Berita PilihanEkonomiNatunaNews

Akibat Ekonomi Lesu, Harga Cabe Merosot Hingga 25 Ribu Per Kg, Petani Merugi

×

Akibat Ekonomi Lesu, Harga Cabe Merosot Hingga 25 Ribu Per Kg, Petani Merugi

Sebarkan artikel ini
Gambar merupakan ilustrasi harga cabe turun ekonomi melesu (Foto: Alreinamedia.com)

Alreinamedia.com-Natuna,, Harga cabai di Natuna anjlok tajam hingga menyentuh angka Rp25.000 per kilogram. Meski terlihat menguntungkan bagi konsumen, kondisi ini justru menjadi alarm bahaya bagi petani dan pedagang lokal. Ironisnya, harga murah pun tak mampu menggairahkan daya beli masyarakat yang tengah dilanda kelesuan ekonomi pasca Lebaran.

Menurut para pedagang di Pasar Ranai, harga cabai terus merosot dalam dua pekan terakhir. Dari yang sempat bertahan di angka Rp80.000 per kilogram saat Ramadan, kini merosot tajam ke seperempat harga.

“Sekarang Rp25 ribu pun orang masih pikir-pikir beli. Sepi sekali pembeli, seperti pasar mati suri,” ujar Risma selasa (6/5/25) seorang pedagang cabai yang mengaku mengalami kerugian karena stok menumpuk dan membusuk.

Turunnya harga ini dipicu oleh dua faktor utama, membanjirnya pasokan dari luar daerah dan menurunnya daya beli warga lokal.

Baca Juga :  Wali kota Batam Hadiri Rapat Paripurna Laporan Banggar Pembahasan Ranperda APBD Perubahan Kota Batam T.A 2024

Namun, anjloknya permintaan meski harga sudah rendah menunjukkan ada masalah struktural yang lebih dalam yakni kelesuan ekonomi masyarakat.

“Ini bukan soal pasokan saja. Ini soal perut rakyat yang kosong. Bahkan yang murah pun tak terbeli. Ini sinyal bahwa ekonomi kita di lapangan sedang sakit,” kata buk Herni yang merupakan Ibuk Rumah tangga di kota ranai

Petani cabai pun terjepit. Mereka yang baru saja panen terpaksa menjual hasilnya jauh di bawah ongkos produksi. Beberapa bahkan memilih membiarkan cabainya membusuk di kebun karena tak sebanding dengan biaya angkut ke pasar terang Herni kembali

Pemerintah daerah dinilai belum sigap dalam mengantisipasi gejolak harga dan lemahnya pasar lokal. Hingga kini belum ada intervensi nyata dalam bentuk subsidi distribusi, pembelian hasil panen, atau skema perlindungan harga dasar.

Baca Juga :  Oknum Ustad Cabuli Bocah 7 Tahun di Batam

Jika situasi ini terus berlanjut, bukan hanya petani dan pedagang yang terpuruk, tetapi juga ketahanan pangan lokal bisa terganggu. “Petani bisa kapok tanam cabai. Kalau mereka berhenti, nanti kita krisis lagi saat permintaan naik,” Pungkas Herni

Lesunya pasar cabai seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kinerja distribusi pangan dan daya dukung ekonomi lokal. Murahnya harga pangan tak boleh menjadi ilusi bahwa semuanya baik-baik saja karena bagi mereka yang menggantungkan hidup di sektor ini, justru inilah tanda darurat. (Arizki)