Berita

Trans7 Dihujat! Xpose Dianggap Merendahkan Pesantren, Alumni Lirboyo Berdemo

×

Trans7 Dihujat! Xpose Dianggap Merendahkan Pesantren, Alumni Lirboyo Berdemo

Sebarkan artikel ini

Kritik Terhadap Tayangan Xpose Uncensored yang Menyentuh Dunia Pesantren

Program Xpose Uncensored yang tayang di Trans7 baru-baru ini kembali memicu kontroversi besar. Tayangan tersebut dinilai menyudutkan dunia pesantren dan para kiai, terutama KH. Anwar Manshur, Pengasuh Ponpes Lirboyo. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk santri dan alumni pesantren.

Reaksi Keras dari Alumni Pesantren

Salah satu tokoh yang memberikan pernyataan tajam adalah Akhmad Sururi, Wakil Ketua DPW Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Jawa Tengah sekaligus alumni Lirboyo angkatan tahun 2000. Menurutnya, tayangan tersebut bukan sekadar kesalahan jurnalistik, tetapi sudah masuk dalam kategori penghinaan terbuka terhadap pesantren dan kiai-kiai yang selama ini menjadi pilar pendidikan keagamaan di Indonesia.

Sururi mengatakan bahwa narasi dalam tayangan Trans7 menyudutkan dunia pesantren dan para kiai yang tulus mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama. Ia menilai bahwa ini bukan ketidaktahuan, melainkan penghinaan yang dilakukan dengan sadar. Ia mengecam keras dan mendesak KPI segera mencabut izin siar Trans7.

Aksi Damai Alumni Lirboyo di Brebes

Sebagai bentuk solidaritas dan protes, ratusan alumni pesantren yang tergabung dalam HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) Kabupaten Brebes menggelar aksi damai di Alun-Alun Brebes. Mereka membawa spanduk berisi tuntutan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Trans7 untuk segera meminta maaf secara terbuka dan menarik konten yang dianggap telah menciderai kehormatan pesantren.

Baca Juga :  Jadwal Final Kejuaraan Dunia Junior 2025: Ubed vs Liu, Dendam Melawan Murid Chen Long

Ketaatan Santri Bukan Perbudakan

Menanggapi isi tayangan yang menyentil praktik santri dalam melayani kiai, Sururi menegaskan bahwa “berkhidmah” bukanlah bentuk perbudakan, melainkan bagian dari tradisi ruhani dan pendidikan karakter dalam dunia pesantren.

Ia menjelaskan bahwa ketaatan santri kepada kiai adalah bentuk penghormatan, bukan ketundukan yang membuta. Ini adalah bagian dari pendidikan batin yang tak bisa dijelaskan oleh mereka yang tak pernah nyantri.

Ujaran Kebencian Bermuatan SARA?

Lebih jauh, Sururi menuding tayangan tersebut sebagai bentuk ujaran kebencian, yang tidak hanya menyentuh aspek personal, tetapi juga memuat unsur penistaan terhadap simbol dan tradisi keagamaan. Ia menilai bahwa narator dalam tayangan itu tidak memahami etika jurnalistik, karena tidak melakukan konfirmasi dan cenderung menarasikan opini dengan nada sinis.

Ia menegaskan bahwa tayangan tersebut tidak beradab. Tidak ada etikanya. Tidak ada konfirmasi, tidak ada pemahaman konteks. Ini bukan investigasi, ini penghinaan. Maka sangat layak diproses secara hukum.

Baca Juga :  Ngopi Sambil Menikmati Kota! 3 Cafe Semarang dengan Pemandangan Menakjubkan

Martabat Kiai Adalah Harga Mati

Sosok KH. Anwar Manshur bukan hanya kiai biasa. Ia dikenal sebagai ulama besar yang zuhud, wirai, dan sepenuhnya mengabdi untuk pendidikan agama. Tuduhan mengenai “amplop” dan “kemewahan” yang dilontarkan dalam tayangan tersebut dinilai sebagai fitnah yang keji, dan secara langsung melukai jutaan hati santri dan alumni pesantren di seluruh penjuru negeri.

Sururi menegaskan bahwa gerakan alumni hari ini adalah bentuk perlawanan terhadap penghinaan. Ia menegaskan bahwa mereka tidak akan diam. Martabat kiai adalah harga mati.

Kontroversi Tayangan Xpose Uncensored

Kontroversi tayangan Xpose Uncensored ini menjadi alarm keras bagi dunia jurnalistik Indonesia. Etika, konfirmasi, dan pemahaman kontekstual menjadi hal mutlak dalam mengangkat isu-isu sensitif, apalagi yang berkaitan dengan agama dan simbol-simbol suci dalam masyarakat. Apakah KPI akan bersikap? Dan apakah Trans7 akan bertanggung jawab?

Waktu akan menjawab. Tapi satu hal pasti: Pesantren tidak akan tinggal diam.