Ekonomi

Vivo Potong Harga BBM Mulai 1 Februari

×

Vivo Potong Harga BBM Mulai 1 Februari

Sebarkan artikel ini

Kabar baik bagi para pengguna bahan bakar minyak (BBM) jenis Revvo 95! Setelah sempat mengalami kekosongan stok, kini BBM premium tersebut telah kembali tersedia di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Vivo. Pengumuman kembalinya Revvo 95 ini disambut antusias oleh para pelanggan setia, menandakan pulihnya pasokan salah satu produk unggulan dari Vivo.

Kembalinya Revvo 95 ini tidak hanya menjadi sorotan utama, tetapi juga dibarengi dengan kabar menggembirakan lainnya, yaitu penyesuaian harga untuk berbagai jenis BBM yang ditawarkan oleh Vivo. Perubahan harga ini berlaku efektif mulai tanggal 1 Februari 2026, memberikan kesempatan bagi konsumen untuk menikmati bahan bakar berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif.

Rincian Perubahan Harga BBM Vivo per 1 Februari 2026

Vivo secara resmi mengumumkan struktur harga baru untuk produk-produk BBM mereka, yang mencakup penurunan harga untuk beberapa varian. Berikut adalah rincian lengkapnya:

  • Revvo 92: Ditetapkan dengan harga Rp 12.050 per liter.
    Harga ini mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
  • Diesel Primus Plus: Dijual dengan harga Rp 13.600 per liter.
    Harga ini relatif stabil, menunjukkan konsistensi pada produk diesel unggulan Vivo.
  • Revvo 95: Kini dapat dibeli dengan harga Rp 12.500 per liter.
    Kembalinya varian premium ini disambut baik dengan penetapan harga yang menarik.

Sebagai perbandingan, pada bulan Januari 2026, harga Revvo 92 dibanderol Rp 12.700 per liter, sementara Diesel Primus Plus seharga Rp 13.610 per liter. Ketiadaan Revvo 95 pada bulan Januari lalu semakin menegaskan pentingnya ketersediaan dan penyesuaian harga produk ini bagi konsumen.

Baca Juga :  Cek THR Pensiunan PNS Tanpa Mobile Banking & Antre Bank

Pergerakan Harga BBM di SPBU Pertamina

Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) juga tidak ketinggalan dalam mengumumkan pembaruan harga BBM di beberapa wilayah tertentu, yang juga berlaku mulai 1 Februari 2026. Pergerakan harga ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang terus berubah, dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk biaya operasional dan kebijakan pemerintah.

Di wilayah Jabodetabek, misalnya, terjadi penurunan harga yang signifikan untuk beberapa jenis BBM non-subsidi:

  • Pertamax (RON 92): Mengalami penurunan harga menjadi Rp 11.800 per liter.
    Sebelumnya, harga Pertamax di wilayah ini adalah Rp 12.350 per liter. Penurunan ini tentu menjadi kabar baik bagi pengendara yang menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi.
  • Pertamax Green (RON 95): Kini dibanderol Rp 12.450 per liter.
    Varian ini mengalami penurunan dari harga Rp 13.150 per liter yang berlaku pada Januari 2026.
  • Pertamax Turbo (RON 98): Turun ke angka Rp 12.700 per liter.
    Harga ini lebih rendah dibandingkan dengan Rp 13.400 per liter pada bulan sebelumnya.

Selain varian bensin, harga BBM jenis diesel dari Pertamina juga mengalami penyesuaian:

  • Dexlite (CN 51): Mengalami penurunan menjadi Rp 13.250 per liter.
    Harga sebelumnya pada Januari 2026 adalah Rp 13.500 per liter.
  • Pertamina Dex (CN 53): Juga mengalami penurunan menjadi Rp 13.500 per liter.
    Harga ini lebih rendah dari Rp 13.600 per liter yang ditetapkan pada bulan Januari.
Baca Juga :  DBH Sangihe 2025: Rp 6 Miliar Naik, Sumbang 6% APBD

Stabilitas Harga BBM Subsidi dan Penugasan

Penting untuk dicatat bahwa meskipun ada pergerakan harga pada BBM non-subsidi, sejumlah BBM penugasan dan subsidi tetap mempertahankan harganya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga keterjangkauan energi bagi masyarakat luas.

  • Pertalite: Tetap dijual dengan harga Rp 10.000 per liter.
    BBM bersubsidi ini terus menjadi pilihan utama bagi banyak pengendara di Indonesia.
  • Biosolar: Ditetapkan dengan harga Rp 6.800 per liter.
    Harga ini juga tidak mengalami perubahan, memastikan ketersediaan bahan bakar untuk sektor transportasi dan industri yang bergantung pada solar.

Penyesuaian harga BBM ini mencerminkan upaya berkelanjutan dari para operator SPBU dan pemerintah untuk menyeimbangkan antara kualitas produk, daya saing pasar, dan keberpihakan kepada konsumen. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dengan informasi harga yang lebih transparan, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan pembelian yang lebih bijak sesuai dengan kebutuhan dan anggaran masing-masing.