Dukungan Penuh Pemberantasan Jaringan Narkoba Internasional Dewi Astutik: Ujian Integritas Penegak Hukum
Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA) menyatakan dukungan penuh terhadap komitmen Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam upaya pemberantasan tuntas jaringan narkoba internasional yang diduga dipimpin oleh Dewi Astutik. Organisasi kepemudaan Islam yang berfokus pada pembinaan generasi muda berakhlak Islami, berjiwa nasionalis, serta aktif dalam perjuangan sosial dan dakwah ini melihat pengungkapan kasus ini sebagai momentum krusial.
Ketua Umum PP GPA, Aminullah Siagian, menekankan bahwa seluruh proses pengungkapan kasus ini harus dilaksanakan secara terbuka dan transparan. Lebih penting lagi, ia menyoroti perlunya membongkar tuntas siapa saja aktor intelektual di balik jaringan narkotika berskala besar tersebut. Hal ini menjadi kunci utama untuk memutus mata rantai kejahatan yang secara serius mengancam masa depan generasi muda bangsa.
Dewi Astutik, yang dilaporkan ditangkap di Kamboja, membawa serta barang bukti berupa dua ton sabu-sabu dengan nilai taksiran mencapai sekitar Rp 5 triliun. Penangkapan ini disebut-sebut sebagai salah satu pengungkapan terbesar dalam sejarah penangkapan jaringan narkoba internasional di kawasan yang dikenal sebagai Segitiga Emas (Golden Triangle).
Aminullah menegaskan bahwa skala operasi yang begitu masif dan bernilai fantastis ini mustahil dapat berjalan tanpa adanya dukungan dan perlindungan dari pihak-pihak lain, terutama yang berada di dalam negeri. “Dewi Astutik tak mungkin bisa memasukkan narkoba dengan nilai jumbo tanpa dukungan pihak lain di dalam negeri yang menjadi backing atau aktor intelektual. Aparat harus mengungkap ini secara terbuka dan transparan,” tegas Aminullah dalam keterangannya kepada wartawan pada Sabtu, 13 Desember 2025.
Jaringan Dewi Astutik: Cermin Integritas Aparat dan Negara
Menurut pandangan Aminullah, pengungkapan jaringan Dewi Astutik ini menjadi sebuah ujian yang sangat serius dan mendasar bagi integritas seluruh aparat penegak hukum serta negara secara keseluruhan. Ia menambahkan, dukungan kuat yang telah ditunjukkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit dalam pemberantasan narkotika harus menjadi sinyal yang jelas bagi seluruh jajaran.
“Dukungan kuat Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit dalam pemberantasan narkotika harus menjadi sinyal jelas, aparat jangan ragu menindak seluruh jaringan di balik Dewi Astutik, termasuk aktor di dalam negeri yang selama ini tersembunyi,” ujar Aminullah.
Membongkar Aktor Intelektual: Kunci Selamatkan Generasi Bangsa
Aminullah menekankan kembali bahwa mengungkap para aktor intelektual di balik jaringan narkoba ini adalah langkah paling krusial untuk memutus mata rantai kejahatan yang terus mengancam generasi muda. Ia memandang kasus ini bukan sekadar penangkapan individu semata, melainkan sebuah cerminan dari sistem yang memungkinkan peredaran narkoba dalam skala besar.
“Kasus ini bukan sekadar penangkapan individu, tapi cerminan sistem yang memungkinkan narkoba masuk. Mengusut aktor intelektual adalah langkah penting untuk menegakkan keadilan, hukum, dan masa depan bangsa. Bayangkan potensi 8 juta jiwa yang bisa terselamatkan dari operasi penangkapan narkoba milik jaringan Dewi ini,” tambahnya.
Sumber-sumber intelijen, baik dari dalam maupun luar negeri, mengindikasikan bahwa jaringan Dewi Astutik memiliki struktur yang sangat kompleks. Hal ini menimbulkan kemungkinan adanya keterlibatan oknum-oknum di dalam negeri yang berperan sebagai pendukung, mulai dari aspek logistik, pembiayaan, hingga bahkan perlindungan hukum. Kondisi seperti ini membuka peluang lebar bagi aparat penegak hukum untuk menelusuri dan menindak seluruh rantai distribusi narkotika tanpa kompromi.
“Keadilan harus ditegakkan, siapa pun yang terlibat, baik domestik maupun internasional, harus bertanggung jawab. Negara tidak boleh memberi ruang bagi kriminal besar yang mengancam generasi dan integritas bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Aminullah menilai bahwa kasus ini menjadi pengingat penting bahwa pemberantasan narkotika membutuhkan keberanian, integritas yang tinggi, serta strategi yang matang. Strategi ini harus melibatkan koordinasi internasional yang kuat dan pengawasan yang ketat terhadap potensi keterlibatan aktor-aktor domestik.
“Komitmen politik Presiden dan support kuat Kapolri harus didukung penuh oleh semua pihak untuk melawan jaringan narkoba internasional ini,” pungkasnya.
Kronologi Penangkapan dan Peran Dewi Astutik
Sebelumnya, Dewi Astutik, yang diidentifikasi sebagai gembong narkoba jenis sabu, berhasil ditangkap bersama seorang pria di area lobi sebuah hotel di Sihanoukville, Kamboja. Dewi Astutik juga diketahui masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh negara Korea Selatan.
Penangkapan terhadap aktor utama dalam kasus penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun ini terjadi pada Senin, 1 Desember 2025. Dewi Astutik diketahui memiliki keterkaitan dengan jaringan narkoba internasional yang dikenal sebagai Golden Triangle dan Golden Crescent. Berdasarkan analisis intelijen, selain Dewi, nama-nama besar lain seperti gembong narkoba Freddy Pratama juga diduga terlibat dalam jaringan ini.
Setelah diamankan di Kamboja, Dewi Astutik kemudian dipindahkan ke Phnom Penh untuk menjalani proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antar otoritas. Ia kemudian dipulangkan ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa, 2 Desember 2025, sore. Setibanya di Indonesia, Dewi Astutik akan menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap secara rinci alur pendanaan, logistik, serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam jaringan internasional yang telah beroperasi ke berbagai negara ini.
Dewi Astutik, yang juga dikenal dengan nama alias “Mami”, adalah gembong narkoba jaringan internasional Golden Triangle. Ia ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, pada tanggal 1 Desember 2025. Keterlibatannya dalam penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun menjadikannya buronan penting bagi Interpol dan Korea Selatan.
Rincian Operasi Lintas Negara:
- Operasi Lintas Negara: Penangkapan ini merupakan hasil kerja sama yang erat antara Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepolisian Kamboja, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
- Lokasi Penangkapan: Penangkapan dilakukan di lobi sebuah hotel di Sihanoukville, Kamboja. Dewi Astutik diamankan saat keluar dari sebuah kendaraan Toyota Prius berwarna putih bersama seorang pria yang diduga merupakan rekan bisnisnya.
- Awal Pengungkapan: Kasus ini berawal dari pengungkapan kasus penyelundupan 2,3 kg heroin di Bandara Soekarno-Hatta yang ditangani oleh Bea Cukai. Dari pengembangan kasus tersebut, terungkaplah jaringan besar yang melibatkan Freddy Pratama dan Dewi Astutik.
- Sikap Saat Ditangkap: Selama proses penangkapan, Dewi Astutik dilaporkan tidak melakukan perlawanan dan bersikap kooperatif dalam pemeriksaan awal.















