Berita

Baru 28,5% Masyarakat Ingin Gunakan Asuransi, Ini Keluhan DAI dan AAUI

×

Baru 28,5% Masyarakat Ingin Gunakan Asuransi, Ini Keluhan DAI dan AAUI

Sebarkan artikel ini

Tingkat Literasi dan Inklusi Asuransi di Indonesia Masih Rendah



Denpasar – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa hanya 28,50% masyarakat yang bersedia menggunakan produk asuransi pada tahun 2025. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tingkat penggunaan perbankan yang mencapai 70,65%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih belum memahami pentingnya asuransi sebagai alat perlindungan keuangan.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi perasuransian mencapai 45,45%. Meski angka ini meningkat dari posisi sebelumnya yang hanya 36,9%, tetapi masih tergolong rendah. Sementara itu, indeks inklusi asuransi berada pada level 28,50%, yang juga meningkat dari 12,12% pada periode sebelumnya. Meskipun angka tersebut masih mini, peningkatan ini menunjukkan adanya kesadaran yang sedang berkembang di kalangan masyarakat terhadap manfaat asuransi.

Indeks literasi dan inklusi asuransi menjadi dua indikator utama yang digunakan oleh OJK untuk mengukur sejauh mana masyarakat memahami dan memanfaatkan produk asuransi. Indeks literasi asuransi menggambarkan tingkat pengetahuan, pemahaman, serta keyakinan masyarakat terhadap fungsi dan manfaat asuransi sebagai instrumen perlindungan keuangan. Sementara itu, indeks inklusi asuransi menunjukkan seberapa banyak masyarakat yang telah memiliki atau menggunakan produk asuransi, baik asuransi jiwa, kesehatan, maupun umum.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara, menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam industri asuransi adalah memperkenalkan dan memasyarakatkan pentingnya berasuransi. Ia menilai bahwa tingkat pemahaman masyarakat tentang asuransi masih perlu ditingkatkan. Namun, ia melihat adanya peluang karena gaya hidup digital semakin memengaruhi perilaku masyarakat.

Baca Juga :  Nottingham Forest Lepas Ange Postecoglou Pasca Kekalahan Beruntun di Liga Inggris

“Kami meyakini bahwa literasi asuransi bukan hanya tentang mengenalkan produk, tetapi juga memberikan pemahaman yang benar mengenai pentingnya perlindungan keuangan melalui asuransi,” ujar Yulius.

Dia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga memiliki produk asuransi dan merasakan langsung manfaatnya. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap asuransi sebagai instrumen proteksi dapat terus tumbuh, sehingga semakin banyak keluarga dan pelaku usaha yang terlindungi dari risiko di masa depan.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, menjelaskan bahwa asuransi bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat untuk menghadapi risiko yang dapat terjadi kapan saja, seperti bencana alam maupun kecelakaan.

“Kami mengajak seluruh elemen dan pemangku kepentingan serta insan perasuransian untuk terus aktif memberikan edukasi yang menyentuh langsung masyarakat agar mereka tidak hanya memahami, tetapi juga memiliki produk asuransi dan merasakan manfaatnya,” kata Budi.

Kinerja Industri Asuransi di Tahun 2025

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga September 2025, industri asuransi memiliki total aset sebesar Rp1.169,64 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 3,30% (YoY). Dari sisi asuransi komersial, aset tercatat sebesar Rp948,4 triliun atau meningkat 3,99% (YoY). Pendapatan premi Januari–Juli 2025 sebesar Rp194,55 triliun atau naik 0,77% (YoY).

Baca Juga :  Ini dia! Man of the match Arsenal vs Aston Villa: Gabriel Magalhaes

Premi asuransi jiwa tercatat sebesar Rp103,42 triliun atau terkontraksi 0,84% (YoY), sementara premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh 2,67% (YoY) dengan nilai Rp91,13 triliun. Pada Juli 2025, total klaim asuransi komersial tercatat sebesar Rp110,12 triliun, turun 6,92% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp118,30 triliun. Klaim asuransi jiwa tercatat sebesar Rp74,59 triliun, mengalami penurunan 9,93% dari Rp82,82 triliun tahun sebelumnya. Sementara itu, klaim asuransi umum justru meningkat sebesar 2,07%, dari Rp28,11 triliun pada Juli 2024 menjadi Rp28,69 triliun pada Juli 2025. Adapun klaim reasuransi turun 7,19%, dari Rp7,37 triliun menjadi Rp6,84 triliun.

Sementara itu, industri Asuransi Syariah pada kinerja Juli 2025 menunjukkan kinerja positif. Hingga Juli 2025, total aset mencapai Rp47,94 triliun, tumbuh 5,58% (YoY), dari Rp45,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total kontribusi juga meningkat menjadi Rp15,56 triliun atau naik 5,41% (YoY). Dari sisi investasi, industri asuransi syariah berhasil mencatat pertumbuhan 5,22% YoY, meningkat dari Rp35,73 triliun pada Juli 2024 menjadi Rp37,59 triliun pada Juli 2025. Sedangkan total klaim asuransi syariah tercatat sebesar Rp3,79 triliun, naik tipis 2,16% YoY.