Kolaborasi TNI dan Unhan Hadirkan Solusi Air Bersih untuk Korban Bencana di Sumatra Utara
Jakarta – Menanggapi kebutuhan mendesak akan air bersih di tengah situasi bencana, Tentara Nasional Indonesia (TNI) berkolaborasi dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) telah berhasil menyalurkan bantuan berupa mesin penjernih air. Bantuan vital ini ditujukan kepada para korban bencana yang saat ini mengungsi di Desa Batu Hula, Kecamatan Batangtoru, Sumatra Utara. Inisiatif ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat terdampak, memastikan ketersediaan air bersih yang layak konsumsi bagi ribuan pengungsi.
Mesin penjernih air yang disalurkan ini dirancang dengan teknologi canggih untuk mengubah air yang tercemar menjadi sumber air minum yang aman dan sehat. Keberadaan mesin ini diharapkan dapat meringankan beban para pengungsi yang seringkali menghadapi kesulitan akses terhadap air bersih pasca bencana.
Teknologi Canggih di Balik Mesin Penjernih Air
Inovasi mesin penjernih air ini mengandalkan beberapa lapisan teknologi filtrasi yang dirancang untuk efektivitas maksimal. Sebagai tabung filtrasi utama, mesin ini menggunakan material fiber reinforced plastic (FRP), sebuah material komposit yang kuat dan tahan lama. Sistem filtrasi ini didesain agar mudah dioperasikan di lapangan, bahkan dalam kondisi yang serba terbatas.
Proses penyaringan dimulai dengan beberapa lapisan media filter khusus, yaitu:
- Manganese Ferrolit dan Manganese Zeolit: Kedua media ini memiliki peran krusial dalam mengurangi kandungan logam berat dan kekeruhan dalam air. Kandungan mangan dalam kedua material ini efektif dalam mengendapkan zat-zat yang membuat air keruh dan berbau.
- Karbon Aktif: Lapisan ini berfungsi untuk menyerap berbagai jenis bau yang tidak sedap serta zat pencemar organik yang mungkin terkandung dalam air. Karbon aktif dikenal luas karena kemampuannya dalam menyerap polutan.
- Silika: Lapisan terakhir ini bertugas untuk menghaluskan hasil penyaringan, memastikan air yang keluar benar-benar jernih dan bebas dari partikel halus yang tersisa.
Tahap Akhir: Sterilisasi dan Keamanan Konsumsi
Setelah melalui serangkaian proses filtrasi mekanis dan kimiawi, air yang telah dijernihkan kemudian diproses lebih lanjut melalui teknologi mutakhir lainnya. Sersan Mayor Dua Kadet Ronald Marcus Sihite dari Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan RI menjelaskan bahwa tahap selanjutnya melibatkan penggunaan teknologi reverse osmosis (RO).
Teknologi RO ini mampu menyaring partikel-partikel yang sangat kecil, bahkan hingga ke tingkat molekuler. Kemampuannya mencakup penghilangan garam terlarut dan kontaminan mikro yang tidak dapat dihilangkan oleh sistem filtrasi konvensional.
Lebih lanjut, untuk memastikan keamanan air dari ancaman mikroorganisme patogen, sistem ini juga dilengkapi dengan unit penyinaran ultraviolet (UV). Sinar UV memiliki kemampuan membunuh bakteri, virus, dan berbagai jenis mikroorganisme berbahaya lainnya yang mungkin masih bertahan. Kombinasi teknologi RO dan UV ini menjamin bahwa air yang dihasilkan tidak hanya jernih dan bebas bau, tetapi juga aman untuk langsung dikonsumsi oleh para pengungsi.
Kapasitas Produksi dan Harapan ke Depan
Mesin penjernih air yang dikembangkan ini memiliki kapasitas produksi yang mengesankan. Sistem ini mampu menghasilkan lebih dari 20.000 liter air bersih per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 hingga 5.000 liter merupakan air yang benar-benar layak konsumsi dan dapat langsung diminum. Kapasitas yang besar ini memastikan bahwa kebutuhan air bersih bagi seluruh pengungsi dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Marcus Sihite mengungkapkan harapannya agar inovasi teknologi yang dihadirkan ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan dan mempermudah para korban bencana dalam mengakses sumber air bersih. “Kami berharap teknologi ini bisa menjadi solusi nyata dan membantu meringankan beban para pengungsi,” ujarnya.
Apresiasi dari Masyarakat Lokal
Bantuan ini disambut dengan penuh rasa syukur oleh masyarakat Desa Batu Hula. Kepala Desa Batu Hula menyampaikan apresiasinya yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Pertahanan dan TNI atas inisiatif dan bantuan yang diberikan.
“Kami sangat berterima kasih atas fasilitas mesin penjernih air yang diberikan. Alat ini sudah berfungsi dengan baik dan airnya bisa langsung diminum. Ini sangat, sangat bermanfaat bagi kami para pengungsi yang berjumlah 1.700 jiwa di desa kami,” ungkap Kepala Desa Batu Hula, menggarisbawahi betapa vitalnya bantuan ini bagi kelangsungan hidup warganya di masa sulit.
Kolaborasi antara institusi pertahanan dan akademisi seperti ini menunjukkan komitmen bersama dalam memberikan solusi konkret bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam situasi darurat bencana.

















