Makna Mendalam di Balik Sesajen Perayaan Imlek bagi Umat Konghucu
Perayaan Tahun Baru Imlek senantiasa menjadi momen yang sarat makna bagi etnis Tionghoa di seluruh dunia. Tidak terkecuali bagi umat Konghucu, di mana tradisi sembahyang Imlek menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian perayaan. Di balik aneka hidangan yang tertata rapi di atas altar, tersimpan doa dan harapan mendalam akan keberkahan, keharmonisan, dan kesejahteraan di tahun yang baru.
Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, yang diperkirakan jatuh pada tanggal 17 Februari 2026, akan menjadi momen istimewa bagi umat Konghucu untuk berkumpul, beribadah, dan menyambut pergantian tahun dengan penuh sukacita. Dalam ritual ibadah ini, penyajian sesajen menjadi elemen krusial yang mencerminkan penghormatan dan permohonan kepada Sang Pencipta serta para leluhur.
Salah satu tokoh yang senantiasa memegang teguh tradisi ini adalah Tetua Kampung Pecinan Surabaya, Dony Tjong. Di kediamannya, altar sembahyang disiapkan dengan khidmat, dihiasi berbagai macam hidangan yang telah dipilih secara cermat. Aneka sajian seperti kue keranjang yang legit, arak yang beraroma, kopi hitam pekat, pisang raja yang manis, olahan daging babi, teh hangat, berbagai jenis manisan, hingga ikan segar, tertata rapi. Tak lupa, lilin-lilin merah yang menyala terang dan hio (dupa) beraroma semerbak menemani setiap persembahan, menciptakan suasana sakral yang khusyuk.
Dony Tjong menjelaskan bahwa setiap item dalam sesajen memiliki filosofi dan makna tersendiri yang mendalam. Secara garis besar, sesajen yang dipersembahkan dalam tradisi Konghucu dapat dibedakan menjadi dua kategori utama: sesajen untuk para dewa dan sesajen untuk para leluhur.
Lima Unsur Wajib untuk Para Dewa
Menurut Dony Tjong, terdapat lima jenis sesajen yang wajib ada dalam setiap persembahyangan kepada para dewa. Kelima unsur ini meliputi:
- Arak: Melambangkan kegembiraan dan perayaan.
- Manisan: Menunjukkan harapan akan kehidupan yang manis dan penuh kebahagiaan.
- Sayur-sayuran: Melambangkan kesuburan dan pertumbuhan.
- Teh: Melambangkan kehangatan dan hubungan yang erat.
- Buah-buahan: Melambangkan kelimpahan rezeki dan keberuntungan.
“Lima unsur sesajen ini mesti ada setiap sembahyang karena dalam kisahnya itu yang diminta oleh dewa-dewa,” ujar Dony Tjong, menegaskan pentingnya kelima elemen ini dalam ritual persembahyangan kepada para dewa.
Persembahan untuk Leluhur: Bentuk Penghormatan dan Bakti
Sementara itu, sesajen yang dipersembahkan untuk para leluhur memiliki karakteristik yang sedikit berbeda. Makanan dan minuman yang disajikan biasanya disesuaikan dengan kesukaan masing-masing leluhur yang telah berpulang ke alam baka. Ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dan ungkapan bakti dari keluarga yang masih hidup kepada para pendahulu mereka.
Kue Keranjang:
Tekstur kue keranjang yang lengket memiliki makna simbolis yang kuat. “Ini melambangkan harapan agar keluarga tetap lengket, rukun, harmonis dalam menjalani kehidupan sepanjang tahun,” jelas Suk Dony, sapaan akrabnya. Kelekatan kue ini diharapkan dapat merefleksikan keharmonisan dan kedekatan antar anggota keluarga.Daging Babi:
Dalam konteks sesajen Imlek, daging babi bukanlah sekadar hidangan biasa. Simbol ini dipercaya membawa keberuntungan dan kelancaran rezeki. “Melambangkan harapan agar hidup yang dijalani selalu hoki atau penuh keberuntungan,” terang Suk Dony.Ikan, Kopi, Nasi, dan Cap Jay:
Sajian seperti ikan, kopi, nasi, dan masakan sayur cap jay umumnya disajikan karena merupakan makanan favorit para leluhur. “Kalau ikan, kopi, nasi, terus masakan sayur cap jay di sini itu karena kesukaannya leluhur,” terangnya. Hal ini menunjukkan perhatian detail keluarga terhadap preferensi pribadi leluhur mereka, sebagai bentuk penghormatan yang tulus.
Suk Dhony juga merinci makna di balik jumlah sajian tertentu. Nasi, kopi, dan arak yang disajikan masing-masing berjumlah tujuh. Angka tujuh ini memiliki makna khusus, yaitu melambangkan jumlah leluhur dari Suk Dony yang telah meninggal dunia dan didoakan dalam upacara sembahyang tersebut.
Buah Pisang Raja:
Buah-buahan seringkali dipilih dengan pertimbangan makna. Pisang raja, misalnya, memiliki simbolisme yang kaya. “Melambangkan agar anak dan keturunan dapat hidup sejahtera, mulia, dan berkecukupan layaknya raja-raja di masa lampau,” jelasnya. Harapan ini disematkan agar generasi penerus dapat meraih kehidupan yang gemilang.Uang-uangan (Kim Cua dan Gin Cua):
Selain makanan dan minuman, persembahan berupa uang-uang kertas juga menjadi bagian penting. Terdapat dua jenis uang-uangan yang dibedakan berdasarkan unsur logamnya. “Yang ada unsur emas disebut Kim Cua atau uang untuk dewa. Sedangkan unsur perak disebut Gin Cua, yakni uang untuk leluhur,” terangnya. Persembahan ini melambangkan harapan akan kemakmuran materi.
Seluruh persembahan ini diletakkan di atas penutup meja yang dihiasi dengan gambar naga dan delapan dewa. Hiasan pada altar ini juga memiliki makna simbolis yang mendalam.
Naga:
“Ini naga melambangkan penjaga alam semesta yang damai dan penuh kebaikan,” jelas Suk Dhony. Kehadiran naga diharapkan membawa aura kedamaian dan kebaikan bagi lingkungan sekitar.Delapan Dewa:
Kehadiran delapan dewa pada altar melambangkan harapan akan kehidupan yang optimal. “Delapan dewa memberi kehidupan terbaik bagi para San Pao atau pengikut ajaran Tri Dharma,” ucap Suk Dhony. Ini mencerminkan permohonan agar para pengikut ajaran Konghucu senantiasa diberkahi dengan kehidupan yang terbaik.
Siok Pei: Mengetahui Penerimaan Dewa
Sebelum altar sembahyang dibersihkan, sebuah ritual penting dilakukan yaitu pelemparan Siok Pei. Alat tradisional ini berfungsi untuk mengetahui apakah sesajen yang telah dipersembahkan diterima oleh para dewa. Hasil lemparan kedua kepingan Siok Pei akan memberikan indikasi mengenai penerimaan persembahan tersebut.
Dua Kepingan Menutup:
“Kalau dua-duanya menutup tandanya dewa marah,” jelas Suk Dhony. Kondisi ini menandakan bahwa ada sesuatu yang kurang berkenan.Dua Kepingan Terbuka:
Sebaliknya, “kalau dua-duanya terbuka tandanya dewa tertawa,” lanjutnya. Ini menunjukkan kebahagiaan dan penerimaan yang penuh dari para dewa.Satu Menutup, Satu Terbuka:
Namun, kondisi yang paling diharapkan adalah “kalau satu tertutup dan satu terbuka, tandanya dewa puas,” pungkas Suk Dhony. Situasi ini mengindikasikan bahwa persembahan telah diterima dengan baik dan para dewa merasa berkenan.
Melalui tradisi sesajen ini, umat Konghucu tidak hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai luhur seperti penghormatan terhadap leluhur, harapan akan keharmonisan keluarga, serta permohonan keberkahan dan kesejahteraan di tahun yang baru. Setiap item yang tersaji adalah wujud nyata dari keyakinan dan doa yang tulus, menjadikan perayaan Imlek sebagai momen yang kaya akan makna spiritual dan budaya.

















