Olahraga

Putra Ibrahimovic Ikuti Jejak Ayah, Tinggalkan Milan Menuju Klub Masa Muda

×

Putra Ibrahimovic Ikuti Jejak Ayah, Tinggalkan Milan Menuju Klub Masa Muda

Sebarkan artikel ini

Putra Zlatan Ibrahimovic Susuri Jejak Ayah di Ajax Amsterdam

Kisah sepak bola sering kali diwarnai oleh warisan generasi, dan kali ini, sorotan tertuju pada Maximilian Ibrahimovic, putra dari legenda Swedia, Zlatan Ibrahimovic. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Maximilian mengambil langkah signifikan dalam kariernya dengan pindah dari akademi AC Milan menuju Ajax Amsterdam. Kepindahan ini bukan sekadar transfer biasa, melainkan sebuah perjalanan yang membangkitkan nostalgia, seolah mengulang kembali jejak sang ayah yang pernah menghiasi skuat raksasa Belanda tersebut.

Kesepakatan transfer ini telah dipastikan rampung, dengan Maximilian bergabung dengan Ajax dengan status pinjaman hingga akhir musim. Tidak hanya itu, Ajax memiliki opsi untuk mempermanenkan statusnya dengan biaya transfer senilai 3,5 juta euro. AC Milan, dalam negosiasi, juga menyertakan klausul persentase penjualan kembali, sebuah langkah strategis yang umum dalam dunia transfer pemain muda.

Maximilian, yang akrab disapa Max, dijadwalkan tiba di Amsterdam untuk menjalani serangkaian tes medis. Sebelumnya, ia telah menimba ilmu di AC Milan Futuro, tim akademi Rossoneri, sejak tahun 2022. Selama memperkuat tim muda Milan di Serie D musim ini, Maximilian menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Ia berhasil mencetak lima gol dan memberikan empat assist dalam 16 pertandingan. Meskipun timnya harus menelan pil pahit terdegradasi dari Serie C musim lalu, kontribusi individunya tetap patut diapresiasi.

Nostalgia Ibrahimovic di Tanah Amsterdam

Kepindahan Maximilian ke Ajax Amsterdam secara otomatis membangkitkan gelombang nostalgia bagi para penggemar sepak bola. Sudah dua dekade lebih berlalu sejak nama besar Ibrahimovic terakhir kali tercatat dalam daftar pemain Ajax. Zlatan Ibrahimovic sendiri pernah menjadi bagian penting dari klub legendaris Belanda itu pada periode 2001 hingga 2004. Di Ajax, Zlatan menjelma menjadi bintang, mencatatkan 48 gol dan 17 assist dari 110 penampilan di berbagai kompetisi. Panggung Ajax menjadi batu loncatan besar bagi Zlatan sebelum ia melanjutkan kariernya di level elite Eropa, termasuk petualangannya yang panjang di Serie A Italia.

Baca Juga :  Arema FC: Transfer Kilat Rio Fahmi & Hansamu Yama Jadi Sorotan

Selama memperkuat Ajax, Zlatan Ibrahimovic tidak hanya meninggalkan jejak gol, tetapi juga torehan prestasi gemilang. Ia berhasil mempersembahkan dua gelar juara Liga Belanda, satu gelar Piala Belanda, dan satu gelar Piala Super Belanda. Kini, tongkat estafet seolah berpindah tangan kepada putranya, Maximilian, yang diharapkan mampu meneruskan, bahkan melampaui, kesuksesan sang ayah di klub yang sama.

Menariknya, Zlatan Ibrahimovic sendiri masih memiliki ikatan emosional yang kuat dengan AC Milan. Ia baru-baru ini ditunjuk sebagai penasihat senior klub tersebut. Sehingga, kepindahan Maximilian ke Ajax menjadi sebuah narasi simbolis yang unik: seorang Ibrahimovic meninggalkan Milan menuju Amsterdam, sebuah déjà vu dari apa yang pernah dilakukan sang ayah dua dekade silam. Publik kini menanti dengan penuh harap dan rasa penasaran, apakah Maximilian Ibrahimovic akan mampu mengukir kisah emasnya sendiri, atau justru akan terus hidup di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya.

Awalnya Benci Sepak Bola: Kisah Mengejutkan Maximilian

Di balik nama besar yang disandangnya, Maximilian Ibrahimovic menyimpan sebuah kisah yang cukup mengejutkan. Ternyata, putra dari legenda sepak bola Zlatan Ibrahimovic ini pernah merasakan kebencian terhadap olahraga yang kini membawa namanya ke panggung internasional. Pengakuan jujur ini ia sampaikan setelah mendapatkan panggilan pertamanya untuk memperkuat timnas Swedia U-18 pada Oktober 2024.

Dalam sebuah wawancara, Maximilian mengungkapkan bahwa hubungannya dengan sepak bola tidak selalu mulus sejak awal. “Saya mulai cukup terlambat, saya baru berusia sembilan tahun,” ujarnya. Perjalanan karier sepak bolanya pun terbilang nomaden, mengikuti jejak sang ayah yang berpindah-pindah klub di berbagai negara. Ia memulai karier juniornya di klub lokal di Paris, kemudian bergabung dengan akademi PSG, lalu melanjutkan ke akademi Manchester United. Setelah itu, ia mengikuti kepindahan keluarganya ke Amerika Serikat, bermain di Los Angeles, dan sempat membela LA Galaxy. Perjalanan berlanjut ke Swedia bersama Hammarby, sebelum akhirnya berlabuh di Italia bersama AC Milan.

Baca Juga :  Wasit Pemimpin Laga Persib Bandung vs Dewa United

Namun, di balik perjalanan panjang dan pengalaman di berbagai akademi ternama tersebut, Maximilian menyimpan perasaan getir terhadap sepak bola. “Saya benci sepak bola,” ungkapnya dengan terus terang. “Sampai umur 11 tahun, saya membenci sepak bola. Saya pikir itu adalah hal terburuk di dunia.” Perasaan tersebut mulai berubah ketika ia menginjak usia 11 hingga 12 tahun. “Baru ketika menginjak usia 11 hingga 12 tahun, perasaannya mulai berubah. Saat itu saya mulai menyukainya,” tambahnya.

Alasan utama di balik kebencian Maximilian terhadap sepak bola adalah bayang-bayang besar nama Zlatan Ibrahimovic. “Tidak ada yang terasa benar. Semuanya salah. Saya selalu dibandingkan dengan ayah saya,” tuturnya dengan jujur. Tekanan sebagai anak seorang legenda sepak bola membuatnya merasa tidak cocok berada di dunia sepak bola. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berhasil menemukan kecintaannya sendiri pada olahraga ini. Kini, Maximilian Ibrahimovic perlahan namun pasti berupaya membangun identitasnya sendiri, bukan sekadar sebagai ‘anak Zlatan’, melainkan sebagai pesepak bola muda yang bertekad menulis kisahnya sendiri di lapangan hijau.