Politik

Syair Abuya Muhtadi: Ulama Berisyarat di Tengah Dinamika NU

×

Syair Abuya Muhtadi: Ulama Berisyarat di Tengah Dinamika NU

Sebarkan artikel ini

Dinamika Kepemimpinan PBNU: Pesan Ulama Banten dan Arah Organisasi

Perjalanan kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) senantiasa menjadi sorotan tajam di kalangan warga nahdliyin. Di tengah gelombang perbedaan sikap yang muncul antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, pesan dan isyarat yang disampaikan oleh ulama kharismatik asal Banten, Abuya Muhtadi bin Dimyati, dinilai memiliki bobot dan makna strategis bagi masa depan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Fenomena ini diungkapkan oleh Zaenal Abidin, seorang tokoh Banser Sepuh NU Banten, yang secara langsung menyaksikan beberapa pertemuan krusial antara para petinggi PBNU dengan Abuya Muhtadi di kediaman beliau di Cidahu, Kabupaten Serang. Menurut penuturan Zaenal, pada Selasa, 14 Oktober 2025, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Abuya Muhtadi. Pertemuan ini terjadi di tengah menguatnya dinamika internal PBNU yang memicu berbagai spekulasi.

Pertemuan tersebut dilaporkan berlangsung singkat, tanpa seremoni pembukaan yang panjang. “Abuya tidak membuka pertemuan dengan muqaddimah panjang. Beliau langsung menyampaikan syair,” ujar Zaenal Abidin.

Syair yang dibacakan oleh Abuya Muhtadi berbunyi:
Nahnu Banu Dimyath, lana sa‘run tsabat
Nahnu ahlur ribath, fina baitul wathwath.

Zaenal Abidin memberikan penafsiran mendalam terhadap syair tersebut. Ia menjelaskan bahwa syair itu bukanlah sekadar pujian, melainkan sebuah bentuk peringatan simbolis. Dalam tradisi pesantren, istilah “wathwath” (kelelawar) sering kali dimaknai sebagai representasi dari ruang-ruang gelap yang keberadaannya berada di antara penerangan dan kegelapan.

“Abuya tidak menyebut nama atau menunjuk siapa pun. Tapi pesan moralnya jelas, bahwa di dalam tubuh jam’iyyah bisa saja ada ruang-ruang gelap yang harus dibersihkan,” tegas Zaenal.

Menjelang akhir pertemuan, Abuya Muhtadi hanya berpesan satu kalimat kepada Gus Yahya, yaitu, “Laksanakan sesuai AD/ART NU.” Pesan singkat ini sarat akan makna, menggarisbawahi pentingnya kepatuhan terhadap konstitusi organisasi sebagai landasan utama dalam setiap tindakan dan keputusan.

Baca Juga :  Indonesia Dorong Penyelesaian ASEAN Extradition Treaty dalam Penanganan TPPO

Keputusan Syuriyah PBNU dan Implikasinya

Beberapa waktu setelah pertemuan tersebut, sebuah dokumen penting dikeluarkan oleh Rais ‘Am PBNU bersama dengan Wakil Rais ‘Am. Dokumen yang dikenal sebagai Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU ini memuat sejumlah keputusan strategis yang cukup mengejutkan. Salah satu poin krusial adalah penilaian terhadap kegiatan Akademi Kader Nasional (AKN) NU. Kegiatan ini dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta Muqaddimah Qanun Asasi NU, terutama karena menghadirkan narasumber yang terafiliasi dengan jaringan Zionisme.

Lebih lanjut, Syuriyah PBNU juga memberikan sorotan tajam terhadap tata kelola keuangan PBNU. Ditemukan indikasi adanya pelanggaran syariat, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta potensi membahayakan status badan hukum NU.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, Rais ‘Am dan dua Wakil Rais ‘Am mengambil keputusan untuk meminta Ketua Umum PBNU mengundurkan diri dalam kurun waktu tiga hari. Jika permintaan ini tidak dipenuhi, Syuriyah menyatakan berhak memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya.

Menurut Zaenal Abidin, keputusan Syuriyah ini harus dipahami sebagai persoalan prinsip dan tata kelola organisasi yang fundamental, bukan sekadar konflik personal antar individu. “Ini tabrakan tafsir tentang marwah jam’iyyah dan bagaimana NU dijalankan sesuai khittah dan konstitusinya,” jelasnya.

Suasana Berbeda Saat Menerima Pj Ketua Umum PBNU

Zaenal Abidin juga menceritakan perbedaan suasana yang terjadi saat Abuya Muhtadi menerima silaturahmi dari KH Zulfa Musthofa, yang sehari sebelumnya telah ditetapkan sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU, pada Kamis, 11 Desember 2025.

“Suasananya hangat, penuh canda dan adab. Tidak ada syair sindiran,” ungkap Zaenal. Dalam pertemuan tersebut, KH Zulfa Musthofa memulai silaturahminya dengan sebuah syair yang penuh penghormatan kepada keluarga besar Bani Dimyath dan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga :  Roby Diskusi Bareng Pelajar & Mahasiswa Bintan

Menanggapi hal tersebut, Abuya Muhtadi kemudian menyampaikan pesan yang bersifat kebangsaan dan sangat penting. “Abuya menegaskan, ‘Jangan cekcok. Amankan negara. Amankan negara. Amankan negara,’” ungkap Zaenal menirukan pesan Abuya Muhtadi.

Menurut Zaenal, pesan kuat ini ditujukan kepada seluruh warga NU. Tujuannya adalah agar konflik internal yang mungkin terjadi tidak sampai melemahkan peran vital NU dalam menjaga stabilitas umat dan keutuhan bangsa Indonesia.

Sikap PWNU Banten dalam Menghadapi Dinamika

Zaenal Abidin menegaskan bahwa isyarat dan pesan yang disampaikan oleh Abuya Muhtadi menjadi salah satu landasan utama bagi sikap Pimpinan Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama (NU) Banten beserta delapan Pimpinan Cabang (PC) NU di tingkat kabupaten/kota. Mereka menyatakan sikap solid dalam menyambut kepemimpinan Pj Ketua Umum PBNU.

“Ini bukan soal faksi atau politik. Kami membaca isyarat ulama dan berusaha menjaga jam’iyyah tetap utuh,” tandasnya, menekankan bahwa fokus utama adalah menjaga keutuhan organisasi.

Menjelang Satu Abad NU: Harapan akan Persatuan

Seluruh dinamika kepemimpinan yang terjadi di PBNU ini berlangsung menjelang momen bersejarah peringatan satu abad Nahdlatul Ulama yang jatuh pada 31 Januari 2026. Sejumlah kalangan di masyarakat luas berharap agar berbagai perbedaan internal yang muncul dapat diselesaikan dengan bijaksana dan arif. Tujuannya adalah agar NU senantiasa dapat hadir sebagai pilar utama penopang persatuan umat Islam dan bangsa Indonesia.

“Sejarah akan mencatat, dan umat sedang menunggu NU tetap berada di jalan terang,” pungkas Zaenal Abidin, menutup pernyataannya dengan harapan besar akan masa depan NU yang penuh cahaya dan keberkahan.