Misteri Hilangnya Pendaki di Gunung Lawu: Operasi Pencarian 13 Hari Berakhir Nihil
Karanganyar – Setelah perjuangan tanpa henti selama 13 hari, operasi pencarian terhadap seorang pendaki bernama Yasid Ahmad Firdaus (26) di Bukit Mongkrang, Gunung Lawu, resmi dihentikan pada Sabtu (31/1/2026). Hingga akhir operasi, keberadaan pendaki asal Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar ini masih menjadi misteri, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan tim penyelamat.
Suasana haru menyelimuti area operasi saat Tim SAR gabungan menyampaikan penghentian misi pencarian. Para personel SAR, yang telah mengerahkan segala upaya dan sumber daya, memeluk ayah Yasid, Sapto Mulyono, sembari menyampaikan permohonan maaf atas belum ditemukannya sang putra.
Upaya Maksimal yang Belum Berbuah Hasil
Operasi pencarian Yasid dimulai pada Senin (19/1/2026), sehari setelah ia dilaporkan hilang. Selama hampir dua pekan, tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai elemen, termasuk Basarnas, TNI, Polri, relawan pecinta alam, dan masyarakat setempat, tak kenal lelah menyisir setiap jengkal area Bukit Mongkrang.
Koordinator Pengendali Operasi SAR (Opsar) Mongkrang, Tri Puji Susilo, menjelaskan bahwa penghentian operasi dilakukan setelah pengerahan sumber daya maksimal. Sebanyak 16 Search and Rescue Unit (SRU) dengan total 270 personel telah dikerahkan untuk melakukan penyisiran. Operasi SAR secara resmi diakhiri sekitar pukul 16.00 WIB.
Meskipun telah dikerahkan ratusan personel dan berbagai teknik pencarian, hingga akhir operasi, tim tidak menemukan jejak sekecil apa pun yang mengarah pada keberadaan Yasid. Berbagai kemungkinan telah ditelusuri, mulai dari pakaian, sepatu, jam tangan, hingga ponsel iPhone yang biasa dibawa korban. Penyisiran bahkan dilakukan hingga ke jurang dengan kedalaman mencapai 200 meter, namun semuanya berakhir nihil.
Seluruh Jalur Pendakian Telah Disisir
Menurut Kepala Sub-bidang Operasi Basarnas Surakarta, Basuki, seluruh jalur pendakian Bukit Mongkrang telah disisir secara menyeluruh. Penyisiran dilakukan mulai dari area puncak, pos loket masuk, jalur Taman Nogo, hingga jalur yang biasa digunakan untuk acara-acara khusus seperti Sikap Rogo 2025.
Lebih lanjut, Basuki merinci bahwa tim SAR gabungan juga melakukan penyisiran di jurang sedalam 200 meter di sekitar Pos 3 menggunakan metode vertical rescue. Selain itu, metode flying camp juga diterapkan di kawasan Candi 1 selama tiga hari terakhir.
“Kami sisir dari sisi barat sampai ke sumber air di sungai tersebut. Dan hingga sore hari ini, kami dari tim gabungan masih mendapatkan hasil nihil,” ungkap Basuki.
Perpanjangan Operasi yang Tetap Nihil
Operasi pencarian Yasid tidak serta-merta dihentikan. Pencarian sempat diperpanjang dua kali, masing-masing dengan estimasi waktu tiga hari, untuk memberikan kesempatan lebih bagi tim SAR menemukan petunjuk. Namun, selama masa perpanjangan tersebut, tim tetap tidak menemukan jejak atau barang pribadi milik Yasid.
“Karena tim SAR sudah melaksanakan perpanjangan 2 kali dan selama itu kami menemukan jejak atau pun ceceran dari survivor, operasi SAR kami nyatakan dihentikan,” tegas Basuki.
Permohonan Maaf dan Harapan Keluarga
Dalam evaluasi akhir operasi SAR, suasana haru tak terhindarkan. Tri Puji Susilo tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Yasid yang hadir. Momen tersebut diwarnai pelukan hangat antara relawan, tim SAR, dan keluarga, sebagai bentuk saling menguatkan.
Ayah Yasid, Sapto Mulyono, menunjukkan ketegaran luar biasa di tengah situasi sulit ini. Ia tidak banyak berkomentar, namun hanya memohon doa agar putranya dapat segera ditemukan dalam kondisi terbaik, sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa.
Basarnas mengimbau masyarakat yang mungkin memiliki informasi atau menemukan jejak terkait Yasid untuk segera melaporkan kepada pihak berwenang. Jika keluarga berencana untuk melanjutkan pencarian secara mandiri, Basuki menekankan pentingnya koordinasi dengan Basarnas untuk memastikan keselamatan dan efektivitas upaya pencarian.
Hingga kini, misteri hilangnya Yasid Ahmad Firdaus di Gunung Lawu masih menyisakan tanda tanya besar, menjadi pengingat akan kekuatan alam dan pentingnya persiapan matang saat melakukan pendakian.

















