Sektor perbankan Indonesia diprediksi akan menghadapi tantangan signifikan memasuki tahun 2025. Berbagai faktor, mulai dari dinamika likuiditas hingga laju pertumbuhan kredit, akan membentuk lanskap perbankan di masa mendatang. Diperkirakan, kebijakan makroekonomi akan menjadi katalis utama yang memengaruhi arah perkembangan sektor ini hingga tahun 2026.
Menyikapi potensi perubahan tersebut, para analis telah merumuskan sejumlah rekomendasi saham emiten perbankan yang patut dicermati. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap kinerja keuangan, strategi bisnis, dan prospek masing-masing bank.
Analisis Emiten Perbankan dan Rekomendasi Saham
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai beberapa emiten perbankan unggulan beserta rekomendasi dari para analis:
1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan ketahanan yang kuat dengan membukukan pertumbuhan kredit sebesar 7,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga September 2025, mencapai angka Rp 944 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh ekspansi kredit yang berkualitas dan terjaganya posisi likuiditas perseroan.
Dana Pihak Ketiga (DPK) BBCA juga mengalami kenaikan sebesar 7,0% yoy, yang utamanya ditopang oleh Dana Pihak Ketiga yang bersumber dari giro dan tabungan (Current Account dan Savings Account/CASA), yang menjadi tulang punggung pendanaan inti BCA. Kinerja laba bersih BCA dan entitas anak pun menunjukkan tren positif, tumbuh sebesar 5,7% yoy menjadi Rp 43,4 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.
Lebih lanjut, BCA terus menunjukkan komitmennya dalam inovasi dan ekspansi layanan. Salah satu terobosan terbaru adalah dukungan terhadap penerapan teknologi QRIS Cross Border di berbagai negara. Fitur ini kini telah dapat diimplementasikan di beberapa negara, termasuk Jepang, melalui aplikasi myBCA. Kehadiran beragam fitur dan layanan baru ini merupakan wujud nyata dari komitmen BCA untuk terus berinovasi serta memperluas jangkauan produk dan layanannya agar senantiasa relevan dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang.
Rekomendasi Analis:
- Rekomendasi: Buy
- Target Harga: Rp 10.000
- Analis: David Kurniawan, Indo Premier Sekuritas
2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan kinerja laba bersih yang mengesankan sebesar Rp 41,2 triliun hingga kuartal III tahun 2025. Sebagai bank yang memiliki fokus kuat pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan, BRI terus memperkokoh perannya dalam mendukung implementasi berbagai program strategis yang digagas oleh pemerintah.
Sepanjang periode Januari hingga September 2025, BRI telah berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur. Angka ini setara dengan 74,4% dari total alokasi KUR yang ditetapkan sebesar Rp 175 triliun.
Strategi BRI ke depan akan berpusat pada dua pilar utama: transformasi bisnis funding (pendanaan) dan penguatan core business (bisnis inti) yang berkelanjutan. Sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber pertumbuhan, BRI juga terus aktif mengembangkan “Second Engines of Growth” atau mesin pertumbuhan kedua. Hal ini dilakukan melalui penguatan segmen konsumer dan pengembangan layanan terkait emas, seperti layanan bullion atau bank emas.
Rekomendasi Analis:
- Rekomendasi: Buy
- Target Harga: Rp 5.000
- Analis: Budi Rustanto, OCBC Sekuritas
3. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melaporkan laba bank-only (hanya dari operasional perbankan inti) sebesar Rp 44,15 triliun hingga bulan November 2025. Secara bulanan (Month-on-Month/MoM), laba bersih bank-only dari bank yang identik dengan logo pita emas ini tercatat mampu tumbuh signifikan sebesar 28,7%. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (Year-on-Year/YoY), pencapaian ini menunjukkan penurunan tipis sebesar 6,41%.
Fokus utama BMRI tetap konsisten pada menjaga kualitas pendanaan dan menerapkan pengelolaan likuiditas yang prudent atau hati-hati. BMRI berupaya membangun basis pertumbuhan yang sehat melalui penguatan strategi bisnis, akselerasi digitalisasi, serta memastikan posisi likuiditas, kualitas aset, dan permodalan berada pada level yang memadai. Hingga November 2025, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 13,1% yoy, mencapai Rp 1.452 triliun.
Rekomendasi Analis:
- Rekomendasi: Hold
- Target Harga: Rp 5.300
- Analis: James Stanley Widjadja, Henan Putihrai Sekuritas (dalam risetnya pada 5 Januari 2026)
4. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 15,12 triliun hingga akhir September 2025. Selama periode yang sama, total penyaluran kredit BNI menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,5% yoy, mencapai Rp 812,2 triliun. Pertumbuhan ini tersebar secara merata di seluruh segmen bisnis, yang mengindikasikan semakin sehat dan berimbangnya portofolio kredit yang dimiliki oleh BNI.
Untuk menghadapi volatilitas pasar dan menjaga ketahanan serta pertumbuhan yang berkelanjutan, BNI menerapkan strategi penguatan kualitas portofolio dan disiplin dalam efisiensi pendanaan. Selain itu, BNI terus berupaya untuk tetap adaptif terhadap perubahan, sambil secara konsisten mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Pilar utama yang menopang ketahanan dan pertumbuhan jangka panjang perseroan meliputi penguatan fundamental, efisiensi dalam pengelolaan pendanaan, serta akselerasi transformasi digital.
Rekomendasi Analis:
- Rekomendasi: Buy
- Target Harga: Rp 4.700
- Analis: Victor Stefano, BRI Danareksa Sekuritas (dalam risetnya pada 13 Januari 2026)

















