Aurelie Moeremans Serukan Hentikan Perundungan Terkait Buku “Broken Strings”
Fenomena buku memoar “Broken Strings” karya Aurelie Moeremans yang viral belakangan ini justru menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi sang penulis. Aurelie Moeremans secara tegas meminta publik untuk menghentikan praktik perundungan dan serangan terhadap individu yang dikaitkan dengan karakter fiktif dalam bukunya. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan semakin banyaknya asumsi publik yang berkembang, bahkan hingga menyeret nama-nama tertentu dan menimbulkan kegaduhan di media sosial.
Melalui unggahan di akun Threads pribadinya, Aurelie menyampaikan kegelisahannya. Ia merasa tidak nyaman melihat reaksi publik yang mulai mengarah pada tindakan membully. Buku “Broken Strings” yang ditulisnya dengan niat tulus untuk berbagi pengalaman pribadi, kini justru berpotensi disalahgunakan untuk menyerang pihak lain.
“Please.. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings,” tulis Aurelie. Ia menekankan bahwa cerita yang ia tuangkan dalam buku tersebut bukanlah sebuah undangan untuk memburu identitas asli di balik karakter-karakter fiktif yang ada. Menurutnya, banyak asumsi yang beredar saat ini sudah melenceng jauh dari tujuan awal penulisan memoar tersebut.
“Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan,” lanjutnya. Aurelie menyoroti bahwa banyak spekulasi di luar sana yang belum tentu memiliki dasar kebenaran. Ia secara jujur mengaku merasa tidak enak hati ketika membaca berbagai komentar yang bermunculan, yang sebagian besar bersifat spekulatif dan berpotensi menyakiti pihak lain.
“Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar dan jujur aku gak enak bacanya,” ungkap Aurelie Moeremans. Ia menegaskan kembali bahwa tujuan utama dari penulisan “Broken Strings” adalah untuk berbagi pengalaman, luka, dan proses penyembuhan dirinya sendiri. Memoar ini tidak dibuat dengan maksud untuk mengungkap identitas siapa pun di dunia nyata, menghakimi, apalagi mengeroyok.
Tanggung Jawab Penulis vs. Interpretasi Publik
Meskipun demikian, Aurelie Moeremans juga tidak dapat bertanggung jawab sepenuhnya jika ada pihak yang merasa secara sukarela mengidentifikasi diri mereka sebagai salah satu karakter dalam buku tersebut. Ia memberikan keleluasaan bagi setiap individu untuk berpendapat dan merasa terhubung dengan cerita, namun ia sangat menekankan perbedaan antara identifikasi diri yang sukarela dengan tindakan menyerang berdasarkan tebakan semata.
“Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan,” tegasnya. Aurelie berupaya menjaga batasan agar niat baiknya dalam berbagi cerita tidak disalahartikan menjadi sarana untuk melakukan perundungan.
Pesan Kebaikan dan Empati di Balik “Broken Strings”
Di akhir pesannya, Aurelie Moeremans menyampaikan sebuah pesan yang lebih luas mengenai tujuan penulisan “Broken Strings”. Ia menegaskan bahwa buku ini tidak pernah diniatkan untuk menciptakan target baru bagi praktik perundungan. Sebaliknya, ia menulis buku ini dengan harapan dapat membuka mata banyak orang, meningkatkan kesadaran, dan semoga dapat membantu mereka yang pernah berada dalam posisi serupa.
“Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat dibully. Aku nulis karena ingin membuka mata, member awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” tandasnya. Aurelie berharap agar ruang diskusi seputar bukunya dapat tetap dijaga agar tetap baik, aman, dan dipenuhi dengan rasa empati.
Fenomena yang terjadi saat ini, termasuk sorotan terhadap individu seperti Roby Tremonti yang sempat menjadi olok-olok netizen akibat klarifikasi blunder terkait identitasnya sebagai ‘Bobby’ di “Broken Strings”, menjadi bukti nyata kekhawatiran Aurelie. Meskipun ia tidak bisa mengontrol interpretasi setiap pembaca, Aurelie terus berupaya mengingatkan publik untuk menjaga etika berkomunikasi dan tidak menggunakan karya fiksi sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Buku “Broken Strings” seharusnya menjadi pengingat akan kekuatan cerita dan proses penyembuhan, bukan alat untuk menyulut kebencian atau perundungan.

















