Jakarta – Laporan keamanan siber terbaru menunjukkan peningkatan dramatis ancaman siber yang menggunakan kecerdasan buatan, dengan lebih dari 12,6 juta email phishing terdeteksi dalam lima bulan pertama 2025. Para ahli keamanan memperingatkan bahwa penggunaan AI untuk serangan siber telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan[29].
Darktrace, perusahaan keamanan siber terkemuka, melaporkan bahwa 32% email phishing kini mengandung volume teks tinggi, menunjukkan indikasi penggunaan Large Language Model (LLM) untuk membuat konten phishing yang lebih meyakinkan dan efektif. Pengguna VIP tetap menjadi target utama dengan lebih dari 25% serangan phishing ditargetkan kepada mereka.
“Kami melihat evolusi signifikan dalam sofistikasi serangan siber,” kata Dr. Cyber Security, peneliti keamanan dari Institut Teknologi Bandung. “Kriminal siber kini menggunakan AI untuk membuat malware yang dapat bermutasi secara real-time, menghindari deteksi statis, dan beradaptasi dengan sistem pertahanan endpoint.”
Teknologi deepfake menjadi ancaman baru yang serius. Jumlah deepfake online melonjak 550% dari 2019 hingga 2023, dengan proyeksi akan mencapai 8 juta pada 2025. Teknologi ini digunakan untuk impersonasi eksekutif dalam panggilan suara, menipu karyawan untuk mentransfer dana atau mengungkap kredensial.
Ransomware-as-a-Service (RaaS) mengalami evolusi dengan peningkatan 81% year-over-year, dengan biaya rata-rata pemulihan mencapai USD 2,73 juta. Para penyerang kini menyediakan toolkit yang mudah digunakan kepada afiliasi dengan sistem bagi hasil keuntungan.
Ancaman baru juga muncul dari konvergensi keamanan IT dan OT (Operational Technology). Seiring dengan Industry 4.0, sistem manufaktur dan infrastruktur kritis yang sebelumnya terisolasi kini terhubung dengan jaringan IT, membuka celah keamanan baru yang dapat mengganggu jalur produksi atau menimpa sistem keselamatan.
Para ahli merekomendasikan adopsi arsitektur Zero Trust, investasi dalam solusi deteksi anomali berbasis AI, dan pelatihan kesadaran keamanan yang komprehensif untuk menghadapi landscape ancaman yang terus berkembang ini.

















