Berita Utama

Bali Slam: Jejak Saudara Hindu Bali, Bukan Sekadar Pendatang

×

Bali Slam: Jejak Saudara Hindu Bali, Bukan Sekadar Pendatang

Sebarkan artikel ini

Mengungkap Jejak Sejarah Islam di Pulau Dewata: Peluncuran Buku “Bali Slam – Entitas yang Terlupakan”

Denpasar, Bali – Setelah dua tahun dedikasi mendalam dalam penelitian untuk mengungkap tabir sejarah Islam di Pulau Dewata, sebuah karya monumental bertajuk “Bali Slam – Entitas yang Terlupakan” akhirnya resmi diluncurkan ke publik. Buku yang merupakan hasil kolaborasi antara Ilham Efendi dan Dompet Dhuafa Bali ini diperkenalkan di Denpasar pada Sabtu, 31 Januari lalu.

Peluncuran buku ini disambut dengan antusiasme, menandai sebuah upaya signifikan untuk merevitalisasi memori kolektif tentang keberadaan dan peran komunitas Muslim di Bali. Ilham Efendi, sang penulis utama, menyatakan harapannya bahwa buku ini dapat memberikan literasi yang lebih luas kepada masyarakat mengenai “Bali Slam.”

“Alhamdulillah, buku ini diharapkan bisa memberikan literasi bagi semua mengenai Bali Slam,” ujar Ilham Efendi saat peluncuran. Ia menjelaskan bahwa “Bali Slam” merupakan sebutan atau identitas bagi masyarakat Muslim Bali yang keberadaannya kerap terlupakan dalam narasi sejarah besar. Padahal, menurut Ilham, umat Islam di Bali bukanlah pendatang baru, melainkan merupakan bagian integral dari sejarah pulau ini, bahkan disebutnya sebagai “saudara kedua” setelah Hindu Bali.

Dalam karya tulisnya, Ilham Efendi secara komprehensif menggambarkan jejak sejarah Islam di Bali, mencakup lokasi-lokasi penting dan artefak peninggalan yang selama ini jarang terekspos. Upaya penelitian yang memakan waktu lebih dari dua tahun ini melibatkan penelusuran mendalam di berbagai kampung Muslim di Bali.

Jejak Langkah Bali Slam: Dari Klungkung hingga Jembrana

Perjalanan Ilham Efendi dan timnya dalam menelusuri jejak “Bali Slam” dimulai dari Kampung Islam Gelgel di Klungkung. Dari sana, mereka melanjutkan penelusuran ke berbagai wilayah strategis lainnya, yang masing-masing memiliki cerita sejarah unik:

  • Kampung Kecicang Islam, Kampung Islam Buitan di Karangasem: Wilayah ini menjadi saksi bisu perkembangan Islam di bagian timur Bali.
  • Kampung Kepaon di Badung (kini masuk wilayah Denpasar): Kampung ini merupakan salah satu pusat permukiman Muslim yang memiliki sejarah panjang di Bali Selatan.
  • Kampung Bugis Suwung Batan Kendal dan Kampung Bugis Serangan – Tanjung Benoa – Kuta: Wilayah ini menunjukkan keberadaan komunitas Muslim yang terintegrasi dalam aktivitas maritim dan perdagangan.
  • Kampung Loloan di Jembrana: Di Bali Barat, Kampung Loloan menjadi pusat penting bagi penyebaran dan pelestarian ajaran Islam.
  • Buleleng di Singaraja dan Pegayaman: Wilayah utara Bali ini juga menyimpan jejak sejarah Islam yang kaya, dengan komunitas yang memiliki tradisi unik.
Baca Juga :  4 Doa Pagi Buka Rezeki, Amalkan Setiap Hari untuk Kekayaan dan Ketenangan Hati

Penelusuran ini tidak hanya sekadar mengungkap keberadaan fisik kampung-kampung tersebut, tetapi juga menggali cerita tutur, bukti-bukti sejarah, manuskrip, dan tradisi yang menegaskan bahwa umat Islam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Bali selama berabad-abad.

Ilham Efendi menekankan pentingnya buku ini bagi generasi penerus. “Saya ingin buku ini bisa bermanfaat, agar generasi penerus tidak lupa dengan Bali Slam. Mereka bisa menjaga warisan sejarah, budaya, dan peradaban yang menjadi bagian dari Bali,” imbuhnya.

Apresiasi dari Akademisi dan Tokoh Masyarakat

Peluncuran buku “Bali Slam” mendapatkan apresiasi tinggi dari berbagai kalangan. Prof. I Putu Gede Suwitha, Guru Besar Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (Unud), menyambut baik karya ini sebagai hasil penelitian yang komprehensif.

Baca Juga :  Presiden Menerima Kunjungan Kehormatan Menlu Malaysia

Menurut Prof. Gede Suwitha, buku ini tidak hanya menyajikan bukti-bukti baru, tetapi juga memperkaya wawasan mengenai sejarah, budaya, serta hubungan antara Bali dan Islam yang telah terjalin sejak abad ke-17 dan 18. “Buku ini kaya dengan bahan-bahan sejarah. Bali Slam juga merupakan saudara kedua Hindu Bali,” tegasnya.

Konsep “saudara kedua” ini merujuk pada nilai luhur budaya Bali, yaitu nyama braya. Prinsip ini mengajarkan persaudaraan dan pengakuan sosial bahwa manusia tetap terikat dalam tali persaudaraan meskipun memiliki perbedaan keyakinan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Haryo Mojopahit, Kepala Divisi Pengembangan Program Pendidikan, Riset, dan Budaya Dompet Dhuafa. Usai acara grand launching, Haryo menyatakan bahwa buku “Bali Slam” berhasil mengungkap sejarah umat Islam yang tidak terpisahkan dari arus perjalanan sejarah di Pulau Dewata.

“Buku ini menguak peran dan kontribusi nyame slam yang bahu-membahu dengan nyame Hindunya. Semoga buku ini memberikan manfaat bagi semua pembacanya,” tutur Haryo Mojopahit, menekankan semangat kolaborasi dan persaudaraan yang ditunjukkan oleh komunitas Muslim dan Hindu di Bali sepanjang sejarah.

Buku “Bali Slam – Entitas yang Terlupakan” diharapkan menjadi jembatan untuk memahami kekayaan sejarah dan keragaman budaya Bali yang selama ini mungkin luput dari perhatian, serta memperkuat semangat persatuan dan keberagaman di tanah air.