Telepon spam atau spam call dari nomor tak dikenal telah menjadi momok yang meresahkan banyak masyarakat Indonesia. Fenomena ini tidak hanya berpotensi sebagai modus penipuan, tetapi juga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhan ini seringkali berseliweran di berbagai platform media sosial, menggambarkan betapa luasnya dampak yang ditimbulkan.
Seorang warganet di media sosial X, dengan akun @tany**, pada awal Januari 2026, membagikan pengalamannya yang mengerikan. Tangkapan layar yang diunggahnya menunjukkan deretan panggilan masuk dari berbagai nomor berbeda yang datang beruntun dalam rentang waktu yang sangat singkat.
“Teman-teman mau nanya, ada yang tahu enggak solusinya biar enggak kena spam call kayak gini? Ini sampai 40-an kali telepon dalam sehari, hiks, ganggu banget. Mohon solusinya,” tulis pemilik akun tersebut. Unggahan ini sontak mendapat respons yang masif, dengan lebih dari 530 komentar. Banyak warganet lain yang mengaku mengalami hal serupa dan merasakan betapa mengganggunya maraknya telepon spam dari nomor-nomor tak dikenal.
Sofia (24), seorang warga Wonogiri, juga merasakan hal yang sama. Ia mengaku hampir setiap hari menerima panggilan spam, bahkan jumlahnya bisa mencapai belasan kali dalam sehari. “Sehari kadang bisa 5-15 telepon dari nomor tak dikenal. Biasanya enggak saya angkat, tapi tetap mengganggu aktivitas sampai harus mengaktifkan mode pesawat,” ujarnya. Pengalaman ini menunjukkan betapa daruratnya situasi yang dihadapi banyak orang dalam upaya menjaga privasi dan ketenangan mereka.
Akar Permasalahan Maraknya Telepon Spam
Maraknya telepon spam dari nomor tak dikenal yang dikeluhkan masyarakat Indonesia bukanlah fenomena yang terjadi begitu saja. Hal ini mencerminkan persoalan yang lebih dalam dalam ekosistem digital yang semakin kompleks dan saling terhubung.
Pratama Persada, Direktur Riset Keamanan Siber CISSREC, menilai spam call bukan sekadar gangguan komunikasi biasa. Ia menganggapnya sebagai sinyal adanya masalah struktural dalam tata kelola data pribadi, keamanan sistem informasi, serta praktik bisnis digital yang belum sepenuhnya berpihak pada perlindungan privasi pengguna.
“Dari sudut pandang keamanan siber, spam call adalah indikator bahwa perlindungan data pribadi masih lemah dan belum dikelola secara serius,” jelas Pratama.
Salah satu penyebab utama maraknya spam call, menurut Pratama, berkaitan erat dengan kebocoran data pribadi. Nomor telepon merupakan identitas digital yang sangat bernilai karena sifatnya yang unik, relatif permanen, dan menjadi gerbang utama untuk mengakses berbagai layanan penting.
“Nomor telepon sering digunakan untuk mengakses layanan perbankan, media sosial, hingga layanan pemerintah. Ketika terjadi kebocoran data, nomor ini menjadi target yang sangat menguntungkan bagi pelaku,” terangnya.
Kebocoran data ini kerap terjadi di berbagai platform, mulai dari e-commerce, layanan keuangan, aplikasi pinjaman daring, asuransi, hingga layanan publik. Dalam banyak kasus, nomor telepon pengguna ikut terekspos dan kemudian diperjualbelikan di pasar gelap digital.
“Data ini biasanya bukan berasal dari satu kebocoran besar, melainkan akumulasi dari banyak insiden kecil yang terjadi bertahun-tahun dan tidak pernah benar-benar ditangani secara tuntas,” tambah Pratama.
Namun, Pratama menekankan bahwa spam call tidak selalu bisa disederhanakan sebagai dampak kebocoran data semata. Ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu praktik pengumpulan data yang berlebihan dan tidak transparan.
Telepon Spam untuk Kepentingan Pemasaran dan Celah Teknologi
Banyak aplikasi dan layanan digital, menurut Pratama, meminta akses ke nomor telepon, daftar kontak, atau informasi perangkat tanpa urgensi yang jelas. Data ini kemudian dibagikan kepada pihak ketiga untuk kepentingan pemasaran.
“Kadang ini dilakukan secara legal melalui klausul persetujuan yang panjang dan jarang dibaca pengguna, tetapi tidak sedikit pula yang terjadi melalui penyalahgunaan internal,” katanya. Dalam kondisi ini, spam call bisa terjadi meskipun tidak pernah ada peretasan, karena data memang diserahkan secara sadar tanpa perlindungan memadai.
Selain faktor data, pelaku spam juga cerdik memanfaatkan sisi teknis teknologi komunikasi. Penggunaan autodialer dan teknologi voice over IP (VoIP) memungkinkan satu pihak melakukan ribuan panggilan dalam waktu singkat dengan biaya yang sangat rendah. Nomor yang digunakan pun kerap bersifat dinamis atau dipalsukan, sehingga sulit dilacak.
Bahkan, sebagian spam call dilakukan secara acak dengan menebak pola nomor aktif, terutama di negara dengan struktur penomoran yang mudah diprediksi. “Dalam skema ini, seseorang bisa menerima spam call meskipun nomornya belum pernah bocor atau digunakan di layanan digital tertentu,” jelas Pratama.
Strategi Jitu Mengatasi Telepon Spam
Menghadapi maraknya telepon spam, penanganan yang efektif memerlukan pendekatan berlapis yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari individu, penyelenggara sistem elektronik, operator telekomunikasi, hingga regulator.
Peran Individu: Peningkatan Kesadaran Digital
Pada level individu, kesadaran digital menjadi kunci utama. Pengguna perlu lebih disiplin dalam membagikan nomor telepon mereka. Memisahkan nomor pribadi dan nomor publik untuk keperluan yang berbeda dapat menjadi langkah awal yang baik. Selain itu, menolak akses kontak bagi aplikasi yang tidak relevan juga sangat penting.
“Mengaktifkan fitur pemblokiran nomor tak dikenal atau menggunakan aplikasi penyaring spam juga dapat membantu mengurangi gangguan,” ujar Pratama.
Ia juga mengingatkan agar pengguna tidak pernah berinteraksi dengan panggilan spam.
- Jangan mengangkat panggilan: Menjawab panggilan, bahkan hanya untuk memutuskan sambungan, dapat memberi sinyal bahwa nomor tersebut aktif.
- Hindari menekan tombol: Beberapa panggilan spam meminta pengguna menekan tombol tertentu untuk berhenti berlangganan, namun ini justru mengkonfirmasi bahwa nomor Anda aktif.
- Jangan membalas pesan suara: Sama seperti menjawab panggilan, membalas pesan suara juga dapat menjadi indikator nomor aktif.
“Cara paling aman adalah mengabaikan dan memblokir,” tegasnya.
Penggunaan aplikasi pihak ketiga seperti Truecaller atau GetContact juga bisa menjadi solusi tambahan yang efektif. Aplikasi ini memanfaatkan basis data kolektif dan laporan komunitas untuk mengidentifikasi nomor yang sering dilaporkan sebagai spam atau penipuan, sehingga panggilan mencurigakan dapat diblokir secara otomatis.
Peran Operator Telekomunikasi: Pemblokiran di Tingkat Jaringan
Di sisi lain, peran operator telekomunikasi dinilai sangat strategis. Operator memiliki kemampuan teknis untuk mendeteksi pola lalu lintas panggilan yang tidak wajar dan seharusnya bisa menerapkan sistem pemblokiran di tingkat jaringan.
“Pemblokiran di level operator jauh lebih efektif karena mencegah spam call sebelum sampai ke pengguna,” kata Pratama.
Namun, efektivitas langkah ini sangat bergantung pada komitmen operator dan kejelasan regulasi yang memayunginya.
Peran Regulator: Penguatan Perlindungan Data dan Penegakan Hukum
Dari perspektif kebijakan, maraknya spam call menunjukkan masih lemahnya perlindungan data pribadi dan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan data. Tanpa sanksi yang tegas dan konsisten, kebocoran data akan terus berulang, dan spam call hanya menjadi dampak paling kasatmata dari masalah yang lebih besar.
“Prinsip minimalisasi data, pembatasan penggunaan data, serta kewajiban notifikasi kebocoran harus benar-benar dijalankan, bukan sekadar menjadi aturan di atas kertas,” pungkas Pratama, menekankan pentingnya implementasi regulasi yang kuat untuk melindungi privasi digital masyarakat.















