Berita

10 Kota Terancam Tenggelam 2100, Jakarta di Antara Mereka

×

10 Kota Terancam Tenggelam 2100, Jakarta di Antara Mereka

Sebarkan artikel ini

Ancaman Tenggelam: Kota-Kota di Dunia yang Berisiko Hilang pada Tahun 2100

Fenomena kenaikan permukaan air laut yang dipicu oleh peningkatan suhu global kini menjadi ancaman nyata bagi berbagai kota pesisir di seluruh dunia. Kombinasi antara naiknya permukaan laut dan fenomena penurunan muka tanah yang terjadi di beberapa wilayah, memprediksi bahwa sejumlah kota besar berpotensi tenggelam bahkan menghilang pada akhir abad ini, tepatnya tahun 2100. Dampak dari perubahan iklim ini sudah mulai dirasakan, dengan meningkatnya frekuensi banjir besar yang merusak permukiman dan infrastruktur, memaksa pemerintah setempat untuk mencari berbagai solusi adaptif guna menghadapi ancaman eksistensial ini.

Penyebab Utama Ancaman Tenggelam

Ada dua faktor utama yang mendorong kota-kota pesisir ini menuju jurang kepunahan:

  • Kenaikan Permukaan Air Laut: Pemanasan global menyebabkan es di kutub mencair dan air laut memuai, sehingga permukaan air laut terus meningkat. Fenomena ini secara langsung menggerus kawasan pesisir dataran rendah.
  • Penurunan Muka Tanah (Subsidence): Di banyak wilayah, penurunan muka tanah terjadi akibat aktivitas manusia, terutama pengambilan air tanah secara berlebihan. Praktik ini mengubah tekanan dan volume tanah di bawah permukaan, menyebabkan daratan secara perlahan ambles. Selain itu, urbanisasi yang tidak terkendali dan beban pembangunan perkotaan juga berkontribusi pada fenomena ini.

Kota-Kota yang Terancam Tenggelam

Berdasarkan berbagai analisis dan proyeksi, terdapat sejumlah kota di dunia yang berada dalam risiko tinggi untuk tenggelam pada tahun 2100. Daftar ini mencakup kota-kota dari berbagai benua, yang menghadapi tantangan serupa akibat kombinasi faktor di atas.

1. Jakarta, Indonesia

Ibu kota Indonesia, Jakarta, menjadi salah satu kota yang paling rentan terhadap ancaman tenggelam. Data menunjukkan bahwa Jakarta mengalami penurunan muka tanah yang sangat cepat, mencapai beberapa sentimeter setiap tahun, bahkan di beberapa area pelabuhan bisa mencapai 25 cm per tahun. Saat ini, sekitar 40 persen wilayah Jakarta sudah berada di bawah permukaan laut dan hanya dilindungi oleh tanggul laut.

Penyebab utama penurunan muka tanah di Jakarta adalah eksploitasi air tanah yang masif dan urbanisasi yang tak terkendali. Tanpa tindakan mitigasi yang serius, sebagian besar wilayah Jakarta diprediksi akan berada di bawah permukaan laut pada akhir abad ini. Ancaman ini menjadi salah satu alasan utama di balik keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke Nusantara di Kalimantan Timur, sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga :  Wabup Bintan Terima Penghargaan Baznas Awards

2. Lagos, Nigeria

Kota terbesar di Afrika, Lagos, juga menghadapi ancaman serius akibat erosi pesisir dan banjir besar yang semakin sering terjadi. Kenaikan permukaan laut global menempatkan kota ini dalam risiko tinggi. Sebuah studi pada tahun 2012 memprediksi bahwa kenaikan muka laut setinggi 1-3 meter akan berdampak “katastrofik” bagi aktivitas manusia di Lagos. Dengan proyeksi kenaikan permukaan laut global mencapai 2 meter pada akhir abad ini, ancaman tersebut semakin nyata.

3. Houston, Amerika Serikat

Kota Houston di Amerika Serikat juga mengalami penurunan muka tanah yang signifikan, dengan laju sekitar 5 cm per tahun. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh ekstraksi air tanah dalam jangka panjang. Semakin dalam kota ini tenggelam, semakin besar pula kerentanannya terhadap bencana alam ekstrem. Contohnya adalah Badai Harvey yang menyebabkan kerusakan parah dan memaksa ribuan orang mengungsi.

4. Dhaka, Bangladesh

Meskipun Bangladesh hanya menyumbang sebagian kecil dari emisi global penyebab perubahan iklim, negara ini justru menjadi salah satu yang paling terdampak oleh kenaikan permukaan laut. Diperkirakan, sekitar 17 persen wilayah Bangladesh dapat tenggelam, memaksa jutaan penduduknya untuk mengungsi pada tahun 2050.

5. Venesia, Italia

Kota bersejarah Venesia, yang terkenal dengan kanal-kanalnya, tenggelam sekitar 0,2 cm per tahun. Italia telah berupaya mengatasi masalah ini dengan membangun sistem penghalang banjir bernama Mose, yang terdiri dari 78 pintu air. Namun, proyek raksasa ini mengalami penundaan dan belum sepenuhnya selesai saat badai besar melanda pada tahun 2018, menyebabkan banjir terburuk dalam satu dekade.

6. Virginia Beach, Amerika Serikat

Virginia Beach tercatat sebagai salah satu wilayah di Pantai Timur AS dengan laju kenaikan permukaan laut tercepat. Kombinasi kenaikan muka air laut dan penurunan tanah membuat kota ini semakin rentan. NOAA memperkirakan wilayah ini dapat mengalami kenaikan muka laut hampir 3,6 meter pada tahun 2100.

Baca Juga :  Jaksa Agung Kembali Periksa 6 Saksi Terkait Proyek Bakti Kominfo

7. Bangkok, Thailand

Ibu kota Thailand, Bangkok, tenggelam lebih dari 1 cm per tahun dan diprediksi berpotensi berada di bawah permukaan laut pada tahun 2030. Untuk mengurangi risiko banjir, terutama saat musim hujan, sebuah taman seluas 4,5 hektare dibangun untuk menampung air hujan dalam jumlah besar.

8. New Orleans, Amerika Serikat

Sebagian wilayah New Orleans mengalami penurunan muka tanah sekitar 5 cm per tahun dan berisiko terendam sepenuhnya pada tahun 2100. Beberapa kawasan kota bahkan berada hingga 4,5 meter di bawah permukaan laut. Lokasinya di delta sungai menjadikan kota ini sangat rentan terhadap kenaikan muka laut dan banjir.

9. Rotterdam, Belanda

Sekitar 90 persen wilayah Rotterdam berada di bawah permukaan laut. Seiring dengan kenaikan permukaan air laut, risiko banjir di kota ini semakin meningkat. Belanda telah mengembangkan berbagai solusi adaptasi, termasuk pembangunan “taman air” yang berfungsi sebagai waduk penampung dan penghalang badai berukuran raksasa.

10. Alexandria, Mesir

Pantai-pantai Alexandria terus mengalami erosi dan menghilang akibat kenaikan permukaan laut. Laut Mediterania diperkirakan dapat naik hingga 60 cm pada tahun 2100, memperbesar ancaman bagi kota pesisir bersejarah ini.

Tantangan dan Solusi Adaptif

Ancaman tenggelamnya kota-kota ini mencerminkan persoalan global yang kompleks. Tekanan pembangunan perkotaan yang berlebihan, pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan, serta dampak perubahan iklim menjadi tantangan utama. Pemerintah di berbagai negara terus berupaya mencari solusi, mulai dari pemindahan ibu kota, pembangunan infrastruktur pelindung, hingga pengelolaan sumber daya air yang lebih baik. Namun, upaya ini memerlukan komitmen global dan tindakan nyata untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta mengadaptasi diri terhadap perubahan yang sudah terjadi.