Sosial

Resep Rahmah El Yunusiyyah: 1 Ton Rendang Ponpes Diniyyah Puteri untuk Korban Banjir Aceh-Sumut

×

Resep Rahmah El Yunusiyyah: 1 Ton Rendang Ponpes Diniyyah Puteri untuk Korban Banjir Aceh-Sumut

Sebarkan artikel ini

Rendang, hidangan ikonik Indonesia yang dikenal akan daya tahannya, kembali membuktikan fungsinya sebagai penolong di masa bencana. Meskipun Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) turut merasakan dampak banjir bandang yang melanda sebagian Pulau Sumatera, semangat gotong royong masyarakatnya tetap membara. Buktinya, mereka tetap mampu mengirimkan rendang untuk para korban bencana, sebuah tradisi yang tak lekang oleh waktu.

Tonggak Kepedulian dari Pondok Pesantren Diniyyah Puteri

Salah satu inisiatif luar biasa datang dari Pondok Pesantren (Ponpes) Diniyyah Puteri di Padang Panjang, Sumbar. Lembaga pendidikan yang didirikan oleh pahlawan nasional, Rahmah el Yunusiyyah, ini berencana mengirimkan satu ton rendang untuk para penyintas banjir bandang di Sumatera. Yang membuat aksi ini semakin istimewa adalah rendang tersebut dimasak menggunakan resep warisan Rahmah el Yunusiyyah yang telah dijaga turun-temurun.

Aksi mulia ini tidak berdiri sendiri. Produksi satu ton rendang tersebut melibatkan kolaborasi erat dengan beberapa pesantren tua terkemuka di Sumbar, antara lain:

  • Ponpes Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang
  • Pesantren Hamka Maninjau
  • Diniyyah Wafa Care
  • Baitul Maal Merapi Marbabu

Selain itu, dukungan juga datang dari organisasi lokal seperti Bundo Kanduang dan Bukit Surungan dari Padang Panjang, menunjukkan sinergi yang kuat antar elemen masyarakat.

Baca Juga :  Bupati Umrah Saat Banjir: Kontroversi Aceh Selatan

“Rendang ini akan segera dikirimkan ke Aceh dan Sumatera Utara,” ujar Fauzia Fauzan, pimpinan Diniyyah Puteri di Padang Panjang, pada Sabtu (13/12). Pernyataan ini menggarisbawahi kesiapan dan urgensi pengiriman bantuan tersebut.

Di Balik Dapur Kemanusiaan: Semangat Santri dan Resep Legendaris

Proses produksi rendang satu ton ini melibatkan puluhan santri Diniyah Puteri, guru, dan para “bundo kandung” (ibu-ibu) yang terlihat sibuk di dapur. Sejak Sabtu (3/12), mereka tak kenal lelah duduk di depan kuali besar, mengaduk rendang berjam-jam hingga matang sempurna. Api yang menyala menjadi saksi perjuangan mereka dalam menyelesaikan tugas mulia ini.

Diperkirakan, satu kuali mampu menampung sekitar 5 kg rendang. Dengan adanya 20 tungku yang beroperasi, target satu ton rendang dapat terselesaikan dalam waktu dua hari. Persiapan bahan baku pun tak kalah penting. Untuk menghasilkan satu kilogram daging rendang yang lezat, diperlukan lima butir kelapa pilihan. Kualitas kelapa yang digunakan pun tidak sembarangan, haruslah kelapa terbaik untuk menghasilkan cita rasa otentik.

Baca Juga :  Satu Tahun Kepemimpinan Amsakar-Li Claudia, Pembangunan Batam Bergerak Cepat di Sektor Ekonomi hingga Sosial

Keistimewaan rendang ini terletak pada resep Rahmah Yunisiyyah yang dijaga ketat selama empat generasi. Rahmah Yunisiyyah, yang baru saja dianugerahi gelar pahlawan nasional pada era Presiden Prabowo Subianto, tidak hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan dan pejuang, tetapi juga seorang ahli masak yang handal. Konon, beliau mampu menciptakan 42 macam sambalado, menunjukkan keahlian kulinernya yang luar biasa. Resep rendang inilah yang kini menjadi warisan berharga dan alat bantu kemanusiaan.

Jejak Kepedulian yang Meluas

Pengiriman rendang ke Aceh dan Sumatera Utara ini bukan kali pertama dilakukan sebagai respons terhadap bencana. Beberapa hari sebelumnya, inisiatif serupa juga telah dilaksanakan oleh sejumlah pihak dari Payakumbuh dan para perantau Sumatera yang berada di Pulau Jawa. Meskipun dilanda musibah, Sumatera Barat menunjukkan bahwa semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama tidak pernah padam. Mereka tetap mampu mengolah kekayaan kuliner khas daerahnya untuk meringankan beban saudara-saudara mereka yang sedang tertimpa musibah. Tradisi rendang sebagai simbol kehangatan dan kekuatan persaudaraan kembali terbukti di tengah ujian alam.