Mengenal Turbulensi dan Cara Menghadapinya Selama Penerbangan
Turbulensi sering kali menjadi momen paling menegangkan bagi para penumpang pesawat. Getaran di udara yang terasa tiba-tiba bisa membuat seseorang merasa cemas, padahal sebenarnya turbulensi adalah hal yang umum terjadi selama penerbangan dan jarang membahayakan keselamatan. Namun, pengalaman ini bisa terasa seperti mimpi buruk jika tidak dikelola dengan baik.
Menurut Bill Duncan, Associate Director of Meteorology di The Weather Company, turbulensi adalah pergerakan udara yang tidak stabil di atmosfer. Peristiwa ini terjadi akibat perubahan arah angin, pertemuan arus udara di sekitar pegunungan, atau aktivitas badai. Meski terdengar mengkhawatirkan, turbulensi biasanya tidak berbahaya dan dapat dihadapi dengan persiapan yang tepat.
Jenis-Jenis Turbulensi yang Umum Terjadi
Duncan menjelaskan bahwa ada beberapa jenis turbulensi yang sering dialami selama penerbangan. Pertama, Clear Air Turbulence (CAT), yang muncul di wilayah tanpa awan dan sering dikaitkan dengan arus jet di ketinggian. Kedua, Convectively Induced Turbulence (CIT), yang disebabkan oleh badai atau arus udara naik-turun. Terakhir, Mountain Wave Turbulence, yang muncul akibat aliran udara melewati pegunungan. Meski bisa terjadi di mana saja, turbulensi biasanya lebih sering dialami pada musim dingin atau di wilayah pegunungan seperti Rocky Mountains.
Keselamatan Selama Turbulensi
Meski terasa tidak nyaman, Duncan menegaskan bahwa turbulensi bukanlah alasan untuk panik. Pesawat modern dirancang untuk tahan terhadap berbagai kondisi ekstrem, termasuk guncangan udara. Pilot juga mendapatkan pembaruan cuaca secara berkala dan dapat menyesuaikan ketinggian atau rute untuk menghindari area yang berisiko.
Untuk menjaga keselamatan, penumpang disarankan selalu mengenakan sabuk pengaman selama duduk, meskipun lampu tanda sabuk pengaman telah dimatikan. “Turbulensi bisa datang tiba-tiba, tanpa tanda-tanda sebelumnya,” ujar Duncan. Selain itu, mengikuti instruksi awak kabin dan memperhatikan pengumuman juga penting agar tetap aman.
Pilot pun menerima laporan awal tentang turbulensi di sepanjang rute penerbangan mereka. Melalui informasi dari Peta Panduan Perencanaan Penerbangan dan Informasi Meteorologi Penting (SIGMET), yang berisi data penting mengenai cuaca buruk, pilot dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menghindari area berisiko.
Turbulensi yang Semakin Parah
Namun tidak dipungkiri bahwa turbulensi kini semakin parah. Menurut Duncan, cuaca ekstrem yang meningkat sejak tahun 2000 dan tren pemanasan global berdampak pada aliran jet. Sebuah studi tahun 2023 dari para peneliti di University of Reading juga menemukan bahwa turbulensi udara bersih, khususnya, telah meningkat dan menjadi 55 persen lebih sering terjadi pada tahun 2020 dibandingkan tahun 1979. Studi yang sama menyatakan bahwa temuan tersebut konsisten dengan dampak perubahan iklim yang diperkirakan, dan peningkatan terbesar terjadi di AS dan Atlantik Utara.
Upaya untuk Mengurangi Dampak Turbulensi
Meski begitu, pelaporan turbulensi juga telah meningkat dengan model prediksi cuaca, yang kini juga dikombinasikan dengan AI. Duncan menambahkan operator dan pilot yang terus berkolaborasi dengan ahli penerbangan, sehingga dapat memilih rute dengan potensi turbulensi yang paling kecil.
Dengan peningkatan teknologi dan kerja sama antara berbagai pihak, keamanan selama penerbangan dapat terjaga. Penumpang juga perlu tetap tenang dan mematuhi instruksi yang diberikan oleh awak kabin untuk mengurangi risiko saat menghadapi turbulensi.

















