Berita

Regulasi AI Indonesia Masih Tidak Jelas, Think Policy dan Inggris Dorong Tata Kelola Aman dan Inklusif

×

Regulasi AI Indonesia Masih Tidak Jelas, Think Policy dan Inggris Dorong Tata Kelola Aman dan Inklusif

Sebarkan artikel ini

Tantangan dan Peluang AI di Indonesia

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) di dunia, Indonesia kini menghadapi dilema penting: bagaimana menyeimbangkan laju inovasi teknologi dengan tanggung jawab sosial dan tata kelola yang aman. Pertanyaan ini muncul setelah berlangsungnya ASEAN–UK AI Innovation Summit di Kuala Lumpur, sebuah forum yang membahas masa depan AI di kawasan Asia Tenggara.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Think Policy bersama Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, dengan dukungan Komdigi, merilis laporan berjudul ‘Co-Creating Indonesia’s AI Future Through Meaningful Policy Dialogues’. Laporan ini menjadi peta jalan komprehensif untuk memahami bagaimana AI berkembang di Indonesia, termasuk peluang, risiko, dan regulasi yang dibutuhkan agar teknologi ini berpihak pada manusia.

Florida Andriana, Chief Growth Officer Think Policy, menyampaikan bahwa banyak perbincangan soal AI masih terlalu teknis, padahal teknologi ini menyentuh kehidupan sehari-hari. Dari rekomendasi belanja hingga proteksi dari penipuan, bahkan bagaimana anak-anak belajar di sekolah, semua terkait AI. Tujuan dari laporan ini adalah mempertemukan suara publik, inovator, dan pembuat kebijakan agar arah AI Indonesia benar-benar kontekstual, adaptif, dan tidak lepas dari nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga :  Ramalan zodiak Scorpio hari ini, 4 Januari 2026: Bangun hubungan yang lebih transparan

Laporan ini disusun sepanjang 2024–2025 melalui dialog dengan berbagai aktor dari enam sektor strategis: e-commerce, keuangan, kesehatan, pendidikan, ekonomi kreatif, dan keberlanjutan. Dari percakapan lintas sektor itu, tim penyusun merangkum realitas lapangan: bagaimana AI diimplementasikan, siapa para pemain utamanya, serta celah yang masih perlu dijembatani lewat kebijakan publik.

Meski adopsi AI di Indonesia terus meningkat, dari layanan keuangan digital hingga aplikasi pendidikan, tantangannya tetap besar. Siapa yang bertanggung jawab jika sistem AI membuat kesalahan? Apakah akses ke teknologi ini benar-benar merata? Dan bagaimana memastikan algoritma tidak memperkuat bias sosial yang sudah ada?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, laporan Think Policy mengajukan enam fondasi ekosistem AI nasional yang ideal:

  1. Infrastruktur digital yang merata dan siap berkembang.
  2. Talenta digital yang kompeten secara teknis dan beretika.
  3. Tata kelola data yang aman dan saling terhubung.
  4. Ekosistem inovasi yang terbuka untuk eksperimen dan kolaborasi.
  5. Etika dan inklusivitas sebagai prinsip utama.
  6. Partisipasi publik dalam perumusan kebijakan teknologi.
Baca Juga :  50 Kampus Swasta Terbaik Indonesia Versi UniRank 2025

Alih-alih mendorong adopsi AI secara membabi buta, laporan ini menekankan pentingnya “eksperimen yang relevan”, inovasi yang bisa diterapkan secara nyata tanpa meninggalkan kelompok rentan.

Sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki posisi strategis bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga penentu arah tata kelola AI di kawasan. Melalui laporan ini, Think Policy dan Kedutaan Inggris ingin mendorong literasi publik sekaligus membuka ruang dialog antara masyarakat, industri, dan pembuat kebijakan.

“AI seharusnya bukan hanya soal efisiensi, tapi juga tentang keadilan dan masa depan manusia,” tegas Florida. Laporan ‘Co-Creating Indonesia’s AI Future’ diharapkan menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan AI di Indonesia bukan hanya cepat, tapi juga bermakna, aman, dan berpihak pada semua orang.