JAKARTA – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA), sebuah perusahaan yang mengelola taman rekreasi, menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 750.000 hingga 800.000 pada pekan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun 2025. Perusahaan ini optimis bahwa periode musim liburan ini dapat meningkatkan kinerja keuangan mereka di akhir tahun.
Daniel Nainggolan, Direktur Pembangunan Jaya Ancol, menyebutkan bahwa target pengunjung tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi sebesar 10% terhadap total pendapatan perseroan. Ia menjelaskan bahwa dalam masa liburan Nataru, jumlah pengunjung diperkirakan akan meningkat signifikan.
“Ankol menargetkan 750.000 sampai 800.000 pengunjung di pekan libur Nataru 2025. Pendapatan tersebut diproyeksikan memberikan kontribusi sekitar 10% terhadap pendapatan perseroan,” ujarnya dalam wawancara dengan media bisnis pada Senin (1/12/2025).
Meski kinerja keuangan Ancol mengalami penurunan pada bulan September 2025, momentum liburan ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk mencapai target keuangan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan laporan keuangan PJAA, perseroan mencatatkan pendapatan senilai Rp798,52 miliar pada kuartal III/2025. Angka ini menurun sebesar 9,40% dibandingkan pendapatan sebesar Rp881,44 miliar pada periode yang sama di tahun 2024.
Penurunan pendapatan ini sejalan dengan penurunan pendapatan di berbagai segmen bisnis. Pada segmen pariwisata, PJAA mencatatkan pendapatan turun sebesar 40,28% YoY menjadi Rp567,76 miliar pada kuartal III/2025. Sementara itu, segmen real estat hanya mencatatkan pendapatan sebesar Rp180,07 miliar, turun dari Rp223,90 miliar pada akhir 2024. Segmen perdagangan dan jasa juga mengalami penurunan menjadi Rp155,98 miliar.
Akibatnya, setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, PJAA hanya mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp58,62 miliar pada kuartal III/2025. Angka ini turun sebesar 41,72% YoY dibandingkan Rp100,59 miliar pada periode yang sama di tahun 2024.
Liza Camelia, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa emiten pariwisata seperti PJAA memang sangat sensitif terhadap musim liburan. Sebagai salah satu pengelola taman rekreasi terbesar di Jakarta, seperti Dunia Fantasi (Dufan) dan Ancol, PJAA memiliki potensi besar dalam meningkatkan traffic dan pendapatan selama masa liburan.
“Kalau yang langsung sensitif ke musim liburan, memang namanya lekat dengan PJAA yang mampu jadi play taktis karena traffic taman rekreasi dan resort biasanya melonjak. Tapi risikonya memang lebih besar karena saham tidak likuid dan laporan keuangannya tidak sekinclong peers,” ujarnya.
Namun, secara umum, Liza menilai bahwa masyarakat masih akan menyisihkan anggaran untuk libur akhir tahun. Hal ini membuat pelemahan daya beli tidak sepenuhnya menghambat potensi pemulihan kinerja emiten pariwisata.
Menurut Liza, segmen menengah ke atas akan menjadi penopang utama permintaan pariwisata, terutama di destinasi besar seperti Bali dan Jakarta. Okupansi serta pendapatan hotel di daerah tersebut diperkirakan meningkat seiring naiknya mobilitas wisatawan pada periode libur panjang.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

















