Berita Utama

BRIN-Rosatom: Kolaborasi Pengelolaan Limbah Radioaktif Indonesia

×

BRIN-Rosatom: Kolaborasi Pengelolaan Limbah Radioaktif Indonesia

Sebarkan artikel ini

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara proaktif memperkuat jejaring kolaborasi internasionalnya, khususnya dalam domain krusial pengelolaan limbah radioaktif. Langkah strategis ini bertujuan ganda: menjamin keselamatan harkat manusia dan menjaga kelestarian lingkungan dari potensi ancaman radiasi. Upaya konkret dalam mewujudkan visi ini ditandai dengan sebuah kunjungan penting dari delegasi TVEL Rosatom, sebuah entitas terkemuka di sektor energi nuklir asal Rusia. Kunjungan ini berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie, Serpong, pada hari Kamis, 11 Desember 2025.

Membuka Pintu Kerja Sama Strategis

Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN, Maman Kartaman Ajiriyanto, menegaskan bahwa BRIN kini secara terbuka menyambut dan menjajaki berbagai peluang kerja sama strategis. Fokus utama dari kolaborasi ini adalah pada pengembangan teknologi mutakhir dan pembangunan fasilitas yang memadai untuk pengelolaan limbah radioaktif. Menurut Maman, Rosatom memiliki rekam jejak dan kapabilitas teknologi yang sangat luas dan mendalam, mencakup berbagai aspek mulai dari pengelolaan limbah radioaktif skala kecil hingga pengembangan teknologi fabrikasi bahan bakar yang esensial bagi reaktor riset maupun reaktor daya. Keahlian Rosatom ini dinilai sangat selaras dan relevan dengan kebutuhan riset serta pengembangan yang sedang digalakkan oleh BRIN.

Maman lebih lanjut menjelaskan bahwa sebagian besar riset yang saat ini tengah dikembangkan oleh BRIN memiliki keterkaitan langsung dan sinergis dengan teknologi yang dikuasai oleh TVEL Rosatom. Hal ini membuka peluang yang sangat besar untuk pengembangan bersama atau co-development. Melalui skema ini, teknologi canggih milik Rosatom dapat diadaptasi dan disesuaikan secara presisi dengan kondisi geografis, sumber daya, serta kebutuhan spesifik yang dihadapi oleh Indonesia. Namun, Maman juga menekankan poin krusial: pentingnya keterlibatan aktif para periset BRIN dalam setiap tahapan kerja sama ini. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penguasaan teknologi tidak sepenuhnya bergantung pada pihak eksternal, melainkan terbangun kemandirian dan kapabilitas riset nasional yang kuat.

Baca Juga :  Wagub Kepri Serahkan Bantuan Permakanan untuk LKSA Kota Batam

Sambutan Positif dan Potensi Jangka Panjang

Di sisi lain, Head of Foreign Business Development Group TVEL Rosatom, Stepan Kirillov, menyambut dengan sangat positif peluang kolaborasi yang ditawarkan oleh BRIN. Ia secara gamblang menyatakan kesiapan penuh Rosatom untuk memberikan dukungan penuh dalam upaya peningkatan kapasitas teknologi pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia. Stepan Kirillov memandang kerja sama ini sebagai sebuah kesempatan emas yang berpotensi signifikan dalam meningkatkan kemampuan teknis kedua negara, terutama dalam bidang pengolahan limbah radioaktif yang kompleks. Ia juga menekankan arti penting dari penyusunan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sebagai fondasi yang kokoh untuk memperkuat kemitraan strategis ini dalam jangka panjang.

Tantangan Mendesak dalam Pengelolaan Limbah Radioaktif

Dalam sesi pemaparan yang berlangsung, Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Limbah Radioaktif BRIN, Hendra Adhi Pratama, mempresentasikan gambaran mendesak mengenai kebutuhan yang krusial. Kebutuhan ini terkait erat dengan rencana penonaktifan dan dekontaminasi sejumlah fasilitas riset yang saat ini beroperasi di Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif BRIN. Ia mengungkapkan bahwa peningkatan volume limbah radioaktif juga menjadi isu yang semakin mendesak, terutama pascapenanganan kasus kontaminasi yang terjadi di Cikande. Kejadian ini secara signifikan menambah kompleksitas dan tantangan dalam upaya pengelolaan limbah radioaktif yang ada. Saat ini, sebagian dari limbah radioaktif tersebut masih belum dapat diolah secara optimal karena keterbatasan teknologi dan fasilitas yang tersedia.

Baca Juga :  Jejak Majapahit: Candi Planggatan Sang Prabu Brawijaya V

Lebih lanjut, Hendra Adhi Pratama menyoroti bahwa BRIN saat ini belum memiliki fasilitas terpadu yang memadai untuk mengelola limbah bahan bakar nuklir secara menyeluruh dari awal hingga akhir. Proses pengolahan dan reprocessing bahan bakar nuklir masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan yang intensif. Oleh karena itu, kolaborasi teknologi, terutama dengan mitra yang memiliki pengalaman dan kapabilitas terbukti seperti Rosatom, dinilai menjadi sebuah kebutuhan strategis yang tak terhindarkan untuk kemajuan Indonesia di bidang ini.

Kunjungan delegasi TVEL Rosatom ini kemudian ditutup dengan agenda yang sangat substantif, yaitu peninjauan langsung fasilitas pengelolaan limbah radioaktif milik BRIN. Peninjauan ini meliputi Gedung 50 dan Gedung 38 yang berlokasi di KST BJ Habibie, Serpong. Tujuannya adalah agar delegasi Rosatom dapat melihat secara langsung kondisi riil, potensi pengembangan, serta kesiapan fasilitas yang ada untuk mendukung potensi kerja sama teknologi di masa mendatang. Langkah ini menjadi bukti komitmen BRIN dalam mencari solusi inovatif dan kolaboratif untuk tantangan pengelolaan limbah radioaktif.