Breaking News

7 Marinir Gugur di Cisarua, 1 Putra Gorontalo Terbaik

×

7 Marinir Gugur di Cisarua, 1 Putra Gorontalo Terbaik

Sebarkan artikel ini

Tujuh Prajurit Marinir Gugur dalam Longsor Cisarua, Operasi Pencarian Diperpanjang

Bencana tanah longsor dahsyat yang melanda kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026) lalu, merenggut nyawa tujuh prajurit terbaik Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Penemuan jenazah para ksatria samudra ini, yang sedang menjalankan tugas di wilayah tersebut, telah dikonfirmasi dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar TNI AL serta masyarakat luas.

Dari tujuh prajurit yang berhasil dievakuasi dan diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI), salah satunya adalah Serda Marinir Rein Pasaike, putra kebanggaan Provinsi Gorontalo. Kepergian Rein, yang dikenal sebagai sosok berdedikasi tinggi di satuannya, memicu gelombang simpati dan duka di tanah kelahirannya. Ia menjadi simbol patriotisme dan pengorbanan pemuda Gorontalo di medan tugas negara.

Hingga Jumat (30/1/2026), tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, dan relawan terus bekerja keras di bawah timbunan material longsor yang sangat berat. Upaya evakuasi dilakukan dengan penuh ketelitian dan penghormatan untuk menjaga martabat jenazah para prajurit yang ditemukan di berbagai titik lokasi pencarian.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Tunggul, menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya para prajurit. Ia menegaskan bahwa keberhasilan evakuasi ketujuh prajurit ini merupakan hasil kerja sama sinergis antarinstansi. Proses identifikasi dilakukan secara cepat namun tetap mengedepankan akurasi untuk memastikan penyerahan jenazah yang tepat kepada keluarga.

“Kami sampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas gugurnya para prajurit terbaik Korps Marinir. Hingga hari ini, tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi tujuh jenazah, namun perjuangan belum berakhir karena masih ada rekan-rekan mereka yang dalam proses pencarian,” ujar Laksamana Pertama TNI Tunggul pada Sabtu (31/1/2026).

Identitas Tujuh Prajurit Marinir yang Gugur

Daftar nama tujuh prajurit Marinir yang berhasil dievakuasi dan diidentifikasi adalah sebagai berikut:

  • Serda Marinir Sidiq Hariyanto
  • Praka Marinir Muhammad Kori
  • Praka Marinir Andre Nicky Olga Suwita
  • Praka Marinir Ari Kurniawan
  • Pratu Marinir Febry Bramantio
  • Serda Marinir Rein Pasaike
  • Koptu Marinir Edi Haryono
Baca Juga :  Kebakaran Hebat Landa Pasar Kasongan, 12 Armada Damkar Palangka Raya Berjibaku

Keberhasilan identifikasi Serda Marinir Rein Pasaike menjadi sorotan utama di Gorontalo. Ia dianggap sebagai representasi pemuda tangguh daerah yang rela berkorban demi bangsa dan negara. Pemerintah Provinsi Gorontalo dan jajaran Lanal Gorontalo dikabarkan tengah mempersiapkan segala sesuatunya jika keluarga memutuskan untuk memakamkan almarhum di kampung halaman, sebuah pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi setiap prajurit TNI dalam menjalankan tugas, bahkan di medan bencana sekalipun.

Perjuangan Tanpa Henti Tim SAR di Medan Berat

Pencarian korban di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, merupakan sebuah tantangan besar. Material longsor yang terdiri dari tanah liat basah, bebatuan besar, hingga reruntuhan bangunan menjadi rintangan utama bagi ribuan personel yang diterjunkan ke lokasi.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, secara resmi telah memperpanjang masa operasi SAR selama tujuh hari ke depan. Keputusan ini diambil mengingat masih adanya 16 prajurit TNI AL lainnya dan sejumlah warga sipil yang dilaporkan hilang dan diduga masih tertimbun di bawah lapisan tanah yang tebal. Perpanjangan operasi ini disesuaikan dengan masa tanggap darurat yang telah ditetapkan oleh Bupati Bandung Barat. Fokus utama saat ini adalah menyisir sektor-sektor yang diduga menjadi titik kumpul terakhir para prajurit sebelum longsor menerjang.

Pemanfaatan Teknologi dan Anjing Pelacak untuk Mempercepat Evakuasi

Untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi, tim SAR tidak hanya mengandalkan tenaga manusia. Berbagai teknologi dan metode canggih turut dikerahkan:

  • Anjing Pelacak K9: Sebanyak 22 ekor anjing pelacak dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan korban melalui aroma tubuh di bawah timbunan tanah yang diperkirakan mencapai ketinggian beberapa meter. Kepekaan indera penciuman anjing pelacak terbukti sangat membantu dalam menentukan titik-titik potensi pencarian.

  • Alat Berat: Sebanyak 17 unit ekskavator dioperasikan dengan sangat hati-hati. Alat berat ini difungsikan untuk membuka akses jalan dan memindahkan material longsor berupa batu-batu besar yang tidak mungkin diangkat secara manual oleh personel di lapangan. Penggunaan alat berat ini harus dilakukan dengan presisi untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada area pencarian.

  • Drone: Pemanfaatan teknologi udara menjadi kunci penting dalam memetakan pergerakan tanah dan area terdampak. Sebanyak 22 unit drone diterjunkan untuk memantau area dari ketinggian. Hal ini tidak hanya membantu dalam pemetaan, tetapi juga memastikan keselamatan tim evakuasi dari ancaman longsor susulan yang masih mungkin terjadi, terutama jika hujan kembali turun.

Baca Juga :  Kapal Pancing Tenggelam di Tanjung Gomo, Warga Kendari Hilang

Pembagian Sektor Pencarian dan Status Tanggap Darurat

Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menjelaskan bahwa area longsor telah dibagi menjadi beberapa sektor pencarian yang terstruktur. Penemuan jenazah terjadi di titik-titik yang berbeda, menunjukkan betapa luasnya sebaran material longsor saat kejadian berlangsung.

“Kami menemukan korban di Worksite A dan Worksite B. Jarak antar penemuan menunjukkan bahwa sebaran material longsor ini cukup luas,” kata Ade. Hingga Sabtu siang, total kantong jenazah yang telah dievakuasi mencapai angka 63, yang mencakup baik korban militer maupun sipil.

Tim DVI Polri bekerja tanpa henti di posko kesehatan untuk melakukan pencocokan data antemortem dan postmortem. Proses ini sangat krusial, terutama mengingat kondisi jenazah yang terkena tekanan material berat memerlukan ketelitian medis yang tinggi untuk memastikan identitas yang benar sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sendiri telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Penetapan status ini memungkinkan alokasi dana darurat dan pengerahan sumber daya yang lebih besar untuk penanganan dampak bencana hidrologi yang terjadi. Marsekal Madya Syafii menyampaikan harapan agar seluruh korban dapat ditemukan sebelum masa tanggap darurat berakhir pada 6 Februari 2026.

“Mohon doanya dari seluruh masyarakat agar cuaca mendukung dan kami bisa membawa pulang semua korban ke pangkuan keluarga,” tambah Marsekal Madya Syafii, seraya memohon dukungan doa dari masyarakat luas demi kelancaran dan keberhasilan operasi pencarian ini.