lama ke publik, berharap ada keadilan dan pertolongan yang datang.

Analisis Psikologis: Potensi Gangguan Kepribadian Pelaku

Menanggapi kasus yang sangat memprihatinkan ini, seorang psikolog dari Biro Psikologi Bina Insan Papua (BIP) Sorong, Nursiah Yusdiranti Barus, S.Psi, Psikolog, C.H, C.Ht, memberikan pandangannya. Menurutnya, jika dugaan asusila ini benar terjadi, pelaku kemungkinan besar memiliki gangguan psikologis yang serius. “Ini mengindikasikan adanya gangguan kepribadian yang perlu ditelisik lebih dalam,” ujar Nursiah.

Nursiah menjelaskan bahwa pelaku kekerasan seksual dalam relasi keluarga, terutama dalam konteks ayah dan anak, sering kali memiliki luka psikologis masa lalu yang belum tertangani dengan baik. Pengalaman seksual yang tidak sehat di masa lalu, ditambah dengan persepsi kekuasaan absolut seorang ayah terhadap anaknya, dapat memicu terjadinya tekanan, intimidasi, dan pemaksaan. Dalam pandangan pelaku, anak dianggap sebagai sosok yang lemah dan berada di bawah kendalinya, sehingga memudahkan terjadinya eksploitasi.

Dari Korban: Beban Trauma dan Keberanian Mengungkap

Dari sisi korban, keberanian VN untuk membongkar aib keluarganya ke publik bukanlah hal yang mudah. “Anak biasanya memendam, berharap perbuatan itu tidak terulang, namun ketika terus berulang, luka psikologis sangat berat dan traumatis,” terang Nursiah. Trauma akibat kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang tua kandung dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang signifikan pada kehidupan korban, termasuk dalam hal hubungan emosional dan seksual di masa depan.

Baca Juga :  Sosok Wanita Karaoke Ricky Harun: Bantah LC, Akui 3 Kali Bertemu

Oleh karena itu, pendampingan psikologis yang intensif sangat krusial bagi korban untuk dapat memulihkan trauma yang mendalam dan memberikan kekuatan untuk menghadapi proses hukum. Nursiah menekankan pentingnya penanganan kasus ini secara serius, mengingat kekerasan seksual di masyarakat sering kali digambarkan sebagai fenomena gunung es, di mana banyak kasus yang tidak pernah terungkap ke permukaan.

Kasus inses antara ayah kandung dan anak ini, menurut Nursiah, merupakan kasus yang pertama kali viral di wilayah Papua. “Ini harus ditangani secara serius dan hati-hati. Jangan sampai ada kasus lain yang tersembunyi atau tidak terungkap,” tegasnya.

Kesaksian Korban: Perjuangan Panjang Melawan Penderitaan

VN sendiri menceritakan kronologi yang sangat menyayat hati. Tindakannya membongkar tabiat ayahnya merupakan puncak dari penderitaan yang telah dialaminya hampir sepanjang hidupnya. “Kekerasan yang saya alami bukan satu dua kali. Ini sejak usia lima tahun sampai puncaknya kemarin (live FB),” ungkap VN.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, VN mengaku nekat membongkar perilaku ayahnya karena sudah tidak kuat lagi menahan beban penderitaan. Ia telah mencoba berbagai cara, termasuk memberitahu anggota keluarga lain agar menegur atau memperingatkan pelaku. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Pihak keluarga justru memilih untuk bungkam, lebih memprioritaskan menjaga nama baik keluarga dan status ayahnya yang merupakan pejabat daerah.

“Saya akhirnya mencoba tenang, tenang, tetapi kemarin itu tidak bisa lagi ditahan, akhirnya saya live,” ujarnya. Ia berharap dengan cara tersebut, ia bisa mendapatkan bantuan dan dukungan, yang ternyata benar terwujud dengan banyaknya pihak yang memberikan pendampingan dan dukungan.

VN mengungkapkan bahwa perulangan pelecehan ini terjadi karena dirinya menjadi semacam “tameng” atau jaminan bagi ibu dan adik-adiknya. Adik nomor dua sudah berkeluarga, nomor tiga masih menempuh pendidikan tinggi, dan adik bungsu memiliki kondisi autis. Sang ayah kerap melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap ibu dan adik-adiknya apabila keinginannya tidak dituruti.

Baca Juga :  UMRAH Resmi Lantik Pengurus Ormawa: Wujudkan Sinergi dan Persatuan Baru

Keperawanan VN direnggut saat ia masih duduk di bangku kelas XI SMA, di bawah ancaman kekerasan fisik yang mengerikan, termasuk dipukuli hingga disetrum. Setelah ibunya meninggal dunia pada September 2025, VN memutuskan untuk menyewa kos agar dapat mengurangi intensitas pertemuan dengan ayahnya. Namun, karena keadaan mengharuskannya merawat adik bungsu dan keponakannya yang masih kecil, VN tetap harus pulang ke rumah setiap hari untuk memasak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.

Pada Rabu malam (11/12/2025), VN datang ke rumah seperti biasa untuk memasak bagi adiknya. Namun, karena kelelahan, ia tertidur sekitar pukul 23.30 WIT. Tiba-tiba, ayahnya yang dalam kondisi mabuk masuk ke kamar dan berusaha memaksa untuk berhubungan intim. “Pintu kamar itu pernah didobrak, tidak bisa tertutup rapat, sehingga bapa mudah masuk,” kenang VN.

“Beliau minum (mabuk) di kamar, terus datang ke sebelah kamar saya, lalu pegang paha. Saya kaget lari keluar, tetapi malah diancam dilapor ke polisi,” lanjutnya. VN terus dilanda kebingungan dan ketakutan. Segala upaya yang dilakukannya belum membuahkan hasil, bahkan justru berbalik merugikannya. Ia terpaksa menjalani hari-hari yang penuh dilema, tidak bisa menjalani kehidupan normal layaknya manusia pada umumnya.

“Kalau bisa lari, saya sudah lari, paling cuma bisa ke Sorong, tetapi begitu saya tidak ada, mama pasti telepon, ini bapa begini-begini. Mereka dapat ancam kekerasan dan sebagainya, terpaksa harus kembali lagi,” ujarnya dengan suara tercekat. “Di satu sisi, itu sa pu bapa (itu ayah saya), tetapi kalau dia sayang, kenapa bapa bikin saya begini,” katanya terbata-bata, lalu terdiam sejenak, meratapi nasibnya yang begitu kelam.