Anjing Pelacak Dikerahkan untuk Maksimalkan Pencarian Korban Longsor di Bandung Barat
Upaya pencarian korban hilang pasca bencana tanah longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mendapatkan dukungan signifikan dari kesatuan anjing pelacak. Detasemen K9 Unit SAR Direktorat Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam Polri mengerahkan satuan terlatih mereka mulai Minggu, 25 Januari.
Pada hari Senin, 26 Januari, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, mengonfirmasi pengerahan ini. Sebanyak 20 personel dari Detasemen K9 SAR Ditpolsatwa Korsabhara Baharkam Polri, dipimpin oleh Iptu Erasmus selaku Ketua Tim K9, ditugaskan untuk membantu operasi pencarian dan pertolongan.
“Didukung oleh tim veteriner, para handler, pelindung, serta pengemudi, kekuatan ini diperkuat dengan 6 ekor satwa pelacak K9,” jelas Kombes Hendra Rochmawan. Keenam anjing pelacak yang memiliki spesialisasi dalam pencarian jenazah (cadaver search) bernama Walet, Ari, Rubin, Dasa, Gyra, dan Sita.
Untuk memastikan efektivitas dan mobilitas di medan bencana yang sulit, tim K9 SAR juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung. Fasilitas tersebut meliputi satu unit truk boks dan empat unit kendaraan khusus Navara K9.
“Pengerahan Detasemen K9 SAR ini merupakan wujud keseriusan dan komitmen Polri dalam misi kemanusiaan. Seluruh sumber daya kami kerahkan secara maksimal, cepat, dan terukur agar proses pencarian korban dapat berlangsung efektif,” tambahnya, menegaskan dedikasi kepolisian dalam penanganan bencana.
Perkembangan Korban dan Area Pencarian yang Diperluas
Berdasarkan informasi terkini dari Tim Disaster Victim Identification (DVI), hingga saat ini, sebanyak 17 jenazah korban meninggal dunia telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, 11 jenazah telah berhasil diidentifikasi. Para korban yang teridentifikasi adalah:
- Suryana (57 tahun)
- Jajang Tarta (35 tahun)
- Dadang Apung (60 tahun)
- Nining (40 tahun)
- Nurhayati (42 tahun)
- Lina Lismayanti (43 tahun)
- M. Kori (30 tahun)
- AI Sumarni (35 tahun)
- Koswara (40 tahun)
- Koswara (26 tahun)
- Ayu Yuniarti (31 tahun)
Meskipun belasan jenazah telah ditemukan, operasi SAR masih terus berlanjut dengan intensitas tinggi. Hal ini dikarenakan masih terdapat sekitar 80 korban yang dilaporkan hilang dan belum ditemukan.
Fokus pencarian pada hari ini diarahkan pada titik-titik yang telah dipetakan sebelumnya. Pemetaan ini memanfaatkan teknologi drone yang menghasilkan citra udara untuk diolah dan dianalisis.
Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, secara langsung memimpin jalannya operasi SAR gabungan ini. Beliau menyampaikan bahwa dua area pencarian utama yang menjadi konsentrasi Tim SAR Gabungan hari ini adalah Sektor A dan Sektor B yang berlokasi di Desa Pasirlangu.
Kolaborasi Lintas Sektor dalam Operasi SAR Skala Besar
Operasi pencarian dan pertolongan ini melibatkan kolaborasi lintas sektor yang sangat luas, menunjukkan sinergi antarlembaga dan elemen masyarakat. Ribuan personel dari berbagai instansi dikerahkan, termasuk:
- Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)
- Tentara Nasional Indonesia (TNI)
- Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)
- Kementerian Pekerjaan Umum
- Kementerian Kesehatan
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
- Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
- Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
- Pemerintah Provinsi Jawa Barat
- Berbagai organisasi relawan dan komunitas SAR yang berasal dari Jawa Barat dan wilayah sekitarnya.
Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo menjelaskan bahwa Tim SAR Gabungan menerapkan berbagai metode pencarian untuk memaksimalkan peluang menemukan korban. Metode yang digunakan meliputi pencarian secara manual oleh tim di lapangan, penggunaan alat seperti alkon (alat komunikasi dan navigasi), hingga pengerahan alat berat untuk menjangkau area yang sulit diakses. Pendekatan multidimensional ini diharapkan dapat mempercepat dan mengefektifkan proses pencarian korban yang masih hilang.

















